Senin, 28 Sep 2026 - 04:03 WIB
Klikpositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Home Pendidikan Kampus

Wisuda ke-72 PNP, Menaker: Lulusan Harus Adaptif Hadapi Perubahan Dunia Kerja

Riki Suardi
Minggu, 27 Sep 2026 | 12:51 WIB
Wisuda ke-72 PNP, Menaker: Lulusan Harus Adaptif Hadapi Perubahan Dunia Kerja

Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Prof. Yassierli, S.T., M.T., Ph.D., menyampaikan orasi ilmiah saat acara wisuda ke 72 PNP yang digelar di Gedung PKM Kampus PNP< Sabtu (26/9/2026).

Share on FacebookShare on Twitter

PADANG, KLIKPOSITIF — Politeknik Negeri Padang (PNP) mewisuda sebanyak 1.695 wisudawan dan wisudawati pada Wisuda ke-72 PNP di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) PNP, Sabtu (26/9/2026).

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Republik Indonesia, Prof. Yassierli, S.T., M.T., Ph.D., turut hadir dan memberikan orasi ilmiah mengenai tantangan serta peluang lulusan memasuki dunia kerja yang terus berubah.

Direktur PNP Revalin Herdianto, ST., M.Sc., Ph.D dalam sambutannya mengatakan bahwa pada wisuda kali ini, PNP mencatat perkembangan menarik. Dari 1.695 wisudawan, 193 orang telah bekerja sebelum mengikuti wisuda. ‎

‎Rinciannya, sebanyak 39 orang bekerja di PT Liugong Machinery Manufacturing Indonesia, 18 orang di lingkungan Kemendikdasmen Sumatera Barat, 10 orang di PT Team Metal Indonesia (TMI), dan 10 orang di PT Rakindo Utama.‎

‎Kemudian yang lebih membanggakan, sebanyak enam wisudawan telah bekerja di Hungaria dan satu orang di Republik Ceko. Meski demikian, Revalin menilai capaian tersebut masih menjadi ruang evaluasi bagi PNP sebagai perguruan tinggi vokasi.‎

‎“Bagi sebuah politeknik, angka ini belum cukup menggembirakan. Karena, ‎masih belum mampu ‎memenuhi ekspektasi para orang tua yang menitipkan ‎putra-putri mereka disini, dan belum memenuhi mandat ‎yang dititipkan oleh Kemdiktisaintek kepada PNP. Artinya, Masih ada pekerjaan rumah yang harus kami selesaikan,” ujarnya.

Sementara itu, Menaker Yassierli dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Menjadi Talenta Adaptif di Dunia Kerja yang Terus Berubah”, mengingatkan para wisudawan PNP tentang perubahan dunia kerja yang jauh lebih cepat dibandingkan beberapa dekade sebelumnya.

Perubahan tersebut, kata dia, dipengaruhi oleh berbagai faktor global, terutama perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI, digitalisasi, ekonomi hijau, serta perubahan demografi dan kebutuhan terhadap layanan perawatan (care economy).

“Dunia kerja berubah dengan sangat cepat. Lima tahun saja perubahannya sudah sangat drastis. Dunia kerja sekarang berbeda dengan dunia kerja 20 atau 30 tahun yang lalu,” kata Yassierli yang merupakan putra Minang asal Air Tawar, Kota Padang.

Ia menyebut sedikitnya terdapat sejumlah global drivers yang mendorong perubahan besar dalam tatanan dunia kerja. Salah satunya adalah perkembangan AI dan digitalisasi yang semakin masuk ke berbagai sektor pekerjaan.

Menurut Yassierli, perkembangan teknologi tidak hanya mengubah cara perusahaan bekerja, tetapi juga memunculkan jenis pekerjaan baru sekaligus mengurangi kebutuhan terhadap sejumlah pekerjaan yang sebelumnya banyak tersedia.

Ia mencontohkan pekerjaan administratif, data entry, hingga teller yang secara bertahap terdampak perkembangan teknologi dan otomatisasi. “Banyak pekerjaan yang dulu ada, sekarang hilang. Sebaliknya, ada pekerjaan yang dulu tidak ada, sekarang muncul. Ini penting untuk kita baca,” ujarnya.

Peluang di Tengah Ancaman

Meski perubahan teknologi berpotensi menghilangkan sejumlah pekerjaan, Yassierli menegaskan kondisi tersebut tidak semestinya hanya dipandang sebagai ancaman. Menurut dia, di balik perubahan tersebut terdapat peluang besar bagi tenaga kerja yang mampu membaca kebutuhan pasar dan meningkatkan kompetensinya.

Alumni SMA 1 Padang itu mencontohkan perkembangan ekonomi digital yang melahirkan berbagai profesi baru. Salah satunya adalah affiliate marketing yang dalam beberapa tahun terakhir berkembang melalui berbagai platform digital.

“Lima tahun lalu mungkin kita belum mengenal affiliate marketing, tetapi sekarang muncul di TikTok, Shopee, dan berbagai platform lainnya. Ada yang penghasilannya sampai Rp20 juta per bulan, bahkan lebih, tergantung ketekunan dan kepiawaiannya,” katanya.

Peluang serupa, kata dia melanjutkan, juga muncul melalui perkembangan ekonomi hijau atau green economy. Ia mencontohkan salah seorang lulusan pelatihan vokasi Kementerian Ketenagakerjaan di Medan yang mengikuti pelatihan reparasi AC dengan skema sertifikasi hijau.

Setelah menyelesaikan pelatihan selama dua bulan, peserta tersebut membuka usaha reparasi AC. Usaha itu kemudian berkembang hingga mampu mempekerjakan 19 orang. “Ini peluang. Artinya, ketika kita melihat perubahan dan mampu mengambil peluangnya, perubahan tersebut justru bisa menciptakan pekerjaan,” ujarnya.

Selain ekonomi digital dan ekonomi hijau, pada kesempatan itu Yassierli juga menyampaikan bahwa perubahan demografi juga menciptakan kebutuhan tenaga kerja baru, terutama pada sektor kesehatan dan layanan perawatan.

Yassierli mencontohkan kondisi Jepang yang menghadapi peningkatan jumlah penduduk lanjut usia. Dengan meningkatnya angka harapan hidup, kebutuhan terhadap tenaga kerja di bidang health and care juga semakin besar.

“Jepang membutuhkan sekitar 800 ribu tenaga kerja baru dan sebagian besar dibutuhkan pada sektor health and care. Menurut saya, kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan demografi di suatu negara dapat menjadi peluang bagi tenaga kerja dari negara lain, termasuk Indonesia,” katanya.

Ijazah Tidak Cukup

Di tengah perubahan tersebut, guru besar Fakultas Teknologi ITB itu juga mengingatkan para lulusan PNP agar tidak hanya mengandalkan ijazah ketika memasuki pasar kerja. Sebab, sekarang ini telah terjadi pergeseran dalam pola rekrutmen tenaga kerja.

“Industri kini semakin memperhatikan keterampilan atau skill yang dimiliki dan dapat dibuktikan oleh calon pekerja. Sekarang yang ditanya industri bukan hanya kamu sudah lulus atau belum, tetapi kamu bisa apa?” katanya.

Menurut Yassierli, perusahaan saat ini semakin banyak menerapkan rekrutmen berbasis kompetensi. Karena itu, lulusan perguruan tinggi perlu memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan industri serta mampu menunjukkan bukti atas kompetensi tersebut.

Salah satu cara untuk memperkuat kompetensi tersebut adalah melalui sertifikasi. Karena, data menunjukkan bahwa sebanyak 96 persen perusahaan mengakui sertifikasi kompetensi dapat memperkuat profil kandidat dalam proses rekrutmen.

Baca Juga

Screenshot soal informasi dugaan penggalian kabel Telkom di Pessel malam (Tiktok)

Dugaan Pencurian Kabel Diselidiki, Polres Pessel: Sudah Ditelusuri di Sejumlah Titik

Minggu, 27 Sep 2026 | 20:23 WIB

Resmikan Musala Babussalam di Gunung Sarik, Maigus Nasir Ajak Pengurus Hidupkan Program Smart Surau

Minggu, 27 Sep 2026 | 19:09 WIB

Kemudian, 94 persen perusahaan disebut bersedia memberikan gaji lebih besar apabila kompetensi yang dimiliki calon pekerja dapat dibuktikan. “Pasar kerja menilai apa yang bisa dibuktikan, bukan hanya gelar yang dimiliki. Karena itu, salah satu yang harus dimiliki, diraih, dan dikumpulkan adalah sertifikasi,” ujarnya.

AI Jadi Kompetensi Tambahan

Perkembangan AI juga menjadi perhatian khusus Yassierli. Menurutnya, kemampuan menggunakan AI akan semakin penting bagi tenaga kerja di masa mendatang. Ia pun menegaskan kemampuan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi lulusan teknik informatika atau program studi yang berkaitan langsung dengan komputer.

“Kalau saya bukan orang teknik informatika atau bukan dari program studi komputer, apakah tidak bisa belajar AI? Tidak masalah. Banyak orang belajar AI secara mandiri, dengan teman-temannya, mengambil kursus sendiri, dan ternyata banyak yang berhasil,” katanya.

Karena itu, ia meminta para lulusan PNP tidak membatasi diri hanya pada ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan formal. Menurutnya, perubahan kebutuhan industri membuat seseorang perlu terus belajar dan menambah keterampilan baru di luar kompetensi utama yang telah dimiliki.

“Saat ini, data menunjukkan hampir 70 persen pemimpin perusahaan di Indonesia menginginkan tenaga kerja yang memiliki kemampuan AI sebagai salah satu kompetensi tambahan. Makanya, kepada para wisudawan maupun mahasiswa PNP, teruslah tambah keterampilan lain seperti AI,” ujarnya.

Selain kemampuan teknis, Yassierli menilai keterampilan manusia atau human skills juga semakin penting. Kemampuan seperti mengelola orang, berkomunikasi, dan membangun hubungan dengan pemangku kepentingan menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan perusahaan.

“Skill yang dulu mungkin dianggap hanya untuk level senior, seperti people management dan stakeholder management, sekarang mulai diharapkan industri dimiliki tenaga kerja sejak awal,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Yassierli juga menyoroti perubahan pola kerja yang semakin fleksibel. Pekerjaan jarak jauh atau remote work kini memungkinkan seseorang bekerja untuk perusahaan yang berada di negara lain tanpa harus berpindah tempat tinggal.

Ia mencontohkan sejumlah orang yang tinggal di Indonesia tetapi bekerja untuk perusahaan di Amerika Serikat. “Banyak hal sekarang bisa dilakukan secara remote. Saya punya teman yang tinggal di Jawa Tengah, tetapi kantornya berada di Amerika. Ini menunjukkan pasar kerja semakin terbuka,” katanya.

Selain remote work, pekerjaan lepas atau freelance juga menjadi salah satu tren yang berkembang. Sebagian pekerja, khususnya generasi muda, mulai memilih pola kerja yang lebih fleksibel dan tidak selalu terikat kontrak jangka panjang.

Perubahan pola kerja tersebut, menurut Yassierli, menjadi bagian dari dinamika pasar kerja yang harus dipahami oleh para lulusan. “Semua yang saya sampaikan adalah potret yang sedang berjalan. Kita harus terbuka. Mau tidak mau, kita harus masuk ke pasar kerja ini,” katanya.

Pasar Kerja Semakin Global

Yassierli juga mengingatkan bahwa persaingan dan peluang kerja tidak lagi terbatas pada pasar domestik. Perusahaan dan tenaga kerja kini berada dalam pasar yang semakin global. Maka dari itu, Ia mengapresiasi PNP yang telah memiliki lulusan yang mampu memasuki pasar kerja internasional, termasuk di Hungaria dan Ceko.

Menurutnya, peluang tersebut perlu terus dikembangkan karena kebutuhan tenaga kerja di berbagai negara dapat menjadi kesempatan bagi lulusan pendidikan vokasi Indonesia. Namun, untuk dapat bersaing di pasar kerja global, lulusan perlu memiliki kompetensi tambahan, salah satunya kemampuan berbahasa Inggris.

“Pasar kerja semakin global. Karena itu, minimal harus bisa bahasa Inggris. Semangat belajar harus terus ditingkatkan,” tuturnya.

Wisuda Bukan Akhir Perjalanan

Diakhir orasi ilmiahnya, Yassierli mengingatkan semua wisudawan PNP bahwa kelulusan dari perguruan tinggi bukan merupakan akhir dari proses belajar. Menurutnya, dunia kerja akan terus berubah sehingga kemampuan untuk belajar dan beradaptasi menjadi modal penting bagi setiap lulusan.

Ia menyinggung potensi terciptanya sekitar 170 juta pekerjaan baru hingga 2030. Dan, Indonesia harus mampu menyiapkan talenta yang sesuai agar peluang tersebut dapat diisi oleh tenaga kerja Indonesia.

“Jangan sampai 170 juta pekerjaan baru yang akan tercipta pada 2030, tetapi talenta dari Indonesia tidak ada. Kemudian diisi oleh China, India, Singapura dan seterusnya,” katanya.

Karena itu, ia mendorong para wisudawan untuk terus meningkatkan kompetensi, mengikuti perkembangan teknologi, serta terbuka terhadap bidang-bidang pekerjaan baru. “Wisuda bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari pengabdian,” pungkas Yassierli.(*)

Berita Lainnya

Screenshot soal informasi dugaan penggalian kabel Telkom di Pessel malam (Tiktok)

Dugaan Pencurian Kabel Diselidiki, Polres Pessel: Sudah Ditelusuri di Sejumlah Titik

Minggu, 27 Sep 2026 | 20:23 WIB

Resmikan Musala Babussalam di Gunung Sarik, Maigus Nasir Ajak Pengurus Hidupkan Program Smart Surau

Minggu, 27 Sep 2026 | 19:09 WIB

Maigus Nasir Apresiasi Lomba Basurah Adat Bawah Payuang, Adat Tetap Harus Dipertahankan!

Minggu, 27 Sep 2026 | 19:07 WIB

Kabut Asap dan Tantangan Belajar Anak: Perspektif Psikologi Pendidikan

Minggu, 27 Sep 2026 | 16:46 WIB
Selanjutnya

Cerita yang Melaju Bersama Malam

Tinggalkan komentar
Classy FM

Informasi

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Kategori

  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara

Networks

  • 🌎 KlikPositif
  • 🌎 KataSumbar
  • 🌎 Classy FM
  • 🌎 Classy Production
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

© 2022 Klikpositif - Media Generasi Positif by Classy Corp.

Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara