Travel akan menjemputku setengah jam lagi. Istri dan anak-anak sudah pulang dua hari yang lalu. Aku harus segera menyusul, lebaran tinggal menghitung hari. Kata mertuaku, tidak ada alasan untuk kami tidak pulang, hanya sekali setahun berkumpul dengan keluarga.
Aku ikut senang pulang ke kampung istri, bisa bertemu dengan mertua dan beberapa teman di sana. Namun, cerita-cerita sopir selama perjalanan mengusik pikiranku. Teringat-ingat, terbayang-bayang kesedihan demi kesedihan yang mereka alami.
Sopir terus menancap gas pada malam yang berkabut itu. Perjalanan yang jauh, melewati kota kabupaten, desa yang rumahnya jarang-jarang di sepanjang tepi sungai yang rawan banjir di kala musim hujan. Hampar kebun sawit berpacu tumbuh dengan pohon karet dan pinang.
***
Awalnya aku sudah tertidur, sopir mengutuk-ngutuk perihal kondisi jalan yang rusak dan tidak pernah diperbaiki pemerintah, sumpah serapahnya itu membuat aku terbangun. Aku melihat ke kiri, kaca jendela memutih karena embun malam. Perjalanan dini hari yang sepi dan mendebarkan.
Telepon genggam sopir berbunyi, ia menarik napas panjang, sembari mengelakkan lobang. Setelah jalan datar dan lurus, sopir itu menelepon balik seseorang yang telah menghubunginya beberapa menit yang lalu.
“Sakit, Bang. Semakin hari semakin sakit perut ini.” Terdengar sayup-sayup percakapan lewat telepon pintar sopir itu. Suasana hening membantuku mendengar percakapan mereka dengan jelas.
“Sabar. Ada bayi yang sehat di dalam perut tentu ia bergerak-gerak dan membuat sedikit sakit.” Terdengar sopir mencoba menenangkan.
Akhirnya aku tahu, seseorang yang menelepon itu adalah istrinya yang tengah hamil. Tapi mengapa tega seorang suami meninggalkan istri yang tengah hamil di rumah?
“Saya tidak sanggup lagi, Bang.” Terdengar isak tangis. Percakapan semakin tidak menentu, sopir menjadi gelisah. Beberapa menit kemudian telepon terputus, sopir menginjak gas lebih dalam dibandingkan sebelumnya. Mobil melaju dengan kencangnya.
Aku membatin sembari membaca doa.
“Istrinya, Bang?” Tanyaku memastikan. Sopir itu terkejut dan sejenak menoleh ke arahku. “Iya, Pak. Istri saya lagi hamil. Kata dokter tinggal menghitung hari lagi akan melahirkan. Ia sering mengeluh kesakitan.” Sopir menjawab dengan suara yang berat.
“Istri yang tangguh.”
“Terkadang keadaan memaksa istri saya kuat hingga sampai di detik ini, Pak.”
“Bukannya kalau sudah hamil tua dilarang suami bekerja di luar rumah. Apalagi bepergian jauh, Bang?” Aku teringat pesan yang dikatakan ibuku saat istriku mengandung anak pertama kami.
“Seharusnya begitu, Pak. Tapi saya harus mencari uang untuk biaya persalinannya nanti. Kalau tidak mengambil tarikan sehari saja akan ada sopir baru yang akan menggantikan posisi saya.” Sopir menumpahkan keluh-kesahnya. Ia tak berdaya.
“Istrinya tinggal bersama mertua?”
“Tinggal sendiri, Pak. Kami mengontrak sejak menikah dan memilih berpisah dengan mertua.”
Hening. Kami saling diam. Deru mobil mendaki menghentakkan dadaku yang bergetar hebat. Di arah berlawanan lampu mobil memancar seperti mercusuar. Dini hari itu mataku tidak mau terlelap. Aku membayangkan, akulah seorang sopir itu, yang istri sedang hamil tua, tinggal menghitung beberapa hari lagi akan melahirkan. Bagaimana jika tiba-tiba istriku melahirkan saat aku tidak di rumah?
***
Lebaran selama seminggu di kampung istri terasa menjenuhkan. Pikiranku seolah-olah sudah kembali ke kota di mana aku melakukan banyak hal, seperti mendesain spanduk, mendesain plakat, mendesain plang nama, dan banyak lagi desain yang terus menumpuk di kepalaku.
Kami pesan travel keberangkatan pagi, sesuai permintaan istriku. Aku ikut saja, perjalanan malam atau pagi sama saja. Jauh dan menakutkan.
Pagi itu mendung, awan hitam tebal bergelantung di langit, petanda hujan sebentar lagi akan turun. Aini, anak pertama tenang dipangkuanku. Istriku menggendong Bayu, anak kedua kami yang baru berumur satu tahun. Kala itu penumpang penuh dan bersempit-sempitan. Aroma bau keringat para penumpang membuat kepalaku pusing.
Sopir memutar tembang kenangan. Sopirnya muda, ditakar berusia dua puluh tiga tahun. Telepon genggam sopir itu berbunyi, “Iya, saya sudah jalan, Bang. Abang sudah di mana?”
“Ban mobil saya pecah karena masuk lobang,” jawab lawan bicara sopir tersebut.
“Saya putar arah dan bantu dulu, Bang?” Sopir itu menawarkan pertolongan pada temannya.
“Tidak mengapa. Kamu lanjut saja!”
Percakapan lewat telepon genggam terputus. “Kami biasanya selalu bersamaan berangkat, Pak. Saling membantu jika terjadi apa-apa selama perjalanan.” Sopir itu mengajak saya berbicara.
“Bagus sekali,” jawabku kagum dengan jiwa sosial antar sopir. Jarang aku menemukan sopir yang saling peduli dengan temannya.
“Bapak di Pekanbaru turun di mana?” Sopir itu terus mengajakku berbicara. Ia terlihat ramah dan santun.
“Kami turun di belakang Pasar Senapelan.”
“Baik, Pak. Sebentar, ada telepon masuk.”
“Iya, bersabar dulu, Dek. Abang akan usahakan mencari uang hantaran itu secepatnya.” Sopir muda itu mengurangi kecepatan mobil. Ia terlihat berhati-hati berbicara dengan lawan bicaranya.
“Jika datang orang lain melamar saya bagaimana, Bang? Bapak sudah berapa kali menanyakan kapan Abang akan datang ke rumah.” Suara wanita di seberang sana terdengar mengiba. Tidak lama kemudian ia terisak-isak. Sopir muda itu kehilangan akal untuk menenangkan calon istrinya itu.
“Jika teleponnya penting, silakan ditepikan dulu mobilnya!” Aku tidak tega dengan sopir muda itu. Ia tidak bisa lagi konsentrasi membawa mobil. Matanya berkaca-kaca. Ada beban besar yang telah menghimpit pundaknya.
“Tidak apa-apa, Pak. Kita lanjut saja.” Sopir itu terlihat sungkan untuk menghentikan mobilnya. Ia mencoba untuk profesional, mengenyampingkan persoalan pribadi, menjalani tugasnya sebagai sopir travel.
Telepon terputus. Sopir muda itu tidak berbicara lagi. Semangat hidupnya seketika hilang. Ia memandang lurus ke depan, menyalip truk, mengelakkan lobang dan menekan gas sedalam-dalamnya. Aku menjadi cemas. Aku peluk erat-erat anakku, Aini.
“Terkendala uang hantaran, Bang?”
“Iya, Pak. Uangnya belum cukup terkumpul, tapi pihak keluarga calon istri sudah mendesak.”
“Bukannya menyegerakan menikah itu baik. Mahar terbaik adalah mahar yang paling mudah untuk dipenuhi dan berkah bagi seorang wanita sehingga tidak ada yang terbebani.”
Sopir muda itu terdiam, ia mengangguk kecil tanpa menoleh. Aku pandangi sopir muda itu dari samping, terlihat raut wajahnya, lehernya, kumisnya yang tumbuh jarang-jarang, dan dadanya yang atletis. Semakin aku mengamati sopir muda itu, seumpama akulah sopir muda itu.
***
Istri dan kedua anakku pulang ke kampung mertua. Aku tidak bisa ikut mendampingi mereka karena harus menyelesaikan kerja yang sudah menumpuk. Banyak pelanggan sudah menagih berulang kali. Yang bisa desain di tempat aku kerja hanya dua orang. Jadi jika salah satu libur di antara kami, pekerjaan akan segera mengular panjang.
Aku lepas istri dan kedua anakku pukul tujuh pagi. Aku segera mandi, sebab harus sampai ke tempat kerja pukul delapan. Lima menit berlalu, terdengar teriakan istri dari luar. Pintu dibuka.
“Kenapa kembali lagi?” Aku terkejut kenapa istriku kembali lagi.
“Ada selendang titipan ibu lupa dibawa,” istriku bergegas masuk kamar dan mengambil selendangnya yang tetringgal di atas meja.
Aku terperangah dan gelisah. “Kenapa harus dijemput lagi? Pesan dari ibu dilarang kembali untuk mengambil barang yang sudah ketinggalan. Pamali. Seperti tidak ada hari esok saja.” Tapi istriku tidak memedulikan perkataanku. Aku hanya berbicara kepada tembok atau kaca jendela.
“Aku pamit, sopir sudah menunggu.” Istriku berlalu dan masuk ke dalam mobil. Aku melepas kepergian istriku untuk kedua kalinya hingga mobil travel itu hilang di ujung jalan.
***
Aku menyelesaiakan semua desain yang telah menumpuk. Setelah pukul lima sore, aku mengajukan izin cuti kepada atasan beberapa hari ke depan. Dengan baik hati atasan memberiku izin cuti.
Aku pesan travel keberangkatan malam. Aku sudah menghubungi telepon genggam istri beberapa kali, tidak diangkat. Aku kirim pesan juga tidak dibalas.
Selepas magrib sopir menghubungi untuk penjemputan. Aku bergegas mempersiapkan semua perlengkapan selama di kampung istri. Aku tadi siang juga menyempatkan membelikan hadiah untuk bapak mertua, sudah lama aku tidak memberinya hadiah.
Travel sudah di depan rumah. Aku segera masuk mobil dan duduk di samping sopir seperti setiap perjalanan yang dilakukan sebelumnya. Sopir menekan gas, melaju meninggalkan rumahku.
Perjalanan seperti biasa, menakutkan. Aku terlelap, kondisi tubuh capek karena beberapa hari belakangan desain menumpuk menguras pikiran dan tenaga. Aku tidak lagi sanggup melayani percakapan dari sopir travel. Aku terlelap.
Ketika di tempat pemberhentian, sopir istirahat sejenak. Kala itu, aku terus berusaha menelepon istriku. Tetap tidak ada jawaban sama sekali.
Sopir melanjutkan perjalanan. Tancap gas, meliuk-liuk di jalan. Dua belas jam perjalanan yang menegangkan.
Sopir membangunkanku bahwa sudah sampai. Aku terheran. Kenapa orang begitu ramai di rumah mertuaku? Tenda terpasang di luar. Aku bergegas turun. Istri dan anak-anakku membenamkan diri ke dalam pelukanku. Ia menangis tanpa suara. Air matanya membasahi bajuku. Aku mengusap kepalanya. Lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
Aku dapati mertua perempuanku terbujur kaku di ruang tengah. Aku terpaku. Lidahku kelu seolah terkunci dari dalam. Kepulangan yang berbeda dari sebelumnya. (*)
Redovan Jamil, mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Riau. Bergiat di Komunitas Paragraf Pekanbaru dan Arengkaisme. Beberapa kali diundang sebagai narasumber diskusi sastra, pendidikan, dan literasi. Terpilih menjadi Penggiat Literasi 2019 dan diundang Residensi Penggiat Literasi di Yogyakarta. Suka menulis puisi, cerpen, esai, dan artikel sastra. Karya puisi tunggalnya, Abun-abun yang Abrak, 2018 dan Dari Jauh ke Pasar Jongkok, 2019. Pemenang I Lomba Cerita Pendek diselenggarakan UPTD TAMBUD Sumatera Barat, 2020. Juara 3 Lomba Menulis Puisi Sejarah diselenggarakan Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat, 2020. Pemenang Harapan 1 Lomba Menulis untuk Relawan Literasi Tingkat Nasional diselenggaran Dompet Dhuafa, 2020. Pemenang Sayembara Menulis Sedunia “Jalur Rempah & Sejarah Kemaritiman Dunia” yang diselenggarankan Wangsamudra BPCB Jambi, 2021. Pemenang 3 Menulis Puisi Melayu Modern Festival Sastra Melayu Riau tahun 2023 diselenggarakan Rumah Kreatif Suku Seni Riau. Penerima Apresiasi Satu Indonesia Award tahun 2023 Tingkat Provinsi Riau. Juara 1 Kategori Puisi Kegiatan Riau Writers & Cultural Festival yang diadakan Komunitas Riau Sastra Se-provinsi Riau, 2024. Juara 1 Kategori Cerpen Festival Sastra Sungai Jantan (Siak) Se-provinsi Riau, 2024. Karya pernah dimuat di Media Tempo, Jawa Pos, Republika, Merapi, Riau Pos, Haluan Padang, Tanjungpinang Pos, Medan Pos, Singgalang, Radar Cirebon, Magelang Ekspres, Palembang Ekspres, Rakyat Sumbar, simalaba.com, ide-ide.com, becid.id, janang.id, marewai.com dan beberapa media cetak dan online lainnya. Bisa dihubungi ke nomor 081213957352 (WA), email [email protected], IG @redovan_jamil, Facebook atas nama Redovan Jamil, dan blog redovanjamil1.wordpress.com.













