Minggu, 25 Okt 2026 - 14:55 WIB
Klikpositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Home Cerpen Kato

Di Stasiun Lempuyangan

Oleh: Risen Dhawuh Abdullah

Andika
Minggu, 25 Okt 2026 | 09:21 WIB
Share on FacebookShare on Twitter
promo hayati padang agustus

Menjelang memasuki Stasiun Lempuyangan, kecepatan kereta api perlahan kukurangi, hingga benar-benar berhenti di jalur dua. Seperti biasa, aku keluar dari kabin lokomotif dan langsung menghampiri perempuan tua yang sudah berdiri di peron jalur dua. Ia berdiri tepat di dekat gerbong nomor dua dan menunjukkan tiketnya kepadaku. Setelah melihat tiket itu, perlahan kubimbing ia masuk ke dalam gerbong. Usia perempuan tua itu kira-kira tujuh puluhan tahun. Menurut tiketnya, ia duduk di kursi nomor dua dari belakang di sayap kiri. Dekat dengan jendela.

Tentu bukan tugasku mengecek tiket penumpang dan menunjukkan tempat duduknya. Namun, itulah kenyataannya setiap aku sampai di Stasiun Lempuyangan. Aku selalu membantu perempuan tua yang selalu sudah berdiri di peron jalur dua. Kami sesungguhnya tidak pernah benar-benar saling kenal. Aku tidak mengetahui namanya, ia tahu namaku hanya dari pin yang terpasang di dadaku sebelah kanan. Kami tidak pernah benar-benar saling memperkenalkan diri. Ketika keinginan itu timbul dalam diriku, mulutku selalu terkatup tak berdaya. Atau aku yang lupa sehingga keinginan itu tidak terwujudkan.

Begitulah. Pertemuan demi pertemuan terjadi dan hal itu seolah sebuah kewajaran—kami tidak saling benar-benar kenal. Setiap kereta yang kudinasi tiba di Stasiun Lempuyangan, selalu ada perempuan tua yang naik keretaku. Tidak peduli aku berdinas kereta tujuan mana. Hari ini aku membawa kereta api Logawa, relasi Purwokerto-Ketapang. Dulu relasi kereta ini hanya berakhir di Jember. Sempat berganti rangkaian baru, tersebab diperpanjang rutenya dan terkendala di Terowongan Garahan, rangkaian berganti kembali ke rangkaian yang lama.

“Mau ke mana, Nek?” tanyaku, saat itu. Kala itu, pertemuan keduaku dengannya. Sebelum masuk ke dalam rangkaian kereta, ia berdiri di jalur dua, menunggu kereta api Singasari.

“Ke Madiun, menengok saudara,” jawabnya.

Selalu jawabannya sama ketika kutanya. Kalau ia naik dari Stasiun Madiun, ia mengaku sudah menengok saudaranya dan akan pulang. Akal sehatku bertanya-tanya, apa yang membuat perempuan tua itu menengok saudaranya begitu sering? Pernah kutanya apakah saudaranya sakit, perempuan tua itu menjawab kalau saudaranya baik-baik saja. Anehnya, seperti saat keinginan menanyakan namanya muncul, mulutku selalu terkatup. Ada perasaan sejenis tidak enak yang menyelimuti secara mendadak. Padahal aku hanya hendak bertanya, apa yang membuatnya sering mengunjungi saudaranya. Sungguh, aku juga tidak tahu mengapa selalu begini. Dan aku tidak pernah punya jawaban yang benar-benar pasti.

Aneh. Tidak logis. Hal itu sering membuatku merasa ada jarak yang tidak terjelaskan di antara kami.  Inilah kenyataannya. Selalu saja, perempuan tua itu ada di peron jalur dua Stasiun Lempuyangan, saat kereta api yang kubawa berhenti di sana. Tidak akan bertemu dengan perempuan tua itu, jika aku mengemudikan kereta api yang tidak berhenti di Stasiun Lempuyangan alias berhenti di Stasiun Tugu.

Kami tidak pernah bercakap secara lebih jauh. Pertemuan yang terjadi selama ini terlalu dan selalu singkat. Hanya sebatas di peron hingga di dalam rangkaian. Satu-satunya percakapan yang lumayan panjang adalah terjadi di tempat duduk atau tempat tunggu para calon penumpang. Itu terjadi di pertemuan yang pertama. Selesai dinas kereta api Gajah Wong, aku turun dan melihatnya membawa koper yang besar. Meskipun koper, ia tampak kerepotan. Aku menghampirinya dan membantu. Ia meminta istirahat sejenak di area tunggu. Aku tidak ingat, pertemuan itu terjadi hari apa.

“Masnya belum menikah, ya?” tanyanya.

“Belum, Nek,” Jawabku, sembari tersenyum malu.

“Sudah kuduga.”

Baca Juga

Sepasang Bola Mata, Suatu Pagi

Minggu, 11 Okt 2026 | 08:21 WIB

Cerita yang Melaju Bersama Malam

Minggu, 27 Sep 2026 | 12:59 WIB

“Kok bisa menduga seperti itu? Seperti sudah tahu,” ujarku.

“Ya, menduga saja. Mau dengan cucu nenek? Tapi dia sudah tidak ada, sih. Ini hanya seandainya masih ada, kamu bisa nenek jodohkan dengan dia. Dia seumuran kamu.”

Ucapan yang tidak kuduga. Aku merinding saat itu. Candaan yang begitu gelap. Tapi ia bisa mencairkan suasana dengan percakapan-percakapan topik yang lain. Seperginya perempuan tua itu, ada pertanyaan yang mendekam di hati. Soal pertanyaannya kepadaku mengenai aku yang belum menikah. Aku merasa ia tahu sebelumnya tentang hal itu. Hanya saja, darimana ia bisa tahu, aku juga tidak menemukan jawabannya. Sampai saat ini, masih ada kesan misterius di dirinya. Mungkin kesan itu ada karena kami tidak pernah berkenalan.

Pada akhirnya aku menikmati saja momen pertemuan yang terjadi antara aku dan perempuan tua itu. Turun dari lokomotif, menghampirinya, dan membantunya masuk ke dalam rangkaian serta menuju tempat duduk yang tertera sesuai di dalam tiketnya. Selalu ada senyuman darinya dan ia selalu berkata, meminta tolong padaku. Apakah perempuan tua itu buta huruf? Aku rasa tidak, aku selalu menganggap ia seperti penumpang yang kebingungan lainnya. Mempunyai inisiatif untuk bertanya.

Meski telah kusampaikan kalau aku sering merasa ada jarak dengannya, tetapi juga aku merasa mempunyai kedekatan dengannya. Keduanya saling berkelindan. Pernah pula di satu titik tertentu ia kuanggap sebagai ibuku. Kalau dipikir-pikir secara postur tubuh dan cara bertuturnya memang mirip juga. Di satu titik yang lain, aku pernah berspekulasi kalau perempuan tua itu ke Madiun menjenguk saudaranya dalam arti ziarah. Aku menghubung-hubungan Madiun dengan Peristiwa 1948 yang terjadi di sana. Saudara perempuan tua itu tewas dalam peristiwa itu. Sehingga membuat perempuan tua itu merasa kehilangan dan terus berziarah, tidak lain bentuk ketidakrelaannya. Terkesan seperti cerita-cerita fiksi spekulasiku. Aku tetap tidak tahu, mengenai sebenarnya yang terjadi.

Seperti yang sudah kukatakan, aku menikmati saja pertemuan demi pertemuan. Teman-temanku awalnya juga tidak begitu memperhatikan apa yang kulakukan setelah turun dari lokomotif. Nyaris tidak ada yang peduli. Hingga beberapa minggu kemudian, salah seorang temanku yang bekerja sebagai pramugari bertanya kepadaku, menanyakan siapa perempuan tua itu. Ia ternyata sudah lama memperhatikanku. Saat pertanyaan itu ditujukan padaku, secara kebetulan ia juga dinas kereta yang kubawa.

“Aku juga tidak tahu,” kataku.

“Bagaimana mungkin? Atau kau sedang menyembunyikan sesuatu, ya?” tanyanya. Matanya menatapku penuh curiga.

“Aku tidak menyembunyikan apa-apa.”

“Katakan ada apa? Kalau tidak tahu, kau tidak akan terus-terusan membantunya.”

“Aku memang tidak tahu. Siapa dia, darimana asalnya, aku tidak tahu. Kenyataannya begitu. Apa perlu aku berbohong?”

“Kau sedang berbohong!”

“Justru aku sedang mengatakan apa adanya.”

Temanku tidak percaya. Ya, seperti yang sudah kuprediksi. Tidak akan percaya dengan penjelasanku. Aku juga bingung, cara meyakinkannya. Setelah itu, temanku sulit dihubungi. Situasi yang sama sekali tidak pernah kuharapkan, dihadapkan pada sesuatu yang tidak jelas. Apesnya ketika aku berniat mencari kejelasan, selalu saja bungkam. Aku juga tidak tahu. Aku sedang tidak mengada-ada.

Sekarang ini, semakin tidak masuk akal. Aku justru takut jika perempuan tua itu tidak lagi naik kereta api. Aku tidak akan lagi berjumpa, aku tidak bisa lagi membantunya. Pagi ini, pukul 09.30 kereta api Logawa yang kudinasi berhenti di Stasiun Lempuyangan. Cepat-cepat aku turun dari lokomotif. Perempuan tua itu berdiri di peron jalur dua. Tidak ada ucapan apa-apa darinya. Aku langsung mengambil tiket yang digenggamnya. Di dalam gerbong, tanpa alasan yang jelas semacam ketakutan datang menyelimutiku.

Ketakutan itu ternyata benar-benar terjadi. Pagi itu pertemuanku yang terakhir dengannya. Aku tidak lagi pernah menjumpainya berdiri di peron jalur dua, menunggu kereta api. Aku sampai bertanya ke orang-orang, termasuk semua petugas yang sedang bekerja di Stasiun Lempuyangan. Tidak ada yang melihat perempuan tua itu. Aku mencoba menenteramkan hatiku, barangkali memang ia sedang tidak ingin pergi ke Madiun.

Hari berikutnya, perempuan tua itu tidak tampak. Hingga hari berganti hari, ia tidak ada di peron jalur dua. Pertemuan-pertemuan yang terjadi selama ini, terputus begitu saja, tanpa upacara perpisahan yang berarti. Aku masih tidak percaya bahwa ini harus terjadi, tidak lagi berjumpa perempuan tua itu. Seakan-akan yang terjadi selama ini hanyalah mimpi yang seolah kenyataan. Diam-diam aku merindukannya. Ke mana perempuan tua itu? Mengapa aku begitu kehilangan seperti ini? Apa yang sebenarnya ia mau? Jangan-jangan aku telah bertindak sesuatu yang tidak kusengaja mengecewakannya, sehingga ia pergi?

Ingatan tentang perempuan tua itu tidak kunjung hilang. Berhari-hari. Suatu ketika aku duduk sendirian di tempat tunggu stasiun. Malam sebelumnya aku bermimpi. Aku dan ibuku mengobrol di ruang tidurku. Kami banyak bercakap-cakap, hingga ia menyarankanku untuk segera menikah. Rasa rindu kepada ibu melebat setelah mimpi itu. Aku seperti memperoleh jawaban dari segala kecamuk pertanyaan yang berkaitan dengan perempuan tua itu. Aku hanya merindukan ibu.

Aku menjadi ingat, begitu umurku menginjak seperempat abad. Ibu menginginkanku untuk menikah. Jika aku tidak mampu mencari pasangan, ia mempunyai calon yang katanya istimewa. Posisiku baru saja diterima sebagai masinis. Tidak kugubris keinginan ibu, meski keinginan itu terus diutarakan. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, hingga tidak sempat mencari tambatan hati. Hingga ibu meninggalkanku untuk selama-lamanya, aku belum juga bisa menuruti keinginannya.

Rasa bersalah tidak dapat kuhindari. Diam-diam aku memendamnya dan terus dikejar pertanyaan, mengapa aku tidak bisa mewujudkan keinginan ibu. Sekarang, ada perempuan yang mendekatiku. Ia seorang pramugari. Alih-alih aku menyeriusinya, kehadirannya justru membuatku kian dihantui rasa bersalah itu. Aku takut akan menambah masalah jika aku melangkah ke jenjang yang lebih serius karena aku belum selesai dengan masa laluku. Jujur, sekarang saja terkadang keberatan kalau harus memberikan waktuku untuknya. Wajar saja, ketika ia mengancamku, mengakhiri kisahku dengannya.

Meski peristiwa pertemuanku dengan perempuan tua itu tampak nyata, aku merasa pertemuan-pertemuan itu sebagai peringatan untukku, bahwa aku belum merealisasikan keinginan ibu di usiaku yang hampir menginjak tiga puluh tahun.

Bantul, Januari – Februari 2026

 

Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Pernah menimba ilmu di Magister Sastra UGM, 2023-2025. Alumnus Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Bermukim di Pleret, Bantul, Yogyakarta. Dapat dihubungi di instagram @risendhawuhabdullah.

 

Promo Menara Agung Padang
Tags: cerpencerpen kato

Berita Lainnya

Sepasang Bola Mata, Suatu Pagi

Minggu, 11 Okt 2026 | 08:21 WIB

Cerita yang Melaju Bersama Malam

Minggu, 27 Sep 2026 | 12:59 WIB

Radio Tua Kesayangan Bapak

Minggu, 13 Sep 2026 | 06:58 WIB

Utopia Sebuah Kota

Minggu, 30 Agu 2026 | 08:04 WIB
Selanjutnya

Dua Pria di Guguak Diamankan, Polisi Sita Paket Ganja dan Timbangan Digital

Tinggalkan komentar
Sumatera Pulih
Promo Menara Agung Padang
Iklan Pln Klikpositif
Pajero Sport Padang

Informasi

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Kategori

  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara

Networks

  • 🌎 KlikPositif
  • 🌎 KataSumbar
  • 🌎 Classy FM
  • 🌎 Classy Production
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

© 2022 Klikpositif - Media Generasi Positif by Classy Corp.

Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara