Minggu, 13 Sep 2026 - 09:54 WIB
Klikpositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Home News

Radio Tua Kesayangan Bapak

Oleh: Mahrus Prihany

Andika
Minggu, 13 Sep 2026 | 06:58 WIB
Share on FacebookShare on Twitter

Saat aku masih remaja, aku pernah melakukan perbuatan yang aku anggap biasa saja, hanya suatu keisengan. Aku tak pernah menyangka itu ternyata menjadi suatu hal atau bahkan suatu kesalahan luar biasa dan peristiwa yang tak pernah bisa terlupa dalam hidup Bapak.

Setiap pagi setelah salat Subuh, aku selalu melihat Bapak asyik dengan radionya. Bapak tampak khusuk mendengar siaran berita. Aku ingat nama siaran berita itu adalah BBC London. Ada suara khas dan akrab di telingaku saat acara siaran berita itu akan dimulai, suara musik pembuka yang terasa unik dan aku nanti sering menirukannya saat sedang bermain dengan teman-teman. Suara pembaca berita itu juga seakan lekat di telinga dan pikiranku. Begitu juga pada malam hari, Bapak akan mendengarkan siaran berita radio yang sama. Itu berlangsung saat pagi dan malam selama beberapa tahun. Saat itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar.

Bapak sangat senang dengan siaran berita, tak hanya siaran BBC London itu, tapi juga siaran berita-berita lainnya yang disiarkan dari radio kesayangannya tersebut. Selain itu, Bapak juga senang mengelap radionya itu dengan lap kain secara pelan dan penuh kehati-hatian. Kadang memang banyak debu masuk ke dalam rumah kami yang kecil saat musim kemarau. Terlebih halaman rumah dan jalanan depan kampung kami memang masih berupa tanah. Bahkan ruangan dalam rumah kami kala itu juga masih berupa tanah, belum diplester dengan semen. Kami juga sering meminjam radio Bapak dan tentulah merasa malas sekadar mengelapnya, toh Bapak nanti akan membersihkannya sendiri.

Bapak sangat berhemat dengan batu baterai radionya. Aku dan kakak-kakakku setiap pulang sekolah, selalu meminjam radio Bapak untuk mendengarkan siaran sandiwara atau lagu-lagu yang sangat kami gemari. Bapak tidak melarang, namun beliau berpesan agar kami mematikan kembali siaran radio ketika telah selesai mendengarkannya. Mbak Unul, salah satu kakakku, sering lupa mematikan radio saat sedang mendengar siaran lagu-lagu melayu. Dia sering tertidur atau kadang bermain dengan teman-temannya dan meninggalkan radio begitu saja, masih dalam keadaan menyala.

“Hamdi, jangan lupa matikan radionya jika telah selesai. Jangan seperti Unul kakakmu itu. Ingat, hemat baterai.” Bapak memperingatkanku dengan sabar.

“Kan Mbak Unul yang tak mematikan radionya, Pak. Bapak juga bilang padanya.”

“Iya, Bapak sudah sering kali bilang padanya. Tapi dia selalu saja lupa. Jadi kau matikan saja radionya jika kakakmu itu lupa.”

“Baik, Pak.” Jawabku. Mbak Unul memang sering ceroboh atau lebih tepatnya memang tak mengindahkan ucapan Bapak. Dia pernah menyalakan radio ketika hari sedang hujan dan tiba-tiba tertidur begitu saja dengan lelapnya. Bapak sering menasihati agar jangan menyalakan radio saat hari hujan. Petir bisa berbahaya untuk radio yang menyala. Aku juga sering bilang pada kakakku tentang nasihat Bapak, kakakku itu hanya manggut-manggut saja

Bapak cukup rajin menjemur batu baterai tersebut di bawah terik sinar matahari. Harga batu baterai itu mahal, begitu Bapak sering berkata. Saat batu baterai radio Bapak sudah hampir habis, beliau menasihati Mbak Unul untuk tidak mendengarkan lagi-lagu dangdut dan melayu kegemarannya. Bapak hanya mengizinkan kami mendengarkan siaran sandiwara saja seperti sandiwara Misteri dari Gunung Merapi dan Saur Sepuh. Jika Bapak belum sempat membeli batu baterai yang baru, Bapak akan meminjamkan batu baterai dari lampu senternya. Bapak rela pergi malam hari tanpa lampu senter saat ikut pengajian rutin atau pergi ke masjid kampung yang letaknya agak jauh dari rumah kami untuk salat berjamaah Magrib dan Isya.

Oh ya, Bapak juga sering menjadi tempat bertanya oleh warga kampung. Kegemaran Bapak mendengarkan siaran berita tersebut ternyata memang menambah wawasan Bapak akan banyak isu seperti politik, ekonomi, pendidikan, dan harga komoditas pertanian. Bapak cepat mendapatkan informasi soal harga kopi, lada, cengkih, cabai, sayur mayur, petai, jengkol, buah-buahan, dan harga bahan pokok lainnya. Selain itu Bapak juga sering dimintai mendampingi Pak Kades saat ada kunjungan pejabat kabupaten walau tentu ini sangat jarang sekali, belum tentu tiga tahun sekali, maklum kampung kami terletak di pedalaman.

Para pejabat dan anggota dewan tersebut datang pada saat akan ada pemilihan umum saja untuk meminta dukungan politik. Itu yang kutahu dari Mbak Unul dan kakakku yang lain. Sering pula Bapak diminta memberi khotbah Jumat atau ceramah saat ada acara keagamaan di kampung jika acara yang diadakan tak mengundang penceramah dari luar kampung. Bapak memang sosok yang tenang namun penuh perhatian pada isu-isu yang terjadi. Jadilah Bapak seolah pengamat nasional dan internasional yang sering dimintai pendapat oleh warga kampung.

Bapak sering juga menyarankan padaku untuk turut mendengarkan siaran berita. Aku hanya mengangguk-angguk walau kemudian aku tidak pernah benar-benar mendengarkan berita, tapi tiduran di balai bambu dalam rumah. Bapak sering kemudian mengulang berita yang beliau dengar di depanku. “Perang Iran Irak belum selesai juga.” “Reaktor nuklir Chernobyl di Ukraina, Uni Soviet, meledak, 100 orang tewas.” “Mahasiswa asal Indonesia meninggal karena tertembak di Belanda.” “Sri Sultan Hamengkubuwono IX mangkat di Honolulu, Hawai, Amerika Serikat.” “Terjadi pengeboman pesawat Amerika oleh warga Libya di Lockerbie, wilayah Britania Raya, 270 orang tewas.” Sedikit banyak ada yang kuingat dari penjelasan ulang Bapak.

***

Setiap akan berangkat dan pulang kerja, aku sering melewati rumah lelaki tua yang terletak tak jauh dari stasiun KRL itu. Aku rasa lelaki itu seusia Bapak, sekitar tujuh puluh lima tahun. Aku sering memperhatikan dia sedang mendengarkan siaran berita dari radio tua. “Gila, zaman modern begini masih mendengarkan radio,” aku membatin pada awalnya. Namun setelah sekian lama, aku terusik dengan radio miliknya. Sungguh radio itu serupa milik Bapak. Ingatanku kembali akan suatu peristiwa tiga puluh tahun lebih yang lalu ketika aku duduk di bangku kelas satu SMA.

Pada suatu kesempatan aku sengaja menghampiri lelaki tua itu. Dia sedang duduk di depan rumahnya yang menghadap jalanan padat dekat palang lintasan rel kereta. Tentu saja setelah aku beberapa kali singgah di warung dekat rumahnya yang kecil untuk sekadar jajan minum es atau membeli minuman botol dingin hingga bisa mencari alasan untuk bisa berkenalan dengannya.

Baca Juga

Utopia Sebuah Kota

Minggu, 30 Agu 2026 | 08:04 WIB
Ilustrasi/de passo

Klimaks

Minggu, 16 Agu 2026 | 10:42 WIB

“Radionya unik sekali, Pak.” Kataku padanya. Dia megangguk dengan senyuman bangga.

“Masih menyala dengan baik ya?” Dia mengangguk kembali sambil mempersilakan aku singgah dan duduk di teras sempit depan rumahnya.

“Bagaimana jika saya beli radio Bapak?”

“Wah jangan. Saya tidak menjualnya.”

“Saya berani membeli dengan harga tinggi.” Kataku menyebutkan angka sambil mengamat-amati radio itu. Benar, radio ini serupa dengan kepunyaan Bapak yang dulu. Aku sempat menyalakannya, dan suaranya masih terdengar jelas dan jernih. Aku mengulang tawaranku pada lelaki tua itu. Dia menggelengkan kepala. Aku tak memaksa.

“Kenapa Nak Hamdi begitu ingin membeli dan memiliki radio itu? Bukankah kau bisa mendapatkan radio yang jauh lebih bagus?” Tanya Kek Hardan, lelaki itu, suatu ketika. Itu adalah hari kesekian kali aku singgah dan berbincang dengannya. Aku menjadi akrab dengannya.

***

Saat duduk di bangku SMA, Bapak mengirimku untuk melanjutkan sekolah di kota kabupaten. Bapak ingin aku menjadi anak yang berpendidikan tinggi. Hal itu tentu saja karena kegemaran Bapak mendengarkan siaran berita radio hingga Bapak bahkan berniat sekali aku nanti melanjutkan pendidikan perguruan tinggi. Belum ada sarjana di kampungku. Bahkan kakak-kakakku juga akhirnya menikah selepas SMP.

Di kampungku hanya ada SD, sementara SMP berada di kampung sebelah dengan berjalan kaki sejauh empat kilometer. Saat SMA, aku tinggal indekos di kota kabupaten dan hanya pulang kampung satu kali dalam satu atau dua bulan. Saat duduk pada akhir kelas satu SMA, aku jatuh cinta pertama kalinya pada seorang perempuan sekelas. Aku pernah mengajaknya jalan-jalan ke tempat rekreasi. Nah itulah keisengan seorang yang sedang jatuh hati terjadi.

Aku tak punya cukup uang ketika itu. Sebenarnya jatah uang makan untukku dari Bapak, cukup buatku hidup sehari-hari. Tapi entah kenapa, mungkin aku sedang iseng dan lupa diri. Saat pulang kampung, aku bawa radio Bapak. Tak banyak pikir saat aku melakukannya. Aku kemudian menjualnya di kota. Uang hasil penjualan radio, aku pakai untuk tambahan jalan-jalan ke tempat wisata bersama seorang yang kucintai.

Di kampung, Bapak ternyata sibuk mencari radionya yang tak ada lagi di atas meja. Ketika pulang kampung berikutnya, aku melihat wajah Bapak sering murung karena kehilangan radionya. Melihat kemuraman wajah Bapak, aku ceritakan padanya peristiwa yang sesunggguhnya. Aku merasa bersalah saja jika tak kukatakan bahwa aku yang telah mengambil radionya.

Bapak sangat marah. Namun karena beliau sosok yang sabar, beliau tak meluapkannya dengan perkataan dan umpatan. Bapak hanya terdiam sangat lama menahan gejolak amarahnya. Aku pun diam saja. Ibu yang melihat itu juga tak berkata apa-apa. Hening cukup lama. Akhirnya Bapak hanya berkata, “Jika kau memerlukan uang, kenapa kau tak bicara pada Bapak atau ibumu?” Aku menundukkan kepala untuk sekadar menghormatinya, tak menanggapi ucapan Bapak. Tapi batinku merasa biasa saja ketika itu. Bagiku itu bukan persoalan besar, toh Bapak bisa membeli lagi radio yang baru.

Setelah hari itu, Bapak memang seakan melupakan peristiwa itu. Tapi aku tahu Bapak sangat menyayangkan sikapku itu. Untungnya juga kami jarang bertemu. Bapak membeli radio baru. Ibu bercerita padaku bahwa Bapak sebenarnya mencari radio yang serupa dulu, namun sudah sangat susah mendapatkan radio seperti itu. Aku berusaha menebus kesalahan itu. Saat aku datangi toko tempat menjual radio itu, pemiliknya berkata bahwa ada orang lain yang telah membelinya. Ya sudah aku lupakan begitu saja.

Bertahun-tahun kemudian meski Bapak telah melupakan, namun Ibu masih menceritakan perasaan Bapak yang telah kehilangan radio kesayangan, bahkan saat aku telah tinggal dan bekerja jauh di perantauan, di kota besar. Setiap mudik lebaran, masih saja Ibu sering menyinggung radio Bapak yang pernah kujual dulu. Lama-lama, aku jadi merasa tak enak hati juga.

“Sungguh radio tua ini persis milik radio kesayangan Bapak saya di kampung.” tandasku pada kakek Hardan setelah aku ceritakan padanya kisahku.

“Jika seperti itu, kau boleh membawa radio tua itu ke kampung. Tak perlu membeli.” Lelaki tua itu berkata tanpa ragu setelah sekian waktu mengangguk-anggukkan kepala mendengarkan ceritaku. Aku tentu saja tak mau. Aku paksa lelaki tua itu menerima sejumlah uang yang pernah kutawarkan. Meski dia tetap saja keberatan, akhirnya dia menerima sambil mengucapkan rasa terima kasihnya yang tak terhingga.

Sungguh kini aku tak sabar menanti liburan agar bisa pulang ke kampung halaman. Aku membayangkan senangnya hati Bapak saat aku pulang membawa radio tua kesayangan. Radio ini bagaimanapun juga telah menjadi unik dan langka. Lebih dari itu, Bapak dan Ibu pasti akan bahagia karena aku telah berusaha menebus kesalahan masa muda yang susah mereka lupa begitu saja.***

Mahrus Prihany, lahir di Peninjauan, Lampung Utara, pada 17 April 1977. Meluluskan studi di Akademi Bahasa Asing Yogyakarta (ABAYO) dan jurusan Komunikasi Penyiaran Islam di STAI Publisistik Thawalib, Jakarta. Bergiat di Komunitas Sastra Indonesia (KSI), kepala sekretariat Lembaga Literasi Indonesia (LLI), dan Redpel portal sastra litera.co.id. Karyanya tersiar di sejumlah media massa seperti Suara Merdeka, Fajar Makassar, Batam Pos, Riau Pos, Sumut Pos, Lampung Pos, Bangka Pos, Solopos, Medan Pos, Pontianak Pos, Tanjungpinang Pos, Aceh Pos, Pos Bali, Koran Merapi, Utusan Borneo, Singgalang, SKH Amanah, Bhirawa Surabaya, Haluan Padang, Palembang Ekspress, Magelang Ekspress, Padang Ekspress, Rakyat Sumbar, Rakyat Aceh, Rakyat Sultra, Kabar Priangan, Analisa Medan, Majalah Semesta, Majalah Mutiara Banten, Majalah Bahana Brunei, Majalah Kandaga, Majalah Elipsis, Majalah Apajake, Majalah Karas, Tabloid Target, Jurnal Aswaja Mlangi, Jurnal Santarang, maarifnujateng.or.id, kareba.id, lensasastra.id, erakini.id, iqra.id, gadanama.my.id, magrib.id, republika.id, sippublishing.co.id, ideide.id, sastra.co.id, himmahonline.id, riauglobe.id, janang.id, detik.com, dermagasastra.com, madrimpos.com, cendananews.com, kurungbuka.com, ngewiyak.com, sastramedia.com, pesawaraninside.com, sabah360online.com, madahetam.com, ceritanet.com, ayobandung.com, madrasahdigital.co, labrak.co, bacapetra.co, nongkrong.co, Dinamika News, Cakra Bangsa, Lampung News, Radar Bromo, Radar Malang, Radar Kediri, Radar Madiun, Radar Madura, Radar Utara, Radar Banyuwangi, dan Radar Mojokerto. Karyanya juga tersiar dalam sejumlah antologi bersama. Kumpulan cerpen tunggalnya yang telah terbit adalah Raliatri (2016), Seseorang yang Menunggu di Simpang Bunglai (2019), Bidadari dalam Secangkir Kopi (2021), Di Way Kulur, Tak Ada Lagi yang Kucari (2022), dan Lelaki Tua dengan Surga di Bibirnya (2023)
Tags: cerpencerpen kato

Berita Lainnya

Utopia Sebuah Kota

Minggu, 30 Agu 2026 | 08:04 WIB
Ilustrasi/de passo

Klimaks

Minggu, 16 Agu 2026 | 10:42 WIB

Para Pemangsa

Minggu, 2 Agu 2026 | 06:29 WIB
Ilustrasi

MEJA MAKAN

Minggu, 19 Jul 2026 | 06:45 WIB
Tinggalkan komentar
Classy FM

Informasi

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Kategori

  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara

Networks

  • 🌎 KlikPositif
  • 🌎 KataSumbar
  • 🌎 Classy FM
  • 🌎 Classy Production
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

© 2022 Klikpositif - Media Generasi Positif by Classy Corp.

Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara