Chai bercerita pada saya ada kejadian aneh pagi itu. “Seorang perempuan menjerit-jerit di depan mesin cuci paling ujung. Ketakutan kali dia. Katanya ada darah merembes dari dalam mesin. Ada bayi di antara baju-baju. Wajah bayi itu sempat menempel di kaca mesin, kedua matanya melotot saat mesin memutar tubuhnya berulang kali. Bahkan mata bayi itu sampai terlontar dan menabrak kaca. Perempuan itu begitu ketakutan sampai badannya gemetar dan ia tak berhenti terisak. Aneh sekali. Padahal yang dia lihat cuma cuciannya sendiri.” Chai tertawa seolah itu peristiwa biasa saja. Ia baru saja memindahkan setumpuk pakaian ke meja. Setrika di tangan saya terhenti. Saat kejadian saya belum datang. Saya kemari menjelang tengah hari.
“Apa? Kau kasihan padanya?” Chai mendapati alis saya terangkat.
Saya tak paham bagian mana yang lucu dari peristiwa itu. “Yah, aku tak mengenalnya tapi… lalu bagaimana keadaannya?”
“Pengunjung lain panik dan kebingungan. Mereka mengelilingi perempuan itu tepat saat ia terjatuh setelah berteriak-teriak. Aku ikut membangunkannya dan uh, wajahnya panik sekali. Seperti baru saja melihat setan. Kamu percaya setan?”
“Kudengar tempat ini memang ada penunggunya.”
“Gila.” Lengan saya panas. Oh, dia mencubit tangan kanan saya.
“Kamu tahu, mungkin dia cuma kecapaian,” ia melanjutkan sambil membuka mesin pengering baju, menurunkan isinya ke keranjang satu per satu,” kulihat dia baru 20-an tahun. Tapi wajahnya amat lelah. Beda denganku yang selalu ceria ini.”
Saya hanya menggelengkan kepala sambil tertawa kecil. Setrika di tangan tetap bergerak. Tak ada waktu memikirkannya. Barangkali benar, kejadian tadi pagi adalah hal biasa yang bisa terjadi di mana saja. Kebetulan saja perempuan itu berhalusinasi di binatu ini dan Chai mesti menyaksikannya. Di kesempatan lain, barangkali kejadian serupa bisa muncul di pasar, pusat perbelanjaan, atau di tempat makan sate kambing. Siapa yang tahu?
Sementara bagi Chai, saya rasa kejadian itu sama lucunya seperti ketika suatu kali ia mendapati lingerie di antara pakaian pengunjung.
“Apa semua orang di dunia ini terlalu malas mencuci?” Chai terbelalak mendapati sehelai seragam aduhai berwarna hitam, berenda, lengkap dengan bando kelinci.
Saya mengangkat bahu. “Lebih tepatnya tak sempat.”
Tawanya berderaian di antara desing lusinaan mesin cuci di ruangan ini. “Maksudku, apa entah siapalah ini tidak malu membuat orang lain membayangkan dirinya menggunakan pakaian kebangsaannya? Seharusnya hanya pasangannya yang boleh.”
Mendadak ia terdengar sebal. Saya tak mengerti. Itu hak semua pengunjung mau membawa apa pun yang ingin mereka cuci. Toh kami sudah tak kaget mendapati celana dalam atau pakaian bertabur tahi.
“Sebenarnya kamu iri saja. Minta Bram membelikan satu buatmu, Chai.” Bram nama pacarnya. Gantian saya yang tertawa. Ia justru melempar pakaian itu ke arah saya. Aroma milik orang lain sempat saya hidu. Aroma asing. Aroma yang bukan milik saya dan tak ingin saya miliki.
Aroma lain muncul. Kain terbakar. Chai menjerit. Pikiran saya pun berpijak kembali, buru-buru setrika itu saya angkat.
“Aduh, ganti rugi lagi. Kamu kenapa?” Chai menggeser tubuh saya, merebut setrika itu.
Saya buru-buru bergesar, menggumamkan maaf yang mungkin tak terdengar, kemudian beralih menyusun pakaian dari ranjang ke meja.
“Pasti soal Ratih. Kamu belum memberitahunya?”
Saya ingin mengabaikannya seperti tadi, tapi lidah saya beraksi sendiri, “Belum. Aku takut membuatnya makin menderita.” Sekonyong mata saya memanas begitu nama itu terdengar.
***
Kau baru membayangkan segarnya mandi sepulang kerja saat yang menyambutmu justru bunyi tut-tut-tut meteran listrik. Kau menghela napas. Kau masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Bayangan nikmatnya siraman air hangat buyar sudah. Hari itu kau pulang larut. Tugas memeriksa hasil ujian murid-muridmu sengaja kau selesaikan semua. Maka tak mengejutkan bila tubuhmu teramat remuk; dan seolah kesialan tak mengenal kata akhir, ojek yang mengantarmu pulang memacu motornya kesetanan. Isi perutmu seperti terpelintir. Kau hampir muntah lantaran mesti mengalami momen duduk di atas motor yang terpacu lekas ditambah kungkungan aroma helm yang apak.
Ketika turun dari motor kau pun mengumpat asu, memberi bintang satu, membuka pagar yang berderit, dan menghadapi kesialan lain. Hari apa ini? Senin. Pantas saja, kau membatin. Hari sial. Tapi mengapa rasanya hanya kau sendiri yang merasakannya? Dari arah dapur, suamimu menyenandungkan lagu entah. Suaranya terdengar ceria. Ia langsung menyambutmu, memanggil sayang dan coba memelukmu. Kau mundur selangkah. Tangannya bau bawang. Di atas meja, bawang merah separuh terpotong-terpotong. Kau mempertanyakan soal listrik yang terdengar nyaring.
“Maaf, aku nunggu kamu pulang. Tadi siang adikku menelepon kalau nenek butuh tambahan uang buat kemoterapinya.”
“Kamu kasih semua uang kita?”
“Aku tak ada pilihan.”
Mata pria di depanmu memelas. Kantung matanya berat. Rasanya kau tak mengenalinya lagi. Dua tahun terlewat sejak kaudapati mata itu berbinar saat menyematkan cincin di jemari manismu. Tapi ke mana perginya binar itu? Atau, seperti apa binar itu? Kau membayangkan api yang mati perlahan tersebab udara yang kedap. Sekedap dan semenyesakkannya udara rumah itu sekarang.
“Kau tak pandai menentukan pilihan.” Alasan serupa sudah ratusan kali kaudengar. Awalnya terdengar wajar. Kau mengerti ada keluarga yang masih ia tanggung walau kapal baru sudah ia buang sauhnya. Kau memaklumi saat sebagian gajinya masuk ke kantong lain di tahun pertama perkawaninanmu, kemudian ia sampai perlu menjual sepeda motornya demi membantu pengobatan neneknya. Dan kau masih tak mempermasalahkan bahwa sewa rumah itu kau yang menanggungnya tiga bulan terakhir ini.
Oh, kau tahu pasti kehidupan rumah tangga tak senantiasa semanis madu, tapi kau tak mengira akan berjalan semenyesakkan itu.
Kau pun berjalan ke teras rumah. Membungkam meteran listrik yang warna lampunya lekas menjadi hijau serta bunyinya yang memekakkan telinga lenyap.
Suamimu mengekor di belakang langkah yang tergesa. Kali ini ia mengoceh panjang soal maaf. Bahwa ia tak menduganya. Bahwa ia tak sampai hati buat menolak. Ia pun berusaha menghiburmu. Ia bilang akan membuat masakan kesukaanmu, jamur asam manis. Sore tadi ia sudah belanja. Tapi darah di dadamu masih menggelegak.
“Apa sih yang yang ada di otakmu itu?” Napasmu memburu. Kau berlalu ke kamar, meletakkan tas kerja, lalu masuk ke kamar mandi. Tak lama, langkah kaki terdengar menjauh.
Air matamu merembes bersama air yang mengucur dari keran. Samar-samar terdengar suara pisau memotong-motong bawang di talenan.
***
Di antara pegawai lain di binatu ini, saya hanya akrab dengan Chai. Bukannya saya tak cocok dengan pegawai lainnya, tapi rasanya hanya Chai yang melihat saya ada di sini. Hari pertama saya bekerja enam bulan lalu, ia langsung mendekati saya dan menjelaskan ini-itu. Oleh karenanya, walau kadang menyebalkan, saya begitu menghormatinya. Ia juga seorang pendengar yang baik, ia memang sulit mengontrol mulutnya, tetapi saya tahu pasti, ia sosok yang pengertian.
Maka saya pun tak ragu membagi sejumlah rahasia terdalam saya.
“Lucu juga kamu memilih tak memberitahunya. Memangnya sebegitu mengkhawatirkannya kalau dia sampai tahu?”
Itu responsnya saat kali pertama saya menceritakan kepadanya bahwa Ratih, pasangan saya, belum mengetahui soal pekerjaan ini. Saya pun belum memberitahunya bahwa perusahaan properti tempat saya bekerja dulu gulung tikar dan memecat seluruh pegawainya. Termasuk fakta bahwa gaji kami belum terbayarkan berikut kekhawatiran akan raib begitu saja mengingat pimpinan perusahaan tersebut masuk penjara lantaran korupsi. Hal itulah yang menggusarkan benak sekian bulan ke belakang. Bagaimana pun, ada kapal yang perlu dirawat. Saya ingin menstabilkannya lagi walau mesti melakukan hal-hal pengecut, seperti membohongi Ratih.
Sebagai seorang pembohong, saya tahu diri. Saya bisa mengerti apabila udara rumah kami kerap meruapkan hawa sesak. Ratih tentu merasakan sejumlah perubahan. Saya menyadari hal itu. Di banyak kesempatan, saya hanya bisa mengalah. Saya juga tak bisa berkata banyak ketika malam-malam terlewat hanya menatap punggungnya. Saya hanya belum siap memberitahunya. Saya tak terbayangkan betapa malunya ia bila tahu suaminya diberhentikan, kemudian bekerja di tempat seperti ini.
“Memangnya ia bakal kecewa? Ada-ada saja. Toh pekerjaanmu dulu tak lebih mentereng dari ini,” kata Chai suatu kali. Tapi bagaimana kalau kebalikannya?
Chai berulangkali mendesak saya untuk berterus terang saja. Katanya, Ratih bakal mengerti. Saya malah memperkeruh segala hal, lanjutnya. Ia pun mengatakan hal sama lagi di hari kejadian perempuan berteriak itu.
“Sampai kapan kamu menyembunyikannya? Bila aku jadi Ratih, aku bakal memaklumimu.” Kami rehat sebentar di balkon lantai dua. Langit kesumba menyeruak dari balik awan. Chai menjentikkan abu rokok mentholnya.
“Dia belum pulang sampai sekarang,” kata saya.
Kemudian, saya bercerita kalau empat hari lalu Ratih pamit pulang ke rumah ibunya. Saya tak kuasa mencegah. Saya masih mengingat kejadian itu seolah baru sedetik yang lampau berlalu. Ratih pergi ketika pagi belum usai menuntaskan embun di dedaunan. Ia bangun lebih dulu dan sudah berpakaian lengkap. Ia menjinjing tas kerja yang terisi penuh. Di meja makan, jamur asam manis yang malam harinya saya buat masih utuh. Ia tak menyentuhnya sama sekali.
Saya bertanya apakah ada tugas mendesak di tempatnya mengajar, lalu ia bilang hendak pulang ke tempat ibu. Ia juga menegaskan bahwa saya tak perlu menjemputnya. Ia akan pulang pada waktunya. Tapi sekarang saya mulai khawatir, bagaimana kalau ia tak akan pulang? Bagaimana bila ia sudah tak ingin bersama saya?
Chai bersimpati. “Kalian masih ngobrol tidak? Kok rasanya persoalan kalian lebih pelik ketimbang soal merahasiakan tempat bekerjamu itu.” Pertanyaan Chai wajar. Ia belum pernah bertemu Ratih dan saya memang tak bercerita lengkap soal jalannya hubungan kami.
“Masih. Atau, entahlah. Tampaknya aku telah gagal menjadi suaminya.” Saya menginjak kretek yang masih setengah. Chai mengembuskan asap hingga wajahnya tak kelihatan. Sorot matanya iba begitu keliukan asap berlalu.
***
“Yakin tak perlu Abang antar?”
Kau memasang flat shoes-mu. Seorang lelaki berdiri di ambang pintu. Ia hanya memakai kaus oblong.
“Aku bisa pulang sendiri. Begini lebih baik.” Bibirmu mengguratkan senyum tipis.
Begitu kakimu sudah beralas, kau menubruk lelaki itu. Ia terkekeh. Wajahmu terbenam di dadanya. Begitu hangat, begitu lekat. Badan itu yang kausebut rumah enam bulan ke belakang.
“Aih, seperti tak bakal bertemu lagi saja,” candanya. ”Sebentar, jasmu agak kusut.” Lelaki itu mengusap-ngusap sisi kanan dan kiri blues yang kaukenakan.
“Apa kita tak punya pilihan lain?”
Tangan lelaki itu mengusap pipi kirimu. Tangan yang halus. Tangan yang hangat. “Sayang, kita sudah sepakat. Demi kebaikan kita bersama.”
“Tapi kamu tak meninggalkanku, kan?”
“Hush, jangan ngawur. Justru kita sepakat melakukannya supaya kita tetap bersama. Semestinya kamu sadar itu, sayang.” Tangan itu beralih mengelus rambutmu, menelusuri helai demi helainya.
“Apa aku bakal baik-baik saja?”
“Tenang saja. Segalanya perlu proses, ok? Toh kamu tak bisa meninggalkannya begitu saja, kan? Sekalipun kamu kepengin sekali ya? Aku penasaran soal perempuan yang dia taksir.” Ia terkekeh lagi.
Kalimat dan tawa lelaki itu menenangkan gemuruh di benakmu. Pandanganmu jatuh ke perut. Sebersit kekhawatiran menyeruak. Tapi segera raib demi mendapati mata teduh lelaki itu. Kau ingin menemukan kata lain yang lebih manis dari kata sempurna. Kata yang lebih baik, lebih kuat. Oh, sungguh, kau tak perlu mengkhawatirkan apa-apa. Sebagaimana malam-malam enam bulan ini yang teramat terencana, menggelora, dan mendamaikan; betapa langkah kakimu saat bersamanya dipenuhi kepastian; sehingga ragu barangkali hanya kerikil yang tak jadi soal, sebab mereka bakal lenyap terantuk kaki seiring langkah yang berderap seirama.
Seirama. Irama. Ah, kau jadi terkenang, hal itulah yang membuatmu jatuh hati. Irama biola yang kaudengar pada suatu siang, jam istirahat sekolah. Irama yang menghentikan langkahmu. Irama yang menyergap rasa penasaranmu. Irama yang membuatmu terlarut. Irama yang menjalari bulu-bulu kecil di kulit. Irama yang memancing kagum di kedua bola mata. Irama yang mencengkrammu dan menyulut pertanyaan baru ihwal kata rumah.
“Sudah, sebaiknya kamu pulang sekarang. Aku pesankan ojek ya.” Tangan pria itu sigap menggulirkan layer ponselnya. Tangan itulah yang menggengam erat tanganmu saat kau mengenalkan diri, bertanya siapa lelaki itu; setelah memuji permainan biolanya. Itu tangan yang sama, yang di malam-malam kau menemuinya, dengan lembut menyentuh pipi, bibir, mata. Tangan yang memantik api nan menghangatkan jiwa. Tangan yang tak ingin kaulepas.
Deru motor terdengar mendekat. Lelaki paruh baya memberikan helm kepadamu. Aromanya apak.
“Besok aku jemput di depan gang. Kita berangkat pagi-pagi,” kata lelaki itu sebelum kau berlalu. Sebelum kau merasa perlu menghamburkan pelukan lain yang kali kesekian. Sebelum nyeri sekonyong menekan dadamu.
***
Malam harinya, Ratih sudah duduk di meja makan saat saya pulang. Aroma kuah bakso menguar di sekujur ruangan. Mata kami bertemu setelah pandangan saya menangkap dua mangkuk berisi kuah bening dengan jamur, butiran bakso, dan mie putih. Tenggorokan saya tercekat. Seolah bakso itu sudah lebih dulu tersangkut di sana. Saya lupa kali terakhir mendapati pemandangan seperti ini.
“Ya ampun, kamu sudah pulang?” Saya menghampirinya. Coba memeluknya. Namun, ia menyingkir. Ia memberi isyarat supaya saya duduk di kursi lain. Wajahnya pucat.
“Makan, nanti keburu dingin.” Ia mulai memotong sebutir bakso dengan sendok, lalu menyuapkan potongan bakso dengan perlahan ke mulutnya.
“Bagaimana kabar nenek?” Kalimatnya dingin, seperti kalimat basa-basi yang kita lontarkan ketika bertemu kawan lama.
Saya kesulitan menelan bakso pertama. “Kemarin adikku mengantarnya buat kemo. Nenek titip salam buatmu. Aku tak cerita soal kepergianmu.”
“Ia tak bertanya soal anak?”
Kuah bakso itu tiba-tiba dipenuhi jarum. Saya tak kuasa menelannya. “Maaf, kepanasan.” Saya memasang wajah tolol dan meminum setegur air di gelas.
“Apa? Oh, tidak. Ia cuma bilang supaya kita tetap sabar.” Saya coba tersenyum.
“Kuah bakso ini pun bakal mendingin.”
Alis saya terangkat.
“Semua ada batasnya. Kuah bakso bakal mendingin setelah beberapa saat. Begitu pula dengan kesabaran. Sabar ada batasnya.”
]Sekali lagi, Ratih selalu tahu cara membungkam saya. Dulu, saya terpukau dengan kepiawaiannya itu. Saya suka pembawaannya yang tenang dan irit kata. Ia berbicara hanya jika perlu saja. Tetapi, belakangan saya sering merasa tertusuk. Tentu saya mengerti topik ini adalah topik berat yang sepatutnya tidak muncul di meja makan kami. Sejak awal pernikahan, kami menginginkan keturunan sebagaimana pasangan lain. Kami berusaha keras di tahun pertama, kami bahkan mulai memikirkan opsi bayi tabung. Tabungan kami mulai dianggarkan untuk agenda tersebut. Apa daya, bersamaan dengan itu, Nenek divonis kanker payudara. Sudah stadium tiga. Fokus saya terbagi. Saya tak tega mengabaikan Nenek yang sudah merawat saya dan adik sedari kecil. Ratih memandang pilihan saya egois.
“Maaf, kalau baksonya tak enak.”
Ratih membawa piringnya menuju wastafel. Saya memperhatikan punggungnya dari belakang. Ia terlihat lemas.
“Biar aku saja yang mencucinya.” Saya menghampirinya.
“Aku saja. Kamu selesaikan makanmu, kalau masih mau.” Ia menepis tangan saya yang coba mencegahnya mengambil spons. Tangan itu dingin.
“Sudah, sana. Aku bisa sendiri.” Ia bersikukuh. Dan saya tak ingin merepotkannya. Ia sudah meluangkan waktu untuk memasak. Setidaknya biar saya yang mencuci piring.
“Dengar tidak?! Aku saja.” Piring itu pecah terbanting di wastafel. Warna airnya menjadi kemerahan. Darah merembes dari telapak tangan Ratih. Ia meringis.
Saya kalap, merengkuh tubuhnya dari samping. Tubuhnya meluruh. Ia sesenggukkan. Semakin lama, suaranya melemah. Ketika saya menarik pinggangnya supaya tubuhnya merapat ke tubuh saya, roknya terasa basah. Permukaan kainnya berwarna merah. Setelah itu, Ratih kehilangan kesadarannya.
***
Kau menyukai warna putih. Di awal pernikahanmu, kau bersikeras mencari rumah yang catnya putih polos, tanpa ada gradasi warna lain. Kau dan suamimu menemukannya setelah berhari-hari mendatangi lusinan rumah yang ditemukan sepanjang pencarian. Rumah itu putih bersih. Pemiliknya tertawa sambil berujar, “Temboknya dilabur tiap hari.” Tawa itu menular. Kau tak berhenti melompat kegirangan. Bersemangat kau buat menata barang-barang. Bersemangat kau membayangkan anak kecil berlarian di halamannya. Bersemangat kau merangkai hari dengan lelaki yang di tangannya, kaupercayakan jiwa raga.
Tapi kini, saat matamu berhasil menggapai cahaya, saat yang menyambutmu adalah ruangan bertembok putih paripurna, kau justru merasa hampa. Selang infus menjuntai di sisi ranjang. Bunga lavender plastik bertengger di dipan. Jemarimu merasai sentuhan, suamimu menggenggamnya. Kau mengendar pandang sebelum matamu bertumbuk dengan pandangannya. Lihatlah, kapan kali terakhir kaumemandanginya selekat ini? Kau baru sadar, ah atau baru teringat, bahwa jidat suamimu semakin melebar. Matanya lelah. Sejak kapan matanya lelah? Bukankah semestinya mata itu semringah lantaran hasrat yang sudah berlabuh ke lain raga?
Rasanya kau pernah berada di situasi serupa. Sepasang mata lain mengunci pandangannya terhadapmu. Kenapa kekhawatiran ada di mana-mana? Kau tak kuasa membendung ragam tanya.
“Syukurlah, kamu sudah sadar. Jangan banyak gerak dulu.” Suara suamimu menggema lembut. Pria berpakaian putih tergopoh datang. Pria itu seperti dilingkupi cahaya teramat terang. Kau mengerjapkan mata. Sekonyong nyeri hebat mendesak di dalam perutmu. Perlahan kau menata ingatan.
Nyeri. Merah. Piring. Meja makan. Kemo. Darah. Teriakan. Air mata. Nyeri lagi. Kemudian darah. Lalu darah di mana-mana.
“Biarkan istri Anda istirahat dulu. Tubuhnya pasti telah berjuang hebat. Keadaannya sempat mengkhawatirkan, tapi Bapak tak perlu risau. Seharusnya Bapak sudah menduga kemungkinan ini.”
Kau menangkap wajah setengah kebingungan yang ditampilkan suamimu. Pria itu berlalu tanpa membiarkan suamimu melayangkan pertanyaan. Kau belum sepenuhnya sadar tapi mulai mengerti apa yang baru saja terjadi. Kau tak menduga bahwa segalanya akan berakhir seperti ini. Sejenak, suara lain meniupkan harap kalau saja yang sedang duduk menungguimu bukanlah suamimu, pasti rasanya lebih baik. Tapi yang kini berada di sisi adalah suamimu. Di momen lain, kau tak mungkin membiarkannya menyentuh kepalamu, mengelusnya sembari menggumam “kita bakal baik-baik saja” seolah tak ada jurang yang menerakan luka di antara kalian. Rasanya sungguh ganjil. Sebersit perasaan lain mulai menggeliat di benak. Kenapa tiba-tiba kau merasa bersalah? Nyeri itu menyergapmu sekali lagi. Seolah ada jarum panas menusuk dadamu. Kau meringis.
“Aduh, sakit sekali ya? Aku panggilkan dokter lagi.” Suara suamimu panik.
Segera ia berdiri. Pintu ruangan itu hendak dibukanya ketika seseorang gadis merangsek terlebih dahulu. Suamimu terkejut.
“Oh, Chai, kebetulan sekali. Maaf merepotkanmu malam-malam. Tolong jaga Ratih sebentar. Aku perlu memanggil dokter.”
“’Kan ada tombol speaker itu, tinggal tekan saja. Nanti ada yang datang,” kata gadis itu menunjuk sebuah tombol di sisi ruangan. Pandangannya lantas beralih ke ranjang. Kau tak mengenalinya. Atau kaupernah melihatnya?
Gadis yang dipanggil Chai itu tak berhenti memandang ke arah ranjang. Tubuhnya mematung. Sementara suamimu memanggil seseorang lewat penyeru dinding.
“Istrimu,” gadis itu berkata pelan. “Jadi, perempuan itu istrimu?” Suaranya ragu. Matanya mengerjap-ngerjap.
Perawat yang masuk ke ruangan membuat suamimu tak sempat mencerna kalimat itu, tapi kau mendengarnya dengan jelas. Kau menangkap kebingungan di matanya.
Saat infus di tangan kananmu diperiksa, saat kantuk tiba-tiba melanda, bayangan bayi yang diaduk-aduk mesin cuci terputar di kepalamu. Darahnya menciprat ke kaca mesin. Sepasang bola matanya terlontar. Kedua bola mata itu seolah menabrak matamu. Mereka memaksamu memejam.
Kelak ketika sadar nanti, kau akan bertanya-tanya, bagaimana pemilik sepasang bola mata itu memandang ibunya sendiri?
Yogyakarta, 2025.
Wahid Kurniawan, penikmat sastra. Alumnus Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia.












