Rabu, 23 Sep 2026 - 00:29 WIB
Klikpositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Home News

Gate Keeper vs Viralism Bubble

Oleh : Tommy TRD (Magister Ilmu Politik Universitas Andalas))

Muhammad Haikal
Minggu, 2 Agu 2026 | 21:17 WIB
Share on FacebookShare on Twitter

PADANG, KLIKPOSITIF — Apa kabar? Bertemu lagi melalui tulisan hari ini. Sebenarnya bukan pembahasan yang terlalu menarik untuk akhir pekan, namun mari kita coba bahas secara ringan.

Gate Keeper

Di dalam dunia politik, dikenal istilah gate keeper, penjaga pintu, penjaga gerbang. Belum bisa dipastikan negara mana saja yang memiliki konvensi seperti ini dalam sistem politik mereka, tetapi istilah gate keeper tidak asing dalam politik Amerika Serikat, dan juga Cina.

Pada buku yang bercerita tentang para Senator di zaman Kennedy, dijelaskan bahwa Amerika Serikat memiliki anggota-anggota kongres, senat, dan pimpinan partai politik yang memiliki peran sebagai gate keeper ini (walaupun kekinian peran ini mulai terkikis). Dalam politik AS, kaya saja tidak cukup untuk menjadi calon presiden, apalagi menjadi presiden.

Gate keeper inilah yang menjaga kekayaan Henry Ford, JP Morgan, T.E Edison tidak serta merta bisa β€œmembeli” jabatan Presiden. Namun harus sosok yang memiliki rekam jejak, pengalaman, pengetahuan dan seabrek persyaratan lainnya. Ditambah lagi sistem politik AS yang cenderung check power with power antara lembaga kepresidenan (eksekutif) dengan legislatifnya, masih ada harapan pada check and balances policynya.

Cina, mungkin lebih keras lagi. Gate keeper di Cina adalah sistem, hierarki, merit. Walaupun tidak mungkin sempurna, tetapi jelas ada β€œideologi” dalam memilih calon pemimpin. Gita Wiryawan dalam sebuah forum diskusi pernah mengatakan kepandaian berjoget dan viralisme semata tidak akan mengantarkan seseorang ke kursi kepemimpinan di Cina.

Dua negara (AS dan Cina), dua ideologi, dua sistem politik yang berbeda, namun memiliki gate keeper nya masing-masing. Intinya, gate keeper adalah pihak yang bertanggung jawab agar proses suksesi kepemimpinan terjaga kualitas penyelenggaraan dan outputnya. Bagaimana dengan negara yang lain ?

Viralism Bubble

Ada satu hal yang menjadi satu masalah mendasar dalam demokrasi. Bukan soal jumlah suara, namun kualitas dari suara itu sendiri. Pada sistem demokrasi langsung, masalah mendasar itu (kualitas suara) menjadi kian prinsipil dan mengkristal.

Para gate keeper menjadi kian tidak berdaya di hadapan sistem one man one vote. Menolak, berarti mengambil posisi sebagai pihak yang tidak populis. Menerima, berarti harus menahan hati melihat kualitas kepemimpinan yang dihasilkan dari viralisme. Para gate keeper harus memakan buah simalakama.

Disrupsi pada zaman media sosial menjadikan viralisme tidak terhindarkan. Sekaligus menggeser posisi gate keeper ke luar arena. Mayoritas dari gate keeper akhirnya lebih memilih bergabung kepada arus viralisme. Sisanya yang mempertahankan nilai-nilai kuno, pensiun dengan sendirinya.

Baca Juga

Rencanakan ke Baitullah Sejak Usia Produktif, Insan Semen Padang Group Dibekali Literasi Keuangan Haji

Rencanakan ke Baitullah Sejak Usia Produktif, Insan Semen Padang Group Dibekali Literasi Keuangan Haji

Selasa, 22 Sep 2026 | 21:29 WIB

Pasca Galodo, Pemkab Solok Tetapkan Masa Tanggap Darurat Selama 14 Hari

Selasa, 22 Sep 2026 | 18:57 WIB

Viralisme belum tentu sepenuhnya buruk. Jika dilengkapi dengan intelektualitas, integritas, dan etikabilitas. Namun suksesi kepemimpinan yang mengedepankan viralisme, sudah menjadi contoh di beberapa negara berkembang. Mayoritasnya tidak berakhir dengan baik.

Pertanyaannya, siapa yang akan menjadi gate keeper di sistem demokrasi langsung ? Di era viralism bubble ?

Berita Lainnya

Rencanakan ke Baitullah Sejak Usia Produktif, Insan Semen Padang Group Dibekali Literasi Keuangan Haji

Rencanakan ke Baitullah Sejak Usia Produktif, Insan Semen Padang Group Dibekali Literasi Keuangan Haji

Selasa, 22 Sep 2026 | 21:29 WIB

Pasca Galodo, Pemkab Solok Tetapkan Masa Tanggap Darurat Selama 14 Hari

Selasa, 22 Sep 2026 | 18:57 WIB
Kondisi Arosuka Solok, Selasa (22/9/2026)

Walhi Soroti Galodo Gunung Talang Dipicu Kerusakan Hulu dan Aktivitas Tambang Ilegal

Selasa, 22 Sep 2026 | 17:40 WIB

September Ceria, Honda Menara Agung Tebar Diskon hingga Rp2,22 Juta

Selasa, 22 Sep 2026 | 17:03 WIB
Selanjutnya

Wako Fadly Amran Tutup Yamaha Cup Race Seri II 2026, Padang Kembali Jadi Magnet Balap Nasional

Tinggalkan komentar
Classy FM

Informasi

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Kategori

  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara

Networks

  • 🌎 KlikPositif
  • 🌎 KataSumbar
  • 🌎 Classy FM
  • 🌎 Classy Production
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Β© 2022 Klikpositif - Media Generasi Positif by Classy Corp.

Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara