PARIAMAN, KLIKPOSITIF – Harpen Agus Bulyandi atau yang lebih dikenal dengan nama Andy Cover adalah seorang tokoh politik imigran yang datang dari daratan Pandai Sikek, Tanah Datar – Sumbar dan mengabdikan diri di Kota Pariaman-Sumbar.Sebagai pendatang, tidak semua orang bisa menerima keberadaannya, terlebih bagi lawan politik yang pusatnya terkubur di Kota Tabuik itu.
Ragam rumor tentang pria kelahiran 13 Agustus 1978 itu berkembang dari mulut ke mulut. Ada juga yang membumbui dengan rasa pahit.
Mendengar gunjingan orang tentang Harpen Agus Bulyandi ibarat membaca satu majalah dengan tema derita dan juang. Pada cover majalah itu seolah-olah terpampang wajahnya dengan latar warna biru, hitam, merah dan kuning.
Sore itu, KLIKPOSITIF bertemu dengan Harpen Agus Bulyandi di kedai kopi. Ia mengenakan pakaian sederhana, kaca mata dan topi bertulisan Palestina. Percakapan tentang dirinya bermula dari arti sebuah nama.
“Harpen Agus Bulyandi adalah nama pemberian dari orangtua saya yang artinya Hari Penderitaan di bulan Agustus,” ungkap Andy Cover yang dilahirkan dari pasangan bernama Dasri dan Ernawati di Pandai Sikek.
Kelahiran Andy Cover pada Agustus itu dibalut konflik batin, ekonomi keluarganya porak poranda.
“Karena itu ayah memberi nama Harpen yang artinya Hari penderitaan,” jelas pria yang tinggi badannya 168 senti meter itu.
Badai kehidupan telah dirasanya sedini itu. Seingat dia, semasa balita sering ikut ayahnya yang kerja serabutan.
“Ikut ayah kerja serabutan. Kalau ke sawah, ayah bawa cangkul sembari menggendong saya di pundaknya,” ungkap Andy Cover.
Situasi ekonomi yang tidak menentu itu telah disadari oleh Andy Cover. Saat memasuki kelas 2 sekolah dasar ia memutuskan untuk bekerja sendiri, semampu nya tenaga pria yang belum di sunat.
“Setiap hari Selasa ada pasar di Pandai Sikek. Sepulang sekolah saya pergi jualan es, gorengan, lapek di pasar itu. Sembari jualan saya juga menawarkan jasa angkut barang,” ungkap Andy yang menamatkan sekolah dasar di SD Tanjung, Pandai Sikek, Tanah Datar itu.
Kendatipun telah ikut membantu untuk menambah penghasilan keluarga, upah dan hasil jualan di pasar itu tak kuat menopang kebutuhan, tak seberapa.
“Hal itu terus terjadi hari demi hari. Setiap hari kami makan seadanya. Makan nasi putih dibumbui garam dan cabai. Satu butir telur kami bagi lima,” jelas pria yang mempunyai tiga orang saudara itu.
Makanan kegemaran Andy kecil sebelum pergi sekolah adalah air rebusan beras (air tajin). Sembari menunggu air tajin disuguhkan oleh bundanya, Andy duduk termangu di depan perapian berpakaian seragam merah putih.
Riang lenggok Andy berangkat sekolah dengan perut dipenuhi air tajin. Langkah kecilnya kokoh dengan sepatu gambir di atas jalan berbatu.
“Kelas empat SD, saya berhenti sekolah karena orangtua tidak sanggup membiayai sekolah. Bunda pergi ke Jakarta. Semasa itu saya habiskan waktu untuk membantu ayah bekerja,” sebutnya.
Kebutuhan keluarga Andy saat itu ditopang oleh belas kasihan orang terdekat di samping mereka kerja serabutan dan menjadi kuli bangunan.
“Kalau datang lebaran, kami dapat baju baru yang dibeli ayah dengan harga 10 ribu rupiah tiga lembar. Tak lupa sendal juga baru, sendal jepang dengan warna hijau,” kenang Andy.
Dalam perjalanan hidup Andy Cover, ada suatu peristiwa yang dianggapnya sangat sakral. Ketika itu dia pergi membersihkan ladang cabai milik orang di kaki Gunung Singgalang.
“Setelah setengah hari membersihkan ladang cabai, saya tertidur. Dalam tidur saya bermimpi masuk ke dalam goa. Di sisi dinding goa ada suluh yang terbuat dari bambu. Saya ambil suluh yang sebelah kanan untuk menelusuri goa tersebut. Sampai pada ujung goa, di sana terdapat emas batang dengan ukuran besar,” katanya.
Dalam mimpi itu, Andy mengambil sedikit demi sedikit emas tersebut dan memberikannya pada tetangga.
“Setelah beberapa kali, akhirnya saya merasa besar hati dan mengambil secara keseluruhan emas tersebut. Namun saat semua emas itu saya angkat, tetiba saja emas itu hilang,” sebut Andy.
Mimpinya itu menjadi pelajaran bagi dirinya yang mengartikan hidup tidak boleh serakah dan ketika ada rezeki jangan lupa berbagi.
“Semenjak itu saya tekankan diri untuk berbagi. Bahkan ketika susah pun hendaklah berbagi,” ulas Andy.
Waktu berlalu, Andy Cover kembali melanjutkan sekolah dasar. Hingga tiba saat dia masuk Pondok Pesantren Haji Miskin, Tanah Datar.
Tiga tahun lamanya Andy menjadi anak pesantren.
Singkat cerita, dari pesantren Andy menyambung pendidikan ke MAN Koto Baru Kabupaten Solok dengan jurusan IPS hingga tamat.
Tahun 2000 bisa dikatakan tahun pertama Andy berkiprah di Kota Pariaman. Dengan keterampilan yang didapat dari sekolah ia bekerja sebagai pembuat ukiran kaligrafi.
“Satu kaligrafi itu dijual seharga tiga ratus hingga lima ratus ribu rupiah. Seperjalanan usaha itu, pada 2001 saya beranikan diri untuk meminjam uang sebagai modal usaha kepada Kepala Dinas Pariwisata,” ungkap Andy.
Ia dapat pinjaman modal sebesar Rp12,5 juta rupiah dari Kadis Pariwisata. Dengan uang tersebut dia buka usaha Cover Foto Studio.
“Usaha Cover Foto Studio itu cepat berkembangnya hingga saya punya karyawan. Pada 2004 saya menikahi Yulia Fitriani (istri) dan dikaruniai seorang anak pada 2005,” kata Andy.
Dikatakannya juga, satu bulan setelah anaknya lahir, studio foto miliknya kebakaran karena konsleting arus listrik. Hal itu tak membuat Andy jera. Pasca kebakaran ia kembali membuka studio foto dan berbagai usaha lainnya.
“Usaha kembali saya rintis. Puncaknya pada 2009, ada gempa besar yang membuat usaha hancur. Namun musibah itu pada sisi lain mendatangkan banyak orderan. Banyak yang ingin buat spanduk dan hal lainnya,” sebut Andy.
Pasca gempa, kantornya pindah ke kawasan Kampung Paneh (2010). Berawal dari sana CV. Cover milik Andy berkembang pesat hingga punya 4 cabang.
“Semenjak itu usaha terus berkembang seperti CV. Cover, PT. Covesia Media Siber, PT. Aka Solusi Teknologi, PT. Treko Media Kreatif, dan Event Organizer,” sebut Andy.
Hingga saat ini telah tercatat tujuh perusahaan yang dikelola oleh Andy Cover. Dalam perjalanan itu dia juga pernah ditipu oleh teman dekat hingga mengalami kerugian materi mencapai miliaran rupiah.
Pada tahun 2017, Andy Cover ingin terjun ke dunia politik. Ia memberanikan diri untuk mencalonkan diri sebagai wali kota.
“Kemauan untuk masuk ke dunia politik ini lantaran niat untuk bisa berbuat lebih banyak untuk masyarakat Pariaman. Namun di tahun itu saya gagal,” kata Andy Cover.
Kendatipun gagal, usahanya untuk meraih cita-cita tersebut diperkuat dengan berbagai usaha pengabdian pada masyarakat dengan slogan Aksi Nyata.
Nah masuk pada 2019, kata Andy lagi, dia mencalonkan diri untuk menjadi salah satu anggota DPRD Kota Pariaman. Saat itulah secara formal Andy dilantik sebagai tokoh politik atau anggota dewan di Kota Pariaman.
Setelah menjadi anggota dewan, Andy Cover tak pernah lupa dengan pesan yang ia dapat dari mimpinya dulu, terkait berbagi rezeki.
Semenjak awal menjabat hingga sekarang, gaji Andy Cover sebagai anggota dewan diberikannya kepada warga Kota Pariaman. Ia menjadi sosok dermawan di tengah-tengah warga.
Kendatipun sebagai tokoh politik pendatang, keberadaan Andy Cover begitu lekat di hati masyarakat Pariaman. Penilaian tentang dirinya lebih murni jika dilihat dari apa yang telah ia perbuat untuk masyarakat daripada harus menebar rumor tentang dirinya.






