SOLOK,KLIKPOSITIF β Yogi Kadri (29) pemuda asal Kabupaten Solok memulai usaha Body Shop Repaint atau bengkel cat motor hampir satu tahun yang lalu. Dia mengatakan ide usaha ini muncul setelah melihat usaha orang tuanya sebagai tukang tempel ban tidak kunjung berkembang. Yogi merasa perlu terobosan baru untuk menggerakkan usaha yang telah dijalani sang ayah selama bertahun-tahun.
βAyah sudah lama menjalankan bengkel tempel ban. Saya rasa perlu usaha lain untuk menggerakkan bengkel agar lebih ramai. Saya mulai belajar tentang proses menngecat part-part sepeda motor dari Youtube. Saya belajar secara autodidak, melalui banyak percobaan hingga akhirnya ada teman yang mau membayar untuk mengecat motornya,β kata Yogi, Senin 22/6.
Yogi mengatakan untuk modal awal membeli bahan-bahan cat dia harus membongkar celengan yang jumlahnya juga tidak banyak. Modal itu dia gunakan untuk membeli cat semprot kaleng dengan kualitas lumayan bagus. Beberapa orang teman, kata dia, rela motor mereka dijadikan bahan untuk Yogi belajar mengecat dan bereksperimen. Ada juga yang datang membawa bahan cat yang mereka beli sendiri dan meminta Yogi mengecat motor mereka. Setelah beberapa bulan dan menghabiskan belasan kaleng cat, permintaan untuk mengecat motor mulai datang satu per satu.
βOrang-orang mulai berdatangan dan minta motornya untuk dicat. Awalnya kebanyakan memang teman sendiri, tapi kemudian makin banyak orang yang tidak dikenal yang datang. Saat hasil pekerjaan saya dihargai dan dibayar, sejak saat itulah saya meyakini, usaha ini punya peluang untuk dikembangkan,β ujarnya.
Dia kemudian mengajukan pinjaman modal usaha KUR UMKM dari Bank BRI pada awal 2025. Pengajuan bantuan modal usaha itu langsung diproses dan dicairkan. Dengan pinjaman modal Rp 15 juta Yogi membeli sejumlah peralatan yang lebih layak untuk hasil pekerjaan yang lebih berkualitas. Dia membeli alat semprot cat (sprygun), selang kompresor baru, dan sejumlah material cat berwarna dasar. Dengan alat-alat yang lebih baik itulah, Yogi bisa bekerja dengan lebih maksimal dengan durasi kerja yang relatif lebih cepat.
βSaat ini kalau sedang ramai saya bisa mengecat 3 sampai 4 unit motor dalam satu bulan. Belum lagi yang pelanggan yang mengantarkan part-part motor seperti velg atau mesin motor. Kalau biaya cat motor tergantung besar kecilnya bidang motornya. Harga bisa berkisar dari Rp 800 ribu hingga Rp 1,5 juta per motor. Dan itu tergantung tipe motornya,β katanya.
Yogi mengaku sangat terbantu dengan adanya modal pinjaman usaha KUR UMKM dari Bank BRI. Menurut dia saat merintis usaha sendiri modal sering kali menjadi batu sandungan nomor satu bagi banyak orang, terlebih bagi anak muda yang ingin memulai usaha seperti dirinya. Dengan adanya bantuan modal usaha KUR UMKM ini, kata Yogi, setidaknya ada jalan keluar untuk mengawali usaha sendiri.
βAlhamdulillah, saya sangat tertolong dengan KUR UMKM ini. Apalagi usaha di kampung seperti kita ini kan tidak ada modal untuk merintis usaha sendiri. Dengan angsuran sekitar Rp 460 ribu per bulan, saya yakin bisa mendorong usaha ini berjalan,β tuturnya.
Pengamat ekonomi dan pengajar dari UIN Imam Bonjol Padang Ahmad Wira mengatakan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disubsidi pemerintah, khususnya melalui BRI sebagai penyalur terbesar, memiliki peran yang sangat signifikan dalam ekosistem permodalan UMKM. BRI secara konsisten menjadi penyalur KUR terbesar, menyumbang lebih dari 50% total penyaluran KUR nasional setiap tahunnya.
βData tahun 2023 menunjukkan penyaluran KUR BRI mencapai lebih dari Rp 200 triliun. Suntikan modal ini dapat menjangkau jutaan debitur UMKM di seluruh Indonesia. Angka ini mencerminkan besarnya ketergantungan pelaku UMKM dalam mengakses permodalan dengan bunga terjangkau. Meskipun data spesifik tentang jumlah UMKM baru yang lahir akibat KUR masih terbatas, beberapa studi menunjukkan bahwa KUR berhasil mendorong formalisasi usaha,β ujarnya lewat sambungan telpon.
Ahmad menjelaskan UMKM yang awalnya beroperasi secara informal terdorong untuk mendaftarkan usahanya agar dapat mengakses KUR. Dia menjelaskan siklus ini menciptakan efek ganda berupa permodalan yang lebih kuat, sekaligus peningkatan kapasitas kelembagaan usaha. Secara keseluruhan, KUR BRI dapat dinilai sebagai instrumen yang efektif. Meski begitu sistemnya sistemnya terus untuk disempurnakan, terutama dalam memastikan agar manfaatnya tidak hanya dinikmati oleh UMKM yang sudah mapan, tetapi juga menjangkau pelaku usaha pemula.
βProgram KUR BRI merupakan instrumen kebijakan permodalan yang strategis dengan dampak yang signifikan dalam tiga dimensi. Pertama menyokong permodalan UMKM yang sudah ada. Kedua berpotensi mendorong wirausaha baru terutama di kalangan muda. Dan menjadi tulang punggung pemerataan akses keuangan berkat jaringan distribusi BRI yang tidak tertandingi,β katanya.






