KLIKPOSITIF — Penulis nasional Yetti A. Ka membekali peserta Workshop Penulisan Karya Sastra UPTD Taman Budaya Sumatera Barat dengan teknik menyusun novel berbasis konsep “5 Tikungan dalam 3 Babak” (5T3B). Materi itu disampaikan dalam workshop yang berlangsung pada 5–7 Mei 2026 di Padang.
Dalam pemaparannya, Yetti menjelaskan bahwa penulisan novel harus dimulai dari premis yang kuat. Menurutnya, premis merupakan ide dasar cerita yang memuat tokoh utama, persoalan yang dihadapi, tujuan yang ingin dicapai, serta rintangan yang menghambat tokoh tersebut.
“Premis menjadi fondasi cerita. Dari situlah plot bergerak dan karakter berkembang,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya menciptakan karakter yang tidak sempurna agar cerita terasa hidup dan dekat dengan pembaca. Menurutnya, tokoh yang memiliki luka batin, keinginan, serta konflik personal akan lebih mudah menggerakkan alur cerita.
Dalam workshop itu, Yetti juga memaparkan struktur dasar novel yang terdiri dari pembuka, komplikasi, klimaks, dan penutup. Peserta diajak memahami bagaimana konflik dibangun hingga mencapai titik puncak sebelum akhirnya menemukan penyelesaian.
Selain itu, ia memperkenalkan konsep 5T3B yang membagi cerita ke dalam tiga babak besar dengan lima titik tikungan penting. Konsep tersebut digunakan untuk menjaga ritme cerita agar tetap bergerak dan tidak kehilangan arah.
“Setiap tikungan akan mengubah jalan cerita dan mendorong tokoh berkembang,” katanya.
Peserta juga dibimbing menyusun papan cerita atau story board untuk memetakan konflik dan perkembangan emosi tokoh di setiap adegan. Menurut Yetti, langkah itu penting agar penulis memiliki kendali terhadap alur cerita sejak awal.
Selain teknik penyusunan plot, Yetti turut mengenalkan berbagai sudut pandang penulisan, mulai dari narasi orang pertama hingga orang ketiga serba tahu. Materi tersebut diberikan agar peserta dapat memilih gaya penceritaan yang paling sesuai dengan karakter novel yang ditulis.
Workshop sastra yang digelar UPTD Taman Budaya Sumbar tahun ini difokuskan pada penulisan novel dengan tema “Tanah Suaka, Cipta Sastra Cinta Budaya”. Tiga naskah terbaik dari peserta nantinya akan diterbitkan dan diluncurkan dalam Festival Sastra Marah Rusli pada Oktober 2026 mendatang.












