TALANG, KLIKPOSITIF – Ali Aflahal (33) memulai usaha warung sembako miliknya pada tahun 2021. Warung Bara, begitu warung sederhana yang menyediakan berbagai kebutuhan pokok sehari-hari itu dia beri nama seperti nama anak pertamanya. Berawal dari warung kecil dengan rak dan satu etalase kaca kecil, kini Warung Bara yang terletak di bawah kaki Gunung Talang Kabupaten Solok itu perlahan berangsur tumbuh. Ali mengaku meski berada di kampung kecil di lereng gunung, dia terus berinovasi mengikuti perkembangan zaman.
“Saat awal memulai usaha ini, tempatnya tidak seluas ini. Hanya satu petakan kecil. Tapi saya berupaya menyediakan semua kebutuhan harian masyarakat. Secara bertahap keuntungan warung saya tabung. Dan inilah hasilnya seperti yang bisa dilihat saat ini. Sekarang sudah ada Pertamini (pom bensin mini), pembayaran digital dan transfer atau tarik tunai,” katanya Senin 8/6.
Ali mengatakan sejak tiga tahun yang lalu dia berupaya untuk menyediakan layanan pembayaran non tunai. Menurutnya meski berada jauh dari kota besar, pembayaran digital telah menjadi suatu layanan wajib yang harus disediakan jika ingin mendapatkan pelanggan tetap. Apalagi warung miliknya berada di pinggiran jalan utama yang menghubungkan beberapa kecamatan. Kondisi ini, bagi Ali menjadi keuntungan yang harus dioptimalkan.
“Pom bensin mini itu menjadi salah satu daya tarik utama di warung ini. Orang-orang yang mengisi bensin biasanya bertanya apakah pembayaran bisa lewat QRIS atau transfer. Jika kita bilang tidak, maka mereka akan berlalu begitu saja. Karena di zaman ini orang-orang tidak lagi membawa uang tunai ke mana-mana. Dan mereka ingin serba cepat. Pembayaran lewat QRIS itu cepat, tak perlu menunggu uang kembalian,” katanya.
Ali menjelaskan selain dari penjualan kebutuhan pokok, putaran uang di warung sembakonya didorong oleh pom bensin mini dan berbagai transaksi digital. Menurutnya transaksi digital seperti pembelian paket pulsa, transfer atau tarik tunai menjadi pembelian yang dominan di warungnya. Ali menuturkan SMA 1 Lembang Jaya Kabupaten Solok hanya berjarak sekitar 5 meter dari warungnya. Dia mengatakan keberadaan para siswa yang mayoritas menggunakan berbagai jenis layanan keuangan digital membuat kebutuhan transaksi non tunai menjadi keharusan.
“Banyak siswa yang belanja di sini minta pembayaran non tunai. Mereka biasanya membeli paket pulsa atau hanya sekedar jajan kue tapi maunya membayar pakai QRIS. Saya harus mengikuti perkembangan seperti itu. Ikut beradaptasi dengan teknologi. Untuk transaksi non tunai itu saya menggunakan aplikasi BRImo BRI. Semuanya lengkap di situ,” tuturnya.
Ali mengatakan saat ini omzet warungnya bisa mencapai sekitar Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta setiap harinya. Menurutnya jumlah itu meningkat cukup drastis sejak dia menyediakan layanan pembayaran non tunai. Dari jumlah pendapatan per hari tersebut, sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu laba bersih sudah bisa dia sisihkan untuk berbagai kebutuhan lainnya. Dari keuntungan itu juga dia bisa merenovasi warung dan menambah berbagai fasilitas pendukung lainnya.
“Mesin pom bensin itu baru. Rolling door ini juga baru dipasang beberapa hari lalu. Saya menambah kanopi dan beberapa etalase kaca. Semuanya habis sekitar Rp 30 juta. Itu semua dari dan untuk usaha kecil ini,” ujarnya.
Jiffi Machlan (28) warga setempat mengaku sangat terbantu dengan adanya layanan non tunai di warung di kampungnya. Selain untuk kebutuhan harian, transfer atau tarik tunai menjadi layanan yang paling bermanfaat dan sering digunakan. Dia mengatakan meskipun ada ATM atau bank di sekitar daerah itu, tapi tidak bisa diakses setiap waktu. Dengan adanya layanan transfer atau tarik tunai di warung sembako Bara dia mengaku sangat terbantu.
“Saya kadang harus mengirim uang untuk adik yang sedang kuliah di Kota Padang. ATM atau bank terdekat dari sini jaraknya sekitar 5 kilometer. Bank hanya buka sampai sore. Untuk menggunakan ATM kita pun harus mengantre lumayan panjang untuk bisa menarik atau mentransfer uang. Kita sangat terbantu dengan adanya layanan yang memudahkan ini,” katanya.






