KLIKPOSITIF – Kepala SMPN 2 Batipuh, Tanah Datar, Yetty Herawati Chan, menyebut rehabilitasi sekolah yang dilakukan pemerintah membuat semangat siswa dan guru dalam proses belajar mengajar, meningkat.
“Sangat bermanfaat dan sangat memotivasi. Ruang belajar, dulu atapnya sudah bocor dan plafonnya rusak kalau hujan. Setelah dibangun, semangat anak-anak dan guru-guru langsung nampak meningkat, apalagi warna catnya cerah,” ujar Yetty Herawati Chan, Jumat 30 Oktober 2026.
Tak hanya itu, menurut Yetty, para siswa jadi antusias dan selalu bertanya-tanya kapan bisa belajar di tempat baru. Mereka juga senang, karena pemerintah mengganti mobiler baru (perlengkapan pengisi ruangan seperti meja, kursi, lemari, atau papan tulis yang ada di sekolah maupun perkantoran). Menurut Yetty, mobiler tersebut terakhir kali diganti pada tahun 2012.
Sejumlah bangku dan meja belajar siswa telah ditata rapi di dalam ruangan. Namun, ruangan tersebut belum dapat difungsikan oleh siswa karena pengerjaan akhir bangunan belum tuntas 100 persen.
Saat ini, pemerintah merehab dua ruangan lokal. Satu ruangan Laboratorium IPA dan satu ruangan Perpustakaan, di SMPN 2 Batipuh. Untuk ruangan perpustakaan, Yetty mengaku sejak sekolah ini berdiri sekitar tahun 1970-an baru kali inilah direhab. Begitu juga dengan laboratorium IPA, yang kondisinya sudah tua dan belum pernah direnovasi.
“Guru IPA kita usianya sudah sekitar 56 tahun. Semenjak sekolah ini berdiri tahun 1971 baru kali inilah labornya diganti,” jelas Yetty.
SMP Negeri 2 Batiputih yang terletak di Nagari Pitalah, Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, ini tidak terdampak langsung bencana Sumatera. Tetapi sekolah ini mendapat bantuan revitalisasi melalui mekanisme penunjukan langsung pemerintah pusat berdasarkan pemutakhiran Data Pokok Pendidikan (Dapodik), mengingat kondisi fisik sekolah yang mengalami kerusakan.
Program revitalisasi yang sedang dilakukan di sekolah itu, merupakan bagian dari kebijakan pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI dengan total anggaran mencapai Rp 498.668.805.
Waktu pelaksanaan rehab ini adalah 120 hari kalender, yang dimulai 4 Agustus hingga 2 Desember 2026, dan saat ini progresnya hingga akhir Oktober sudah mencapai 70 persen.
Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, sekaligus Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, mengemukakan pada Senin (26/10/2026) bahwa total fasilitas pendidikan yang rusak ataupun yang hilang dalam bencana akibat siklon Senyar di tiga provinsi di Sumatera sebanyak 4.922 unit.
“Bencana Sumatera November 2025 yang lalu itu bencana yang cukup besar dan sangat luas meliputi tiga wilayah provinsi. Jumlah pengungsinya sampai 2 juta lebih, tapi sekarang sudah tidak lagi di tenda, sudah 0, kemudian jumlah kabupaten kota terdampak 53, kecamatan 493, desanya 4.533, rumah ibadahnya 1.563, jembatan yang terdampak 1193, kemudian juga jalan yang terdampak 2485 titik. Fasilitas pendidikan yang rusak itu ataupun yang hilang, totalnya 4.922,” kata Tito di Ruang Rapat Posko Nasional Satgas PRR di Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta.
Tito meminta prioritas khusus untuk pemulihan sungai, tanggul, dan irigasi karena sebentar lagi memasuki musim hujan. Jika kondisi sungai, tanggul, dan irigasi belum pulih saat musim hujan datang, bencana susulan (berupa banjir dan tanah longsor) akan terjadi.
Revitalisasi Sekolah dalam Renduk PRRP Sumatera
Dalam dokumen Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatera 2026–2028, pemulihan sektor pendidikan diarahkan untuk memastikan kegiatan belajar tetap berlangsung sekaligus membangun kembali fasilitas pendidikan yang lebih aman dan tangguh terhadap bencana.
Program pemulihan tidak hanya menyasar perbaikan sekolah yang mengalami kerusakan ringan, sedang, dan berat melalui revitalisasi satuan pendidikan. Pemerintah juga merencanakan pembangunan sekolah baru atau relokasi bagi satuan pendidikan yang mengalami kerusakan total. Untuk menjaga keberlangsungan kegiatan belajar, Renduk turut memuat penyediaan 2.297 ruang kelas darurat semi permanen di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Selain pemulihan bangunan, intervensi pendidikan mencakup pemenuhan perlengkapan belajar siswa, pendampingan pemulihan psikologis atau trauma healing, tunjangan khusus bagi pendidik dan tenaga kependidikan terdampak, serta pelatihan pembelajaran dalam situasi darurat. Dengan demikian, pemulihan pendidikan diarahkan bukan sekadar memperbaiki bangunan sekolah, tetapi juga memastikan kegiatan belajar mengajar kembali berjalan dan lebih tangguh menghadapi risiko bencana. (*)














