KLIKPOSITIF — Saat mendengar komunikasi dengan khalayak ramai, misalnya konferensi pers, program sosialisasi masyarakat, atau pada saat pidato, kita kerap mendengar istilah asing/sulit.
Istilah yang mungkin sebagian orang masih bisa menalar, namun pada sebagian orang mungkin tidak mengerti maknanya sama sekali.
Motif yang bisa dibaca adalah komunikator ingin menegaskan status sosial atau menunjukkan status akademis. Bisa saja komunikator ingin terlihat lebih menguasai materi atau terlihat percaya diri di muka umum. Apakah bahasa yang anda rencanakan untuk digunakan dalam berkomunikasi sesuai dengan pola bicara anda sendiri.
Tidak semua pilihan bahasa cocok untuk semua komunikator. Bahasa yang dipilih lebih diutamakan cocok untuk komunikator, bukan untuk komunikan. Hal ini untuk menghindari kesalahan komunikator dalam memaknai apa yang seharusnya disampaikan.
Jika anda seorang mahasiswa tahun pertama, tidak perlu memaksakan diri untuk terdengar seperti ahli filsuf, atau layaknya ketika anda sedang memberikan pidato tentang unsur atom baru. Salah satu kesalahan terbesar yang dilakukan komunikasikan adalah berpikir bahwa mereka harus menggunakan terminologi akademis atau kompleks karena itu membuat mereka terdengar lebih pintar.
Sebenarnya, istilah tersebut pada awalnya cenderung tidak berfungsi dengan baik dalam komunikasi lisan, jadi menggunakannya mungkin akan membuat komunikator tidak nyaman sebagai pembicara. Kemungkinan sulit bagi komunikator atau audiens untuk memahami makna saat menggunakan kata-kata seperti itu, sehingga menggunakannya dapat meningkatkan risiko kesalahpahaman.
Penggunaan istilah sulit untuk berkomunikasi sebaiknya mempertimbangkan karakteristik dari audiens. Jika anda seorang insinyur, anda bisa menggunakan kosa kata yang lazim diketahui oleh kalangan insinyur lainnya. Di sisi lain, jika anda menggunakan kosakata yang hanya diketahui insinyur saat anda berbicara di depan umum, tentu audiens tidak memahami apa yang anda maksud. Untuk apa berkomunikasi dengan menggunakan kata yang justru tidak dimengerti oleh audiens.
Niatan awal dari komunikator yang semula ingin menyampaikan informasi kepada audiens justru berubah menjadi memberikan beban bagi audiens untuk mencari tahu atau menalar apa makna dari kata yang didengar.
Pada dasarnya tidak ada salahnya jika seseorang menggunakan istilah sulit sepanjang audiens mengerti apa yang dimaksud oleh komunikator. Ini juga menegaskan bahwa komunikator berwawasan luas. Keuntungan lain dari penggunaan istilah sulit saat berkomunikasi dengan audiens yang tepat adalah untuk menunjukkan kredibilitas dari komunikator sehingga mendapat pengakuan dari audiens.
Itulah mengapa motivator terkenal selalu menggunakan kalimat yang formal, berkaedah EYD, dan memperhatikan tata bahasa saat membawakan seminar.
Pemilihan kata saat berkomunikasi juga perlu mempertimbangkan konteks berlangsungnya komunikasi. Komunikator tidak perlu memaksakan diksi tertentu hanya untuk mempermudah cara komunikasinya di hadapan audiens. Tentu anda pernah mendengar salah seorang yang menyampaikan konferensi pers mengenai berita duka, namun kalimat pembuka justru menggunakan frasa “hadirin yang berbahagia”.
Seolah tidak ada kosakata lain yang menyesuaikan konteks berlangsungnya komunikasi. Kita bisa belajar dari istilah “The Seven Communication” yang dikemukakan oleh M. Cutlip (1952). Satu diantaranya adalah pentingnya memahami konteks berlangsungnya komunikasi sehingga audiens bisa mengikuti frekuensi pembicaraan komunikator.
Di satu sisi, kelemahan lain dari penggunaan istilah sulit dalam berkomunikasi adalah menimbulkan kondisi ketidaknyamanan di pihak audiens. Audiens sedari awal merasa tidak penting untuk mendengar apa yang disampaikan oleh komunikator karena tidak mengerti dan tidak mendapatkan manfaat sama sekali dari informasi yang disampaikan oleh komunikator.
Pada dasarnya, audiens cenderung lebih mudah memahami informasi yang bersifat deskriptif. Maka dari itu, kebanyakan komunikator menggunakan istilah sulit sebagai cara praktis dan ringkas untuk menjelaskan gambaran kalimat yang kompleks dan panjang. Masalahnya, komunikasi bukan sekedar menyampaikan informasi namun bagaimana cara informasi tersebut bisa diterima dengan baik oleh audiens.
Menggunakan lebih banyak kata tidak selalu membuat komunikasi berjalan lebih baik. Faktanya, sebagian besar miskomunikasi terjadi ketika terlalu banyak informasi yang tidak perlu dan banyak retorika. Komunikator lebih baik menggunakan analogi untuk menyederhanakan kalimat kompleks dan panjang. Sebagai contoh: audiens kemungkinan tidak banyak yang tahu istilah tentang teknologi nano, fisika nuklir atau instrumen keuangan. Alih-alih menggunakan istilah sulit, komunikator bisa menyederhanakan konsep yang kompleks tersebut dengan cara menyampaikan kerangka acuan yang familiar untuk memahami sesuatu yang baru.
Pesan bisa dikemas singkat tanpa mengurangi substansinya. Contoh implementasinya, saat Albert Einstein menjelaskan teknologi radio dengan baik melalui sebuah analogi:
Albert Einstein dengan cemerlang menggunakan analogi ini untuk menjelaskan radio, sebuah teknologi baru pada masa itu:
“Anda tahu, telegraf kawat adalah sejenis kucing yang sangat, sangat panjang. Anda menarik ekornya di New York dan kepalanya mengeong di Los Angeles. Apakah kamu mengerti ini? Dan radio beroperasi dengan cara yang persis sama: Anda mengirim sinyal di sini, mereka menerimanya di sana. Satu-satunya perbedaan adalah tidak ada kucing, melainkan radio.”







