KLIKPOSITIF – Pelestarian seni tradisi Minangkabau terus dikenalkan kepada generasi muda melalui berbagai ruang ekspresi. Salah satunya terlihat dalam pelaksanaan Saba Fest 3 yang digelar UPTD Taman Budaya Sumatera Barat pada 5–6 Agustus 2026.
Selama dua hari pelaksanaan, sejumlah sanggar seni melibatkan anak-anak untuk menampilkan berbagai kesenian, mulai dari tari, musik, hingga pertunjukan seni tradisi lainnya. Penampilan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus menjaga keberlanjutan kesenian tradisional kepada generasi muda.
Pada hari pertama, Sanggar PSBN Tuah Sakato menampilkan tari Indang dan solo song. Kemudian Sanggar Galatiak membawakan tari “Dulang Badarak, Galatiak Basikencak”.
Penampilan berikutnya hadir dari Sanggar Tari Alang Babega melalui tari “Rampak Tingkah Basamo” dan “Yoo Tagok Saroso”. Sementara Sanggar Soyfani membawakan Tari Hawai, “Payuang Bagurau”, dan “Sairiang”.
Hari pertama ditutup dengan penampilan Sanggar PSBG Harapan Ibu yang membawakan Tari Gayuang Palinggam.
Pada hari kedua, penampilan seni dilanjutkan Sanggar Cahayo Bundo dengan tari “Sapayuang Luhak Nan Tigo” dan “Si Gadih Poi Kapasa”. Sanggar Mutiara Minang kemudian menampilkan tari “Molah Manyosah”, “Galuik Kang Pai Mangaji”, dan “Tanah Pusako”.
Sanggar Tari Alang Babega kembali tampil pada hari kedua dengan membawakan tari “Galuik Katidiang” dan “Pituah Bundo”. Sementara Sanggar Tari Edelweiss Bukittinggi menampilkan tari “Salingka Rayun Saraso” dan “Tigo Sarantak”.
Kepala UPTD Taman Budaya Sumatera Barat, M. Devid, mengatakan keterlibatan anak-anak dalam pertunjukan seni tradisi menjadi salah satu bentuk pelestarian budaya.
Menurutnya, anak-anak tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga diberi kesempatan untuk mempelajari dan menampilkan langsung kesenian tradisi yang berkembang di tengah masyarakat.
“Penampilan tari anak-anak ini merupakan bentuk pelestarian budaya. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ruang ekspresi bagi anak-anak,” kata M. Devid.
Ia berharap kegiatan yang memberikan ruang kepada anak-anak untuk mengenal dan mempraktikkan seni tradisi dapat terus dilakukan. Dengan demikian, kesenian tradisional tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi tetap hidup dan berkembang di tengah generasi muda.
Pelaksanaan Saba Fest 3 sebelumnya juga menghadirkan berbagai kegiatan yang mendorong kreativitas anak. Selain pertunjukan seni, kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Anak tersebut diisi dengan pameran lukisan serta lomba menggambar dan mewarnai yang diikuti puluhan siswa sekolah dasar di Kota Padang.
Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan dengan memberikan ruang kepada anak-anak untuk berkarya. Melalui pengalaman langsung di atas panggung maupun dalam kegiatan seni lainnya, mereka diperkenalkan pada seni tradisi sekaligus didorong untuk menjadi bagian dari keberlanjutan budaya Minangkabau.















