KLIKPOSITIF – Sektor jasa keuangan di Sumatera Barat pada posisi Januari 2025 tercatat tumbuh positif dengan tingkat risiko yang masih terjaga dan turut mendukung pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat. Tercermin dari pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) triwulan IV-2024 (yoy) sebesar 4,04 persen. Total aset perbankan pada posisi Januari 2025 adalah sebesar Rp84,44 triliun atau tumbuh sebesar 5,49 persen dari posisi yang sama pada tahun sebelumnya (yoy), dengan total penyaluran kredit/pembiayaan sebesar Rp73,24 triliun atau tumbuh 5,14 persen (yoy).
Sementara itu, total penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) adalah sebesar Rp56,37 triliun atau tumbuh sebesar 3,77 persen (yoy). Risiko kredit masih terjaga dengan rasio NPL 2,37 persen, meskipun sedikit naik dibandingkan posisi yang sama pada tahun sebelumnya sebesar 2,25 persen. Penyaluran kredit untuk pelaku UMKM mencapai Rp31,42 triliun, tumbuh sebesar 1,11 persen (yoy) atau 42,91 persen dari total kredit.
Untuk perbankan syariah pada posisi Januari 2025, total aset adalah sebesar Rp12,72 triliun, atau tumbuh sebesar 22,17 persen (yoy) dengan total penghimpunan DPK sebesar Rp10,74 triliun atau tumbuh sebesar 10,31 persen (yoy), dan total penyaluran pembiayaan sebesar Rp10,59 triliun atau tumbuh 20,14 persen (yoy). Risiko pembiayaan juga masih terjaga dengan rasio NPF 1,44 persen, atau turun dibandingkan posisi yang sama pada tahun sebelumnya sebesar 1,63 persen.
Bank Perekonomian Rakyat (BPR) pada posisi Januari 2025 juga tumbuh dengan baik. Total aset adalah sebesar Rp2,79 triliun atau tumbuh 7,71 persen (yoy), dengan total penghimpunan DPK adalah sebesar Rp2,04 triliun atau tumbuh 4,71 persen (yoy), dan total penyaluran kredit/pembiayaan sebesar Rp2,15 triliun atau tumbuh 10,03 persen (yoy), dengan 71,83 persen merupakan kredit/pembiayaan bagi UMKM.
Namun demikian, rasio kredit/pembiayaan bermasalah terhadap total kredit meningkat, yang tercermin dari peningkatan rasio NPL/NPF yaitu dari 8,01 persen pada posisi Januari 2024 menjadi 10,03 persen pada posisi Januari 2025. Kenaikan rasio NPL/NPF ini disebabkan telah berakhirnya stimulus restrukturisasi kredit perbankan untuk dampak Covid-19 pada 31 Maret 2024, sementara kemampuan membayar debitur masih relatif rendah.
Pada industri Pasar Modal, jumlah Single Investor Identification (SID) terus tumbuh. Data Januari 2025, total SID berjumlah 198.057 investor atau tumbuh sebesar 13,45 persen (yoy). Dari total SID tersebut, jumlah SID saham adalah 94.620 investor atau tumbuh 22,05 persen (yoy), jumlah SID Reksa Dana adalah 187.404 investor atau tumbuh 13,68 persen (yoy), jumlah SID Surat Berharga Negara (SBN) adalah 8.564 investor atau tumbuh 19,99 persen (yoy), dan jumlah SID Efek Beragunan Aset (EBA) adalah 3 investor.
Perkembangan Sektor IKNB Sumatera Barat
Pertumbuhan Industri Keuangan Non-Bank posisi Januari 2025, khususnya Perusahaan Pembiayaan cukup baik dengan total pembiayaan yang disalurkan adalah sebesar Rp5,53 triliun atau tumbuh 3,86 persen persen (yoy), dan risiko pembiayaan NPF tercatat sebesar 3,17 persen atau naik dibandingkan posisi yang sama pada tahun sebelumnya.
Pertumbuhan Lembaga Keuangan Mikro posisi Januari 2025 cenderung stagnan walau terjadi sedikit penurunan, dengan total aset sebesar Rp6,82 miliar atau terkontraksi 1,15 persen dari posisi yang sama pada tahun sebelumnya (yoy), total penyaluran pembiayaan sebesar Rp2,36 miliar atau terkontraksi 6,59 persen (yoy), dan jumlah debitur existing sebanyak 756 debitur atau terkontraksi 5,97 persen dari posisi yang sama pada tahun sebelumnya (yoy).
Perkembangan Edukasi dan Pelindungan Konsumen
Posisi Januari 2025, Kantor OJK Provinsi Sumatera Barat telah menyelenggarakan 3 kegiatan edukasi secara langsung, dan 5 edukasi secara tidak langsung melalui media sosial dan media cetak. Sasaran peserta edukasi yaitu kepada masyarakat umum, UMKM dan pelajar/mahasiswa. Kegiatan edukasi tersebut dilakukan dengan target meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap tugas OJK, produk dan layanan industri jasa keuangan, serta waspada aktivitas keuangan ilegal.
Di bidang pelindungan konsumen, posisi Januari 2025, pada Aplikasi Portal Perlindungan Konsumen (APPK) tercatat sebanyak 302 layanan masyarakat yang berdomisili di Sumatera Barat dan berasal dari Pelaku Usaha Jasa Keuangan yang diawasi Otoritas Jasa Keuangan, yang terdiri dari 71 pengaduan, 7 pemberian informasi dan 224 pertanyaan.
Selain itu, dari layanan masuk lainnya, sebanyak 312 layanan terkait dengan entitas yang tidak diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan, di antaranya pertanyaan mengenai pinjaman online ilegal serta penawaran investasi ilegal.







