PADANG, KLIKPOSITIF — Politeknik Negeri Padang (PNP) kembali membuktikan diri sebagai salah satu perguruan tinggi vokasi yang paling diminati di Sumatera Barat. Hingga pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Mandiri Konsorsium Politeknik Negeri (SM-KPN), jumlah peminat PNP pada Tahun Akademik 2026/2027 tercatat hampir mencapai 24 ribu orang melalui berbagai jalur penerimaan mahasiswa baru.
Tingginya animo masyarakat, tentu menjadi indikator semakin meningkatnya kepercayaan terhadap pendidikan vokasi yang berorientasi pada kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. PNP bahkan masih berpeluang mencatatkan jumlah peminat yang lebih besar karena sejumlah jalur penerimaan mahasiswa baru masih berlangsung.
Direktur PNP, Revalin Herdianto, mengatakan hingga saat ini jumlah peminat yang tercatat berasal dari berbagai skema seleksi nasional maupun mandiri. Sebanyak sekitar 3.300 calon mahasiswa mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), lebih dari 18.600 peserta mendaftar melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), serta 2.010 peserta mengikuti Seleksi Mandiri Konsorsium Politeknik Negeri.
“Jumlah ini masih bisa bertambah karena masih ada beberapa jalur seleksi yang belum selesai, termasuk jalur portofolio dan penerimaan mahasiswa pada program studi di luar kampus utama,” ujar Revalin usai meninjau pelaksanaan Seleksi Mandiri di kampus PNP, Sabtu (6/6/2026).
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa pendidikan vokasi semakin mendapat tempat di tengah masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, lulusan perguruan tinggi vokasi dinilai memiliki peluang yang besar untuk memasuki dunia kerja karena dibekali kompetensi praktis yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Pada pelaksanaan Seleksi Mandiri Konsorsium Politeknik Negeri tahun ini, sebanyak 2.010 peserta mengikuti ujian untuk memperebutkan 756 kursi yang tersedia. Meski demikian, jumlah kursi tersebut belum bersifat final, karena masih menunggu proses registrasi ulang peserta yang dinyatakan lulus melalui jalur SNBT.
Revalin menjelaskan, PNP menyediakan lebih dari 1.100 kursi pada jalur SNBT. Jumlah kursi tersebut diperebutkan oleh lebih dari 18 ribu peserta dari berbagai daerah. Namun, apabila terdapat peserta yang telah dinyatakan lulus tetapi tidak melakukan registrasi ulang, maka kursi yang kosong akan dialihkan ke jalur seleksi berikutnya sesuai aturan yang berlaku.
“Kemungkinan akan ada perubahan daya tampung. Kuota yang tidak terisi pada jalur sebelumnya dapat dialihkan ke jalur berikutnya. Kondisi tersebut membuat peluang peserta pada jalur mandiri masih cukup terbuka. Bahkan, persentase penerimaan mahasiswa baru melalui jalur mandiri diperkirakan akan meningkat dibandingkan rencana awal,” katanya.
Semula, kata Revalin melanjutkan, jalur mandiri dirancang untuk menampung sekitar 30 persen dari total mahasiswa baru yang diterima PNP pada tahun akademik ini. Namun setelah proses redistribusi kuota dilakukan, jumlah tersebut berpotensi meningkat menjadi lebih dari 40 persen dari total daya tampung yang tersedia.
“Perubahan komposisi ini sangat bergantung pada hasil registrasi ulang peserta yang lulus pada jalur nasional. Jika ada kuota yang tidak terisi, maka akan dialihkan ke jalur mandiri,” jelasnya.
Selain tingginya jumlah peminat, PNP juga menghadirkan program studi baru untuk menjawab kebutuhan perkembangan teknologi informasi dan transformasi digital yang terus berkembang. Pada tahun akademik 2026/2027, PNP resmi membuka Program Studi Teknologi Rekayasa Internet.
Program studi baru tersebut hanya menerima mahasiswa melalui jalur mandiri. Hal ini disebabkan izin operasional program studi baru ini diterbitkan pada Mei 2026, sementara pelaporan kuota penerimaan mahasiswa untuk jalur SNBP dan SNBT telah ditutup lebih dahulu. “Karena izin keluar setelah pelaporan kuota jalur nasional selesai, maka penerimaan mahasiswa Prodi Teknologi Rekayasa Internet hanya bisa dilakukan melalui jalur mandiri,” ujar Revalin.
Program Studi Teknologi Rekayasa Internet memperoleh alokasi dua kelas dengan total daya tampung sebanyak 56 mahasiswa. “Kehadiran program studi baru ini diharapkan dapat menjawab kebutuhan tenaga profesional di bidang teknologi jaringan, infrastruktur internet, komputasi berbasis jaringan, hingga pengembangan sistem komunikasi digital yang saat ini terus berkembang pesat,” pungkas Revalin.(*)










