KLIKPOSITIF –– Lampu panggung meredup, tampak sosok aktor yang berdiri di tengah ruang. Suara lirihnya memecah keheningan, “Sejauh apa pun kau merantau tanah ini akan selalu memanggilmu…” Kalimat itu menggema, menjadi sari kisah Malin Kundang versi Komunitas Payung Sumatera pada malam pertama Parade Teater Sumbar 2025, Jumat (8/8).
Diarahkan oleh Fabio Yuda—yang juga turut bermain bersama Venny Rosalina, Ditta Putri, Selvi Rahmadani, Yunita Dwijaya, dan Sania Lopela—The Malin Kundang’s Rhetoric bukan sekadar kisah anak durhaka. Di tangan mereka, legenda ini direkonstruksi menjadi cerita yang lebih personal dan penuh perenungan, tentang ikatan tanah kelahiran dan takdir yang tak bisa dihindari. Gerak tubuh yang ritmis, dialog yang disampaikan dengan emosi terjaga, serta musik latar yang penuh dinamika membuat penonton larut dalam perjalanan batin sang tokoh.
The Malin Kundang Rhetoric mengajukan pertanyaan fundamental: Kepada siapa loyalitas sejati harus diberikan? Kepada institusi keluarga yang melukai, ataukah kepada diri sendiri yang berhak mendapat keselamatan? Malin memilih loyalitas pada kesehatan mentalnya sendiri. Dia menolak menjadi generasi yang melanggengkan trauma, dan dalam penolakan itu, dia menciptakan ruang bagi generasi baru untuk mendefinisikan ulang makna cinta, keluarga, dan kehormatan.
Malam berikutnya, Sabtu (9/8), giliran KSST Noktah yang mengambil alih panggung. Pagi Bening, karya Serafin-Joaquin Alvares Quintaro yang disutradarai Syuhendri, menyapa penonton dengan premis yang tajam: yang abadi dalam cinta hanyalah kenangan—dan penolakan yang lugas, “Faktanya adalah… Bullshit.” Dialog penuh ironi itu menjadi pintu masuk pada kisah yang getir, namun dibawakan dengan kehangatan oleh Yuli Astuti Khandra, Yuni Mulia Helmi, Salman, dan Reza Acong.
Di tangan KSST Noktah, Pagi Bening menjadi perbincangan lirih di antara penonton usai pertunjukan. Ada yang tertawa kecil mengingat adegan-adegan sarkastik, ada pula yang terdiam lama, seperti memikirkan kembali fragmen cintanya sendiri.
Parade Teater Sumbar 2025, yang digelar oleh UPTD Taman Budaya Sumatera Barat pada 8, 9, 15, dan 16 Agustus ini, menjadi ruang di mana kekayaan seni teater lokal menemukan panggung terbaiknya.
Kepala Taman Budaya Sumbar, M. Devid, menegaskan bahwa empat kelompok terpilih—Payung Sumatera, KSST Noktah, Komunitas Hitam Putih, dan Studio Sangka Duo—diharapkan memberi gambaran utuh tentang dinamika teater Sumbar hari ini.
Parade Teater ini menjadi ajang pengantar sebelum diselengarakannya Festival Teater Sumatera Barat Alek Teater 9 pada bulan September 2025 yang akan menamapilkan 12 kelompok hasil kurasi, yakni Komunitas Seni Budaya Ranah Sijunjung, Teater Asa, Komunitas Cermin, KS-Kuliek, Teater Langkah, Komunitas Teater Binggo, Teater Balai, Komunitas Teater Aksara, UKS Universitas Baiturrahmah, UKS Universitas Andalas, Teater OASE (UK-Kes) UNP, Komunitas Seni Gaung Ganto.






