Selasa, 01 Sep 2026 - 00:02 WIB
Klikpositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Home Life Health

Melihat Hubungan Kecemasan dan Insomnia

Fitria Marlina
Rabu, 15 Jul 2026 | 16:15 WIB
Share on FacebookShare on Twitter

KLIKPOSITIF – Gangguan kecemasan dan insomnia memiliki hubungan yang erat serta dapat saling memengaruhi. Para ahli kesehatan menyebutkan bahwa kurang tidur dapat meningkatkan risiko munculnya gangguan kecemasan, sementara kecemasan yang berlebihan juga dapat membuat seseorang sulit mendapatkan tidur yang berkualitas.

Insomnia merupakan gangguan tidur yang ditandai dengan kesulitan untuk mulai tidur, sering terbangun di malam hari, bangun terlalu dini, atau tetap merasa lelah meski telah tidur semalaman. Di sisi lain, kecemasan merupakan respons alami tubuh terhadap stres. Namun, apabila rasa cemas berlangsung selama enam bulan atau lebih dan mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut dapat dikategorikan sebagai gangguan kecemasan.

Data dari Mental Health America menunjukkan hampir dua pertiga masyarakat Amerika Serikat mengaku kehilangan waktu tidur akibat stres. Organisasi tersebut juga menyebutkan bahwa kebiasaan tidur yang buruk berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi dan gangguan kecemasan.

Sejumlah penelitian menemukan sekitar 36 persen penderita gangguan kecemasan juga mengalami insomnia. Para peneliti menjelaskan bahwa hubungan keduanya bersifat dua arah. Kurang tidur dapat memperburuk gejala kecemasan dan menghambat proses pemulihan, sementara kecemasan yang tidak terkendali sering memicu insomnia maupun mimpi buruk.

Penelitian yang dipublikasikan pada 2021 juga menunjukkan bahwa perbaikan kualitas tidur mampu memberikan dampak positif terhadap penurunan tingkat kecemasan, depresi, stres, serta kecenderungan berpikir berlebihan (rumination).

Menurut para ahli, tidur yang cukup berperan penting dalam menjaga fungsi otak, termasuk kemampuan mengambil keputusan, memecahkan masalah, mengendalikan emosi, belajar, dan mempertahankan konsentrasi. Ketika seseorang mengalami kurang tidur, berbagai kemampuan tersebut dapat menurun sehingga berpotensi meningkatkan tekanan psikologis.

Bagi masyarakat yang mengalami kesulitan tidur secara terus-menerus, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. Selain melakukan pemeriksaan fisik, tenaga medis dapat meminta pasien mencatat pola tidur selama beberapa minggu melalui buku harian tidur (sleep diary). Jika diperlukan, pasien akan dirujuk ke dokter spesialis gangguan tidur untuk menjalani pemeriksaan polysomnogram atau sleep study, yakni pemeriksaan yang memantau berbagai aktivitas tubuh selama tidur.

Baca Juga

BPJS Ketenagakerjaan Solok Laksanakan Medical Check Up Karyawan di Semen Padang Hospital

Senin, 31 Agu 2026 | 14:50 WIB

Pentingnya Sarapan Sehat untuk Jaga Energi Sepanjang Hari

Kamis, 27 Agu 2026 | 15:28 WIB

Dalam penanganan insomnia, terapi perilaku kognitif untuk insomnia (Cognitive Behavioral Therapy for Insomnia/CBT-I) kini menjadi salah satu pilihan utama selain penggunaan obat tidur. Terapi ini membantu pasien mengenali dan mengubah pola pikir maupun kebiasaan yang mengganggu kualitas tidur, termasuk kecemasan berlebihan saat mencoba untuk tertidur.

Selain menjalani terapi, para ahli juga menyarankan penerapan kebiasaan tidur yang sehat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain melakukan latihan relaksasi seperti teknik pernapasan, meditasi, atau relaksasi otot sebelum tidur, menggunakan kamar tidur hanya untuk beristirahat, menjaga jadwal tidur dan bangun yang konsisten setiap hari, menghindari tidur siang berlebihan, serta membatasi konsumsi kafein, nikotin, dan alkohol menjelang waktu tidur.

Menciptakan lingkungan tidur yang nyaman dengan kasur dan bantal yang sesuai juga dinilai dapat membantu meningkatkan kualitas istirahat. Dokter dapat memberikan rekomendasi tambahan yang disesuaikan dengan kondisi kesehatan, lingkungan, dan gaya hidup masing-masing individu guna mendukung terciptanya pola tidur yang lebih sehat.

Tags: HealthInsomnia

Berita Lainnya

BPJS Ketenagakerjaan Solok Laksanakan Medical Check Up Karyawan di Semen Padang Hospital

Senin, 31 Agu 2026 | 14:50 WIB

Pentingnya Sarapan Sehat untuk Jaga Energi Sepanjang Hari

Kamis, 27 Agu 2026 | 15:28 WIB

Tujuh Makanan Probiotik yang Bisa Anda Coba Selain Yogurt

Kamis, 27 Agu 2026 | 09:51 WIB

Haruskah Anda Makan Salad untuk Sarapan?

Kamis, 27 Agu 2026 | 07:39 WIB
Selanjutnya

BRI Kunjungi Nasabah di Painan, Perkuat Layanan Perbankan

Tinggalkan komentar
Classy FM

Informasi

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Kategori

  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara

Networks

  • 🌎 KlikPositif
  • 🌎 KataSumbar
  • 🌎 Classy FM
  • 🌎 Classy Production
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

© 2022 Klikpositif - Media Generasi Positif by Classy Corp.

Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara