KLIKPOSITIF — Perceraian saat ini bukan lagi menjadi sebuah hal yang tabu atau asing di tengah-tengah masyarakat, bahkan bukan menjadi aib lagi untuk dipertontonkan.
Media elektronik maupun online seolah-olah juga berlomba-lomba untuk memberitakannya sehingga informasi dan masalah perceraian mulai dari kalangan yang tidak terkenal sampai yang terkenalkhususnya pada publik figur (artis) tersebar luas dengan begitu cepatnya.
Jauh sebelumnya masalah perceraian ini seperti ditutupi karena bisa membuat malu baik keluarga tersebut sampai kepada keluarga besarnya.
Namun, sekarang pada sebagian kaum malah menjadikan perceraian sebagai untuk mendongkrak popularitas sehingga lebih dikenal oleh khalayak ramai. Fenomena perceraian ini sungguh sangat mengkhawatirkan dengan ditandai terus meningkatnya angka kasus perceraian di Indonesia.
Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, jumlah kasus perceraian di tanah air mencapai 447.743 kasus pada tahun 2021, meningkat sebesar 53,50% dibandingkan tahun 2020 yang mencapai 291.677 kasus.
Perselisihan dan pertengkaran terus saja menjadi alasan kuat yang menjadi penyebab kasus perceraian tertinggi pada tahun 2021, yaitu sebanyak 279.205 kasus. Setelah itu diikuti oleh alasan ekonomi, KDRT, salah satu pihak yang meninggalkan, poligami dan perselingkuhan. Jika menelisik lebih dalam, tentu saja penyebab inti dari semua pemicu kasus perceraian bersumber dari sebuah komunikasi.
Komunikasi menjadi sebuah sumber segalanya, dengan tidak terbangunnya komunikasi yang bagus antar personal tentu saja dapat menjadi penghambat untuk terjadi sebuah konflik interpersonal yang akan berakibat pada perceraian. Setiap pasangan tentu saja harus bisa membangun, membina serta mempererat komunikasi interpersonal agar dapat terhindar dari perselisihan, pertengkaran, sehingga berujung kepada perceraian.
Komunikasi yang efektif dan baik merupakan sebuah kebutuhan yang sudah tidak dapat ditolerir lagi. Apapun yang akan dilakukan antar pasangan tentu saja melalui sebuah komunikasi interpersonal dua arah agar dapat saling memahami dan mengerti satu sama lain. Jika tidak ada sebuah komunikasi ini, tentu saja setiap pasangan tidak dapat mengerti apa yang dirasakan maupun yang tidak disukai oleh satu sama lainnya.
Melalui komunikasi yang efektif dan baik, akan berefek kepada kelangsungan serta keharmonisan dalam sebuah keluarga serta juga berefek ke hubungan interpersonal dalam bermasyarakat.
Menurut West & Turner, komunikasi merupakan proses sosial dimana individu-individu menggunakan symbol dalam upaya menciptakan dan menginterpretasikan makna dalam lingkungan mereka. Perspektif ini menjelaskan bahwa setiap individu yang terlibat dalam aktivitas komunikasi akan berupaya untuk menciptakan kesamaan makna dari simbol-simbol yang dipertukarkan diantara pihak-pihak yang terlibat didalamnya. Karena setiap pasangan tentu saja mempunyai cara untuk mengekpresikan apa yang dirasakannya.
Kegagalan dalam memahami makna dari sebuah pesan yang disampaikan antar pasangan dalam sebuah pola komunikasi tentu saja akan memunculkan multitafsir dan perbedaan pendapat. Sebuah perbedaan pendapat merupakan sebuah hal yang biasa dalam sebuah keluarga, karena dilahirkan dan didik dari berbagai latar belakang akan membuat perbedaan sudut pandang. Namun perbedaan ini tidak akan menjadi pemecah jika komunikasi interpersonal dapat terbangun dengan baik, malahan akan membuat keharmonisan dalam sebuah rumah tangga.
Disisi lain, keinginan untuk mendapatkan pasangan yang mempunyai kualitas pribadi sesuai dengan ekspektasi terkadang tidak ditemukan pada realitanya. Disinilah peran penting komunikasi interpersonal pada hubungan pasangan suami menjadi kunci keberhasilan dalam menciptakan keharmonisan dalam rumah tangga.
Komunikasi interpersonal menciptakan persamaan persepsi antar pasangan, sehingga menjadi ruang untuk menyampaikan pendapat dan keinginan masing-masing, serta dapat memberikan respon langsung terhadap pesan yang disampaikan, sehingga apa yang menjadi ekspektasi yang tidak sesuai dengan realita bisa diketahui akar penyebabnya. Efektifnya sebuah komunikasi interpersonal pada pasangan suami istri dapat ditandai dengan makin harmonis dan eratnya hubungan satu sama lain.
Rahmat Jalalulin pada bukunya psikologi komunikasi mengatakan ada tiga faktor yang dapat menumbuhkan hubungan interpersonal dalam upaya mencapai keberhasilan keberhasilan komunikasi interpersonal dalam keluarga yaitu, adanya sikap percaya suami terhadap istri maupun sebaliknya, adanya sikap suportif atau saling mendukung dan saling menghargai sehingga keduanya dapat menghilangkan sikap defensive yang cenderung menutup diri dalam setiap aktifitas komunikasi yang dilakukan, kemudian adanya sikap terbuka yang nantinya mendorong timbulnya saling pengertian dan saling memahami serta saling mengembangkan kualitas hubungan interpersonal satu sama lain.
Sedangkan Devito Joseph pada bukunya komunikasi antar manusia mengatakan ada lima faktor yang menentukan efektifitas komunikasi interpersonal yaitu, adanya keterbukaan, empati, sikap suportif, sikap positif dan adanya kesetaraan.
Komunikasi interpersonal dalam keluarga menjadi sangat penting dalam membangun hubungan yang baik dan harmonis, sehingga ketika setiap pasangan sibuk akan pekerjaannya masing-masing, bentuk komunikasi interpersonal ini menjadi solusi terbaik. Jika komunikasi interpersonal berkurang intesitasnya karena faktor kesibukan masing-masing, maka ini dapat menyulut untuk menjadi sebuah konflik dalam sebuah hubungan keluarga dan berujung kepada perceraian. Ketika terjadi sebuah permasalahan dan tidak adanya komunikasi yang baik serta keterbukaan satu sama lain, bahkan didiamkan sampai berlarut-larut ini akan menjadi sebuah bola es yang akan siap pecah di suatu waktu. Jika saja komunikasi interpersonal sudah terbentuk dengan baik dan intens, tentu hal ini tidak akan terjadi. Semua konflik-konflik yang datang dapat dipecahkan dengan komunikasi interpersonal dua arah yang efektif dan baik, sehingga akan terbentuk sebuah komitmen untuk menjaga keharmonisan dalam rumah tangga.
Komitmen yang dijaga dengan membangun komunikasi interpersonal secara intens akan melahirkan sikap percaya, sikap saling terbuka dan saling suportif satu sama lain.
Sikap percaya dapat terwujud jika setiap pasangan berlaku jujur, baik apa yang dirasakan, apa yang tidak disukai, apa yang diinginkan, sehingga setiap pasangan dapat menerima kekurangan satu sama lain dan menyadari bahwa sesungguhnya pasangan tersebut bukanlah malaikat yang begitu sempurna seperti apa yang diekspektasikan. Jika kejujuran ini tidak dapat berwujud, ini akan berdampak kepada tidak saling percaya satu sama lain sehingga akan mencari sebuah pelarian dan menemukan tempat untuk berkomunikasi yang dirasa lebih baik yang dapat berlanjut ke perselingkuhan dan bahkan perceraian. Dengan hilangnya sebuah kepercayaan dari pasangan, komunikasi interpersonal tidak akan menjadi arti lagi, apa yang diucapkan dan disampaikan oleh pasangan tidak akan pernah dipercayai sehingga akan sangat sulit untuk menerima sebuah pesan yang disampaikan dalam komunikasi interpersonal.
Sikap saling terbuka yang akan menjadi faktor peneguh dalam sebuah hubungan pasangan suami istri pada komunikasi interpersonal. Adanya sikap saling terbuka satu sama lain antar pasangan akan menciptakan komunikasi interpersonal yang efektif dan baik. Kurangnya sikap terbuka akan menyebakan penurunan tingkat kepercayaan satu sama lain, memunculkan kesalahpahaman dan perdebatan sehingga dapat memicu konflik yang berujung kepada pertengkaran dalam hubungan berumah tangga sehingga tidak lagi terwujud keharmonisan yang diimpikan. Keterbukaan ini masuk kedalam semua aspek dan yang menjadi sangat sensitive yaitu keterbukaan dalam masalah ekonomi baik penghasilan maupun pengeluaran. Ini akan menyulut kecurigaan satu sama lain dan juga akan memunculkan konflik pertengkaran yang berujung pada perceraian.
Sikap suportif menjadikan setiap pasangan untuk dapat saling memahami terhadap pesan yang disampaikan dan bisa saling bekerjasama dalam menghadapi permasalahan yang datang. Ketakutan dan kecemasan akan hilang jika sikap saling support satu sama lain serta akan melahirkan hubungan interpersonal yang baik dan terwujudlah keharmonisan dalam keluarga. Sikap suportif akan melahirkan iklim komunikasi yang baik satu sama lain. Komunikasi interpersonal seperti ini akan menumbuhkan rasa percaya diri untuk memberikan kontribusi terbaik sehingga tidak ada rasa minder maupun malu dari masing-masing. Sikap suportif atau saling dukung ini juga dapat memberikan semangat dalam memperbaiki hubungan serta tujuan bersama dalam sebuah keluarga, khususnya pada segi ekonomi, pendidikan maupun karir.
Dengan memahami serta mengimplementasikan komunikasi interpersonal dalam menjaga keharmonisan dalam rumah tangga dapat terwujud, sehingga perceraian dapat dihindari dan bisa menurunnya kasus perceraian di Indonesia. Sikap saling jujur, saling terbuka dan dan saling mendukung satu sama lain akan mendorong komunikasi interpersonal yang efektif dan baik sehingga rumah tangga bisa lebih harmonis serta istilah perceraian menjadi barang langka di Indonesia.






