PADANG, KLIKPOSITIF – Nursal (46) terlihat sibuk mengerjakan pesanan sepatu dari pelanggannya di ‘Katidiang Sepatu’. Ia terlihat serius melakukan setiap proses di kawasan Pasar Pagi, tepatnya di Jalan Pasar baru – Asam Kumbang Km.6, Talaok, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.
‘Katidiang Sepatu’ merupakan brand sepatu milik Nursal yang telah berdiri sejak tahun 2015. Brand ini menghasilkan sepatu dan sandal kulit untuk pria dan wanita dengan berbagai jenis produk.
Produk yang dihasilkan yakni Sepatu Boots, Sandal, Sneakers, Sepatu Oxford, Sepatu Flat, Sepatu PDH pria, Sepatu santai pria, Sandal pria, Sepatu boot wanita, dan lainnya.
Awal mula Nursal membuka usaha ini, ia hanya berbekal tekad dan kemauan yang tinggi serta bekal pengalaman dan keterampilan saat bekerja dengan orang lain.
“Awal mulanya saya hanya bermodal keterampilan yang di peroleh saat bekerja dengan orang lain. Modal pertama untuk memulai usaha ini sebanyak Rp15 juta melalui pinjaman KUR di salah satu bank. Pinjaman itu saya manfaatkan untuk membeli semua peralatan produksi sepatu,” katanya di rumah produksinya, Jumat, 23 Mei 2025.
Ia mengatakan, dengan modal minim di awal, ia tetap meyakinkan diri bisa menjalankan usaha itu dengan keterampilan yang dimilikinya. “Bahkan saat itu, saya sempat tak memiliki cukup uang untuk bertahan karena semuanya uang pinjaman saya belikan untuk peralatan dan bahan pembuatan sepatu,” paparnya.
Di awal usaha, ia juga harus bisa membaca pasar soal sepatu seperti apa yang disukai dan dibutuhkan oleh pasar. “Kita juga harus sabar agar produk-produk sepatu yang dibuat dengan berbagai model dan ukuran laku di pasaran,” jelasnya.
Dalam sehari, Nursal hanya mampu memproduksi kurang lebih dua pasang sepatu per hari. “Kalau dibanding dengan perusahaan besar dalam produksi, rata-rata produksinya masih jauh lebih besar dari kita,” jelasnya.
Contohnya, salah satu perusahaan dapat memproduksi sepatu dalam sehari sebanyak empat ribu pasang. Sementara, jumlah karyawannya dua ribu orang. “Itu artinya, satu orang hanya mampu produksi dua pasang sepatu sehari. Iya, itu sama dengan kita, cuma kita belum punya karyawan yang banyak,” jelasnya.
Sementara itu, untuk harga sepasang sepatu dibandrol dengan harga Rp350 ribu hingga Rp400 ribu. “Dengan harga ini, pembeli bisa melakukan pemesanan model sesuai dengan keinginan mereka. Nah, ini yang menjadi kelebihan kita, sehingga modelnya limited edition,” jelasnya.
Kualitas
Kualitas yang disajikan pada sepatu buatannya tak kalah dengan produksi dari perusahaan besar lainnya dari dalam dan luar negeri.
“Untuk kualitas, saya siap bersaing dengan perusahaan manapun. Kualitas selalu saya jaga dengan baik, bahkan ada pelanggan yang memesan berulang kali, bahkan beberapa produk kita sudah melewati pasar nasional dan internasional, seperti Jakarta, Surabaya, dan Malaysia,” jelasnya.
Nursal berharap, jika usahanya berkembang dengan baik, maka ia bisa mneyerap tenaga kerja bagi warga sekitar. “Kita juga melakukan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat yang memiliki kesungguhan dalam mengembangkan usaha Katidiang Sepatu,” jelasnya.
Pemasaran Secara Online
Pemasaran secara online juga dilakukan oleh Nursal agar produknya semakin dikenal masyarakat luas, diantaranya melalui media sosial dan juga platform penjualan online, Shopee.
“Kita juga melakukan pemasaran secara online mengingat hari ini, pasar online cukup besar. Kita mulai melakukannya setelah Covid 19. Disana kita bisa mengenalkan produk kita lebih banyak kepada pelanggan serta pasar yang lebih luas. Untuk promosi dan berjualan di media sosial, kita memakai nama ‘katidiangsepatu’,” jelasnya.
Dengan melakukan penjualan di media sosial, pelanggan juga bisa melakukan pemilihan model dan beragam produk yang mereka sukai. “Sehingga mereka juga punya referensi jika ingin melakukan pemesanan model sepatu sesuai ingin mereka,” jelasnya.
Strategi Produk Lokal diterima Masyarakat Lokal
Industri rumahan dan UMKM di Indonesia terus berkembang secara dinamis dalam beberapa tahun terakhir. Pelaku usaha kecil ini tidak hanya bertahan di tengah tekanan ekonomi, tetapi juga menunjukkan daya adaptasi luar biasa. Di masa pandemi, misalnya, banyak UMKM yang langsung beralih ke model penjualan online, memanfaatkan media sosial dan platform e-commerce untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.
Pemerintah pun secara aktif memberikan dukungan melalui program pelatihan, pembiayaan berbunga rendah, hingga digitalisasi UMKM. Dukungan ini mendorong munculnya banyak pelaku usaha baru, terutama di sektor makanan, kerajinan tangan, dan fesyen lokal. Selain itu, kesadaran masyarakat untuk membeli produk lokal juga semakin tinggi, sehingga memberi angin segar bagi UMKM.
“Namun, tantangan tetap ada. Persaingan pasar makin ketat, terutama dari produk impor yang seringkali lebih murah. Maka dari itu, pelaku UMKM harus terus berinovasi, menjaga kualitas, dan memahami tren pasar,” kata Pengamat Ekonomi Universitas Andalas (Unand), Prof. Dr. Syafruddin Karimi, SE, MA.
Kesimpulannya, industri rumahan dan UMKM telah berkembang pesat dan memiliki potensi besar untuk menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Kini saatnya semua pihak—pemerintah, swasta, dan konsumen—bersinergi untuk memperkuat fondasi UMKM agar pertumbuhan ini berkelanjutan.
Disisi lain, UMKM bisa bertahan dan tetap berkelanjutan di tengah derasnya arus barang impor dengan memperkuat keunggulan lokal yang tidak dimiliki oleh produk luar. “Mereka harus menonjolkan identitas, nilai budaya, dan keunikan yang hanya bisa ditemukan di produk dalam negeri. Misalnya, pengrajin lokal bisa mengangkat motif tradisional Minangkabau dalam produk fesyen atau kerajinan tangan,” jelasnya.
Selain itu, UMKM perlu meningkatkan kualitas produk agar setara atau bahkan lebih baik dari produk impor. Hal ini meliputi pemilihan bahan baku, proses produksi yang konsisten, dan penyajian kemasan yang profesional. Konsumen saat ini tidak hanya mencari harga murah, tetapi juga kualitas dan nilai cerita di balik produk.
UMKM juga harus memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar dan meningkatkan efisiensi operasional. Melalui media sosial dan e-commerce, pelaku usaha bisa mempromosikan produk secara langsung ke konsumen tanpa batas geografis.
“Tidak kalah penting, kolaborasi menjadi kunci. UMKM perlu membangun jejaring dengan komunitas bisnis, koperasi, dan pemerintah agar lebih kuat secara kolektif. Dengan langkah-langkah tersebut, UMKM tidak hanya bisa bertahan, tapi juga tumbuh dan bersaing secara sehat meskipun dihadapkan pada produk impor yang membanjiri pasar,” terangnya.
UMKM Sumbar Harus Maksimalkan Kekayaan Budaya
UMKM di Sumatera Barat harus memaksimalkan kekayaan budaya dan lokalitas sebagai kekuatan utama untuk bersaing. Produk yang berakar pada nilai tradisi, seperti bordiran khas, makanan khas daerah, atau kerajinan berbasis budaya Minangkabau, memiliki peluang besar untuk menarik minat masyarakat lokal dan wisatawan.
Agar produk mereka diterima dan terus diminati, pelaku UMKM perlu memastikan tiga hal utama: keunikan produk, kualitas yang konsisten, dan pendekatan pemasaran yang relevan. Misalnya, makanan khas bisa dikemas lebih modern tanpa kehilangan cita rasa asli, atau produk kerajinan bisa digabungkan dengan desain kekinian agar menarik minat generasi muda.
“Selain itu, pelaku UMKM harus membangun branding yang kuat. Masyarakat kini tak hanya membeli barang, tapi juga cerita dan nilai di balik produk tersebut. Cerita tentang asal-usul bahan, filosofi desain, hingga proses pembuatan bisa memperkuat keterikatan emosional konsumen terhadap produk lokal,” katanya.
Pelaku UMKM juga perlu melek teknologi. Penjualan digital, promosi lewat media sosial, hingga pembayaran cashless harus jadi bagian dari strategi. UMKM yang adaptif, inovatif, dan bangga dengan identitas lokalnya akan lebih mudah bersaing dan bertahan dalam jangka panjang.
Penjualan melalui platform digital memberikan keuntungan besar bagi UMKM di Indonesia, terutama dari sisi jangkauan pasar yang lebih luas, efisiensi operasional, dan peningkatan daya saing. Dengan memanfaatkan marketplace, media sosial, dan aplikasi pembayaran digital, UMKM bisa menjual produk mereka ke seluruh pelosok negeri bahkan hingga ke luar negeri, tanpa harus membuka toko fisik.
Selain itu, pelaku UMKM dapat memangkas banyak biaya, seperti sewa toko atau tenaga penjual, dan menggantinya dengan promosi digital yang lebih hemat dan terukur. Mereka juga bisa menganalisis data penjualan dan perilaku konsumen secara real-time, sehingga bisa membuat keputusan bisnis yang lebih tepat dan cepat.
“Platform digital juga membuka jalan untuk membangun brand awareness. Dengan konten yang menarik di media sosial atau ulasan positif di marketplace, UMKM dapat memperkuat kepercayaan konsumen dan membentuk citra merek yang positif. Lebih jauh, digitalisasi mendorong pelaku usaha untuk terus belajar dan berinovasi. Mereka terdorong untuk meningkatkan kualitas produk, membuat kemasan menarik, dan memberikan pelayanan terbaik demi menjaga rating dan reputasi online. Dengan kata lain, platform digital bukan hanya alat penjualan, tapi juga pintu masuk menuju profesionalisme dan pertumbuhan skala nasional hingga global,” tuturnya.
UMKM di Platform Digital
Saat memasarkan produk di platform digital, UMKM harus memperhatikan beberapa hal penting agar bisnis mereka dapat berkembang secara maksimal. Pertama, mereka harus menyajikan foto produk yang menarik dan berkualitas tinggi. Tampilan visual adalah kesan pertama yang menentukan apakah calon pembeli tertarik atau tidak.
Kedua, pelaku UMKM harus menulis deskripsi produk yang jelas, lengkap, dan meyakinkan. Deskripsi harus mencakup manfaat, bahan, ukuran, serta cara penggunaan agar konsumen merasa yakin sebelum membeli.
Ketiga, pelayanan pelanggan menjadi faktor penentu. UMKM perlu merespons pertanyaan dengan cepat, ramah, dan solutif. Kecepatan dalam memproses pesanan dan pengiriman juga harus dijaga agar konsumen puas dan memberi ulasan positif.
Selanjutnya, UMKM harus memperhatikan reputasi dan rating. Ulasan dari pembeli berpengaruh besar terhadap keputusan konsumen lain. Maka, menjaga kepuasan pelanggan harus menjadi prioritas.
“Terakhir, pelaku UMKM harus terus belajar menganalisis data penjualan, memantau tren pasar, dan menyesuaikan strategi pemasaran mereka. Dengan terus memperbarui pengetahuan digital, mereka bisa bertahan dan tumbuh lebih cepat di era ekonomi digital,” jelasnya.






