KLIKPOSITIF – Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Padang, Malvin Hendri, mengungkapkan bahwa proses pembangunan jembatan Koto Tuo Kuranji Padang, sudah dilakukan sejak 9 Agustus 2026. Proyek pemulihan jembatan Kampung Tanjung ini bersumber dari tambahan Transfer ke Daerah (TKD) Kota Padang dengan nilai pekerjaan mencapai Rp8,8 miliar.
Ia menjelaskan, percepatan konstruksi jembatan ini difokuskan untuk memulihkan konektivitas antar wilayah, menjamin keselamatan mobilitas antar warga, serta membangkitkan kembali aktivitas ekonomi masyarakat pascabencana.
“Pembangunan kembali jembatan Kampung Tanjung merupakan komitmen Pemko Padang dalam percepatan rehab rekon pascabencana, ditargetkan rampung 150 hari kalender,” ujar Malvin Hendri.
Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menekankan pentingnya pemulihan infrastruktur pada sektor akses antarwilayah. Ini yang paling dibutuhkan masyarakat terdampak bencana Sumatera.
“Yang dibutuhkan masyarakat saat ini di sana itu jelas, nomor satu adalah masalah jalan. Jalan-jalan yang rusak, jembatan rusak,” kata Tito.
Untuk informasi, jembatan Koto Tuo mengalami rusak parah saat terjadi bencana hidrometeorologi pada November 2025. Jembatan Koto Tuo memiliki peran yang sangat vital bagi masyarakat setempat sebagai akses utama penghubung antar kelurahan di Kecamatan Kuranji, Kota Padang.
Jembatan ini membentang di atas anak sungai aliran Batang Kuranji dan berada di ruas jalan Kelurahan Kuranji yang menghubungkan wilayah tersebut dengan Kelurahan Gunung Sarik dan Balai Baru.
Pelaksanaan pengerjaan jembatan ini dilakukan secara menyeluruh dengan membongkar seluruh rangka jembatan lama, untuk kemudian digantikan dengan struktur jembatan baru.
Saat ini, proses pengerjaan masih berfokus pada tahap pemasangan besi pondasi kaki jembatan yang dikerjakan di kedua sisi jembatan. Dalam proses konstruksinya, terlihat para pekerja memindahkan aliran air menggunakan mesin sedot air agar penggalian dan pemasangan pondasi jembatan dapat dilakukan dengan optimal.
Di sekitar area proyek,pembatas seng dipasang untuk memastikan tidak ada kendaraan yang melintas demi keamanan. Selain itu,pada jarak 200 meter sebelum lokasi pengerjaan, telah dipasang rambu petunjuk yang menandakan bahwa jalan ditutup selama proses pengerjaan berlangsung.
Tantangan pengerjaan pun terus dihadapi di mana kondisi cuaca mendung sering terjadi di kawasan proyek tersebut.
Selama akses utama ini belum dapat digunakan, sekitar 50 meter sebelum lokasi pembangunan jembatan terdapat jalan tikus yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk melintasi aliran sungai.
Pengendara yang melintas di rute alternatif ini kebanyakan adalah para wali murid yang membonceng anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Bahkan, beberapa wali murid memilih untuk menyuruh anak mereka berjalan kaki saat menyeberangi sungai.
Proses penyeberangan warga ini berlangsung tidak jauh dari lokasi pembangunan jembatan, di mana para pengendara menyeberangi aliran sungai saat debit airnya masih kecil.
Meskipun jalur alternatif belum sepenuhnya aman bagi para pengendara, rute tersebut tetap dipilih karena dapat memangkas jarak cukup banyak ketimbang harus memutar jauh ke tempat lain demi mengantarkan anak pergi ke sekolah.
Pentingnya Jembatan di Renduk PRRP Sumatera
Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatera 2026–2028, menempatkan perbaikan jembatan sebagai salah satu prioritas pemulihan infrastruktur konektivitas di wilayah terdampak bencana. Upaya ini penting untuk memastikan akses masyarakat kembali terbuka, mobilitas orang dan barang berjalan lancar, serta distribusi logistik dan aktivitas ekonomi masyarakat dapat pulih.
Pemerintah mengarahkan penanganan jembatan secara bertahap, dimulai dengan memulihkan akses-akses kritis agar kembali dapat difungsikan, kemudian dilanjutkan melalui pembangunan permanen. Pada tahap rekonstruksi, penguatan struktur, stabilisasi lereng, dan penyesuaian trase menjadi bagian penting, terutama pada lokasi yang memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi.
Melalui pendekatan Build Back Better, Safer, and Sustainable, pembangunan kembali jembatan diharapkan tidak hanya memulihkan konektivitas seperti sebelum bencana, tetapi juga meningkatkan ketahanan infrastruktur terhadap risiko bencana di masa mendatang. Dengan demikian, jembatan dapat kembali menjalankan fungsi strategisnya dalam menghubungkan masyarakat, mendukung pelayanan dasar, memperlancar distribusi kebutuhan pokok, dan menggerakkan perekonomian daerah. (*)














