KLIKPOSITIF- Di balik kesibukannya sebagai Wakil Kepala Sekolah SMPN 2 Sutera, Pesisir Selatan, Wawan Kurniawan, S.Pd. tetap mengejar passion-nya di dunia olahraga bela diri. Ia membuktikan, menjadi pendidik bukan alasan untuk berhenti berprestasi di arena olahraga.
Lahir di Padang, 6 April 1987, Wawan kini dipercaya mengemban tugas bergengsi sebagai wasit dan juri cabang olahraga kick boxing pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumbar XVI di Lanud Tabing, Padang.
“Bagi saya, olahraga bela diri bukan sekadar aktivitas fisik. Ada kedisiplinan, tanggung jawab, keberanian, dan sportivitas. Nilai-nilai itu sangat dekat dengan dunia pendidikan,” ujar Wawan.
Kiprahnya di dunia bela diri bukan baru. Perjalanannya dimulai sebagai atlet pencak silat, lalu merambah tarung derajat hingga Mixed Martial Arts (MMA). Pengalaman panjang sebagai atlet itulah yang membentuk pemahamannya tentang kerasnya pertarungan di atas arena.
Dari atlet, ia kemudian menapaki jenjang sebagai wasit. Bahkan, ia pernah dipercaya menjadi wasit internasional MMA Sau Paulo Brazil 2025, GMMA World Championship 2024. Kemudian pelatih nasional PB IPSI 2019. Sebuah pencapaian yang ia maknai bukan sekadar prestasi pribadi, melainkan tanggung jawab besar untuk menjaga keadilan pertandingan.
Fokusnya kini mulai bergeser ke kick boxing. Titik awalnya saat dipercaya memimpin pertandingan pada ajang Padang Championship 2026. Kepercayaan itu berlanjut hingga ke level provinsi di Porprov Sumbar XVI.
“Menjadi wasit bukan hanya soal memahami peraturan. Butuh konsentrasi, ketegasan, objektivitas, dan keberanian mengambil keputusan,” katanya.
Porprov bukan tujuan akhir. Wawan berharap, karier perwasitannya bisa terus naik. Ia menatap Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Kick Boxing yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada November 2026 mendatang.
“Saya berharap kembali mendapat kepercayaan dari Pengurus Kick Boxing Sumbar untuk bertugas di Kejurnas nanti,” harapnya.
Meski aktif di dunia olahraga, tanggung jawabnya sebagai Wakepsek SMPN 2 Sutera tetap menjadi prioritas utama. Baginya, dua dunia itu tidak perlu dipertentangkan.
“Profesi guru dan kegiatan olahraga bisa saling mendukung selama dijalani dengan disiplin, pengaturan waktu, dan komitmen. Saya ingin menunjukkan bahwa seorang pendidik juga bisa terus berkarya di luar sekolah,” ujarnya.
Lebih dari itu, ia ingin kisahnya menjadi inspirasi bagi siswanya di Sutera.
“Jangan takut bermimpi dan mengembangkan potensi diri. Selama ada kemauan, kedisiplinan, dan kerja keras, kesempatan untuk berprestasi selalu terbuka. Mengajar adalah pengabdian, menjadi insan olahraga adalah pilihan untuk terus berkembang,” tutupnya.












