Rabu, 09 Sep 2026 - 14:49 WIB
Klikpositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Home Ekonomi Bisnis

Ini Kelompok Paling Terdampak Kenaikan BBM di Sumbar

Fitria Marlina
Rabu, 10 Jun 2026 | 17:54 WIB
Share on FacebookShare on Twitter

PADANG, KLIKPOSITIF – Guru Besar di Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Andalas (Unand), Prof. Dr. Drs. Syafruddin Karimi, SE, MA mengungkapkan, kelompok paling terdampak dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yakni kelas menengah pengguna kendaraan pribadi, pelaku UMKM yang bergantung pada distribusi harian, sopir travel, usaha logistik kecil, petani dan pedagang hasil pertanian, serta sektor pariwisata.

“Di Sumbar, sektor hortikultura akan menghadapi tekanan karena biaya angkut dari sentra produksi ke pasar meningkat. Pedagang kecil akan menghadapi pilihan sulit: menaikkan harga jual atau menyerap kenaikan biaya,” katanya melalui pesan singkat WhatsApp, Rabu siang, 10 Juni 2026.

Selain sektor hortikultura, Syafruddin menyebut sektor pariwisata juga rentan karena kenaikan biaya perjalanan, yang dapat menekan minat wisata domestik, terutama wisata keluarga yang sangat sensitif terhadap biaya transportasi.

“Kenaikan harga BBM ini sejalan secara makro dengan kenaikan BI Rate dari 4,75% menjadi 5,50% dalam arti sama-sama menjadi respons terhadap tekanan eksternal, pelemahan Rupiah, dan inflasi. Akan tetapi, keduanya memberi tekanan ganda kepada rumah tangga dan dunia usaha. BBM menaikkan biaya langsung, sedangkan BI Rate menaikkan biaya kredit dan menahan konsumsi,” paparnya.

Menurutnya, kebijakan ini rasional dari sisi stabilitas makro, tetapi pemerintah daerah perlu menyiapkan respons mikro: menjaga distribusi pangan, menahan ongkos logistik, melindungi UMKM produktif, dan memastikan kenaikan harga energi tidak menjalar menjadi inflasi daerah yang lebih luas.

Sebelumnya, Pertamina mengeluarkan kebijakan terbaru soal harga BBM. Harga Pertamax di Wilayah Sumatera Barat per hari ini, Rabu, 10 Juni 2026 menjadi Rp17.000, -/ liter. Harga ini penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di sejumlah wilayah, termasuk Jabodetabek.

Selain Pertamax, kenaikan harga juga berlaku untuk produk Pertamax Series dan Dex Series, sementara harga BBM subsidi tetap tidak mengalami perubahan.

Baca Juga

BI Sumbar Hadirkan SCF 2026, Angkat Potensi UMKM dan Ekonomi Kreatif

Rabu, 26 Agu 2026 | 12:24 WIB

Ekonom Unand Sebut Tingkat Pengangguran Terbuka Tak Cukup untuk Menggambarkan Kondisi Pasar Kerja

Rabu, 19 Agu 2026 | 15:31 WIB

Berdasarkan daftar harga yang dipublikasikan Pertamina, harga Pertalite sebagai BBM subsidi tetap berada di angka Rp10.000 per liter. Sementara itu, Biosolar subsidi juga masih dijual dengan harga Rp6.800 per liter.

Untuk BBM non-subsidi, harga Pertamax (RON 92) kini menjadi Rp16.250 per liter di wilayah Jabodetabek. Kemudian Pertamax Green 95 dipatok Rp17.000 per liter, sedangkan Pertamax Turbo (RON 98) mencapai Rp20.750 per liter.

Pada kategori bahan bakar diesel non-subsidi, Dexlite (CN 51) dijual dengan harga Rp23.000 per liter. Sementara Pertamina Dex (CN 53) dibanderol Rp24.800 per liter.

Tags: BbmEkonomiKenaikan PertamaxPertamax

Berita Lainnya

BI Sumbar Hadirkan SCF 2026, Angkat Potensi UMKM dan Ekonomi Kreatif

Rabu, 26 Agu 2026 | 12:24 WIB

Ekonom Unand Sebut Tingkat Pengangguran Terbuka Tak Cukup untuk Menggambarkan Kondisi Pasar Kerja

Rabu, 19 Agu 2026 | 15:31 WIB

TPT Mei 2026 Turun Jadi 4,65 Persen, Ekonom Unand Sebut Tekanan PHK Tetap Perlu Diwaspadai

Jumat, 14 Agu 2026 | 17:28 WIB
Guru Besar Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Andalas (Unand), Prof. Dr. Drs. Syafruddin Karimi, SE, MA

TPT Mei 2026 Turun Jadi 4,65 Persen, Pengamat Sebut Sinyal Positif Pasar Kerja Tetap Perlu Dicermati

Jumat, 14 Agu 2026 | 07:16 WIB
Selanjutnya

Borong Penghargaan HR Asia 2026, PT Pegadaian Dinobatkan Sebagai Best Company to Work For in Asia Untuk Kedelapan Kalinya

Tinggalkan komentar
Classy FM

Informasi

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Kategori

  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara

Networks

  • 🌎 KlikPositif
  • 🌎 KataSumbar
  • 🌎 Classy FM
  • 🌎 Classy Production
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

© 2022 Klikpositif - Media Generasi Positif by Classy Corp.

Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara