Rabu, 04 Nov 2026 - 02:24 WIB
Klikpositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Home News Nasional

Bedah Buku Pancasila untuk Pemula: Menarasikan Pancasila

Fitria Marlina
Jumat, 30 Okt 2026 | 18:12 WIB
Share on FacebookShare on Twitter

KLIKPOSITIF – Bagi banyak orang Indonesia, perkenalan pertama dengan Pancasila datang jauh sebelum mereka benar-benar memahaminya. Lima sila dihafal di bangku sekolah, dilafalkan dalam upacara bendera, lalu tersimpan sebagai rangkaian kalimat yang terasa dekat sekaligus jauh. Ia dikenal di luar kepala, tetapi jarang dibicarakan.

Pergeseran dari cara kenal seperti itulah yang hendak ditawarkan komik Pancasila untuk Pemula. Komik garapan anggota DPR Willy Aditya ini telah dibedah di beberapa tempat. Dan kali ini digelar Padang, Sumatera Barat dua hari berturut. Acara pertama digelar di Universitas Andalas, Kamis (29/10/2026) dan hari kedua, Jumat (30/10/2026) di Rumah Walikota Padang.

Animonya cukup bagus. Mahasiswa, guru sekolah, hingga penggiat literasi di Sumatera Barat, hadir dalam acara tersebut. Sebagai penulis cerita, Willy hadir sebagai keynote speaker. Beberapa narasumber yang hadir dalam acara tersebut antara lain Sudarmoko, dosen Unand; Charles Simabura, Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fakultas Hukum Unand; dan Irene Camelyn Sinaga, Direktur Pengkajian Materi Pembinaan Ideologi Pancasila Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Pancasila yang lebih ringan

Ketika menyampaikan keynote speech, tawaran Willy sederhana, Pancasila bisa tampil lebih ringan tanpa kehilangan daya kena bagi bangsa ini. Komik dipilih karena mediumnya mudah dimasuki siapa saja.

Lewat gambar dan alur cerita, kata Willy, Pancasila akan lebih mudah dimengerti berbagai kalangan, terutama kaum muda kita. Selama ini, menurutnya, Pancasila kerap dipahami sebagai materi indoktrinasi bagi anak bangsa. Dalam komik ini, Pancasila dikenalkan sebagai produk pemikiran, kesepakatan bersama sebagai dasar negara, sekaligus nilai hidup bangsa yang inklusif.

Kata “inklusif” punya dasar metodologis. Willy menyajikan Pancasila secara induktif, sehingga pemahaman dan pemaknaannya berangkat dari bawah (warga) bukan dari atas (negara). Ia berpijak pada sebuah diktum yang dimulai oleh Bung Karno.

“Saya meletakkan sebuah pendekatan diktum yang dimulai oleh Bung Karno: saya bukan penemu Pancasila, tapi orang yang mempromosikan Pancasila. Pancasila lahir dan tumbuh dari bumi Nusantara. Premis itu yang saya gunakan dengan pendekatan metodologis yang induktif, bukan deduktif,” ujar Willy.

Lalu apa itu Pancasila? Willy menjawabnya dengan bahasa yang membumi. “Ketika kita berbeda, kita bisa bekerja sama, dan itu dinamakan harmoni. Ketika kita bisa duduk dan berdialog bersama walaupun berbeda-beda, itulah musyawarah. Kata Bung Karno, jika diperas menjadi Trisila dan Ekasila, itulah jati diri kita: gotong royong.”

Willy melanjutkan, komik ini mengajak anak bangsa untuk aktif memberi makna atas Pancasila dan tidak membiarkannya dimonopoli negara. Untuk itu dibutuhkan literasi yang memadai, mulai dari sejarah, dinamika, hingga dialektika pemikiran yang mengiringinya. Namun, bagi Willy, pengetahuan saja belum cukup.

“Yang paling penting dari menjalankan ideologisasi Pancasila ini adalah elan gerakan, bukan business as usual. Pancasila hanya akan menjadi mitologi kalau kita terjebak menjalankannya secara business as usual,” katanya.

Baca Juga

Puncak Perayaan Dies Natalis, Unand Luncurkan Buku Karya 49 Profesor

Selasa, 23 Sep 2025 | 20:00 WIB

Launching Buku Baru, Guru Besar Unand Prof.Firwan Tan Minta Pemerintah Fokus Pemberdayaan Masyarakat

Selasa, 8 Agu 2023 | 18:15 WIB

Ia mengingatkan bahwa bangsa besar pun bisa lenyap. “Ketika kita tidak bisa berpraktik, bermoral, dan beretika sesuai way of life serta way of thinking Pancasila, apa yang bisa menjadi jati diri kita? Romawi, Yunani, hingga Ottoman pernah besar lalu lenyap. Kita membutuhkan spirit gerakan, voluntarisme, dan kecintaan pada tanah air (patria) agar Pancasila tidak sekadar datang dan pergi menjadi cerita,” jelasnya.

Merangkul yang berbeda

Dari sisi pembinaan ideologi, Irene Camelyn Sinaga menilai komik ini sebagai upaya mengaktualisasikan Pancasila secara konkret. “Kami mengapresiasi Bapak Willy Aditya yang mengaktualisasikan Pancasila melampaui ruang dan waktu melalui karya konkret ini,” ujarnya.

Menurut Irene, sejarah perumusan Pancasila memperlihatkan perspektif yang inklusif. “Jika kita mengkaji sejarah perumusannya, perspektif Pancasila itu sangat inklusif dan merangkul kelompok marginal atau minoritas. Mengutip Bung Hatta, ketika sila Ketuhanan naik menjadi sila pertama, maka fundamen moral memimpin seluruh fundamen politik yang ada di negara kita,” paparnya.

Dia juga menyoroti makna sila keempat. Sila keempat menyebutkan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan. Artinya, musyawarah itu intinya bukan soal menang-kalah atau sekadar hitung-hitungan angka (not only the number), melainkan dipimpin oleh hikmat dan moral untuk mencapai kebaikan bersama.

Pesan itu dia tarik ke tantangan hari ini. “Di era kecerdasan buatan (AI) saat ini, mengutip filsuf Hannah Arendt bahwa kejahatan besar bisa terjadi karena ketiadaan berpikir, generasi muda tidak boleh malas berpikir. Kekayaan Indonesia bukan hanya hasil bumi, tetapi juga kekayaan intelektual dan pemikiran para pendiri bangsa yang harus terus kita pelajari.”

Belum Menjadi Fosil

Sudarmoko melihat komik ini sebagai jawaban atas kekhawatiran bahwa Pancasila kian jauh dari perbincangan anak muda. “Buku Pancasila untuk Pemula yang disajikan secara kreatif dalam bentuk komik ini hadir menjawab kekhawatiran bahwa Pancasila semakin jauh atau asing dari perbincangan generasi muda. Lewat karya Bung Willy Aditya ini, terbukti bahwa Pancasila belum menjadi fosil atau artefak yang kaku, melainkan nilai hidup yang tetap bisa dibicarakan, digali, dan didiskusikan secara terus-menerus,” katanya.

Ia optimistis Pancasila tetap relevan menghadapi masa depan. “Kita beruntung karena Pancasila merupakan rumusan nilai dan pandangan hidup yang menjadi kesepakatan bersama. Karena sifatnya sebagai nilai dan dasar filosofis, di zaman apa pun, termasuk menghadapi tantangan algoritma AI hingga menuju tahun 2045, Pancasila akan tetap relevan, fleksibel, dan mampu ditafsirkan secara kreatif sesuai zamannya.”

Adapun Charles Simabura membawa pembicaraan ke sejarah penafsiran Pancasila. “Sejarah mencatat bahwa pada masa lalu, Pancasila kerap diterjemahkan secara sepihak oleh penguasa sebagai instrumen indoktrinasi dan alat meredam kritik. Ternyata yang salah bukan Pancasilanya, melainkan penyalahgunaannya,” ujarnya.

Baginya, sudah waktunya perdebatan itu ditinggalkan. “Sudah saatnya kita tidak lagi mendikotomi Pancasila versi negara atau versi rakyat, karena nilai-nilai ketuhanan, persatuan, musyawarah, dan keadilan itu sejatinya sudah hidup dan melekat (embedded) di dalam diri masyarakat Indonesia.”

Charles juga mengurai makna kata “pemula” pada judul komik tersebut. “Judul Pancasila untuk Pemula ini jangan dimaknai hanya untuk anak sekolah dasar; kita semua adalah pemula ketika kita mau kembali berefleksi dan mempelajari nilai yang mempersatukan bangsa ini,” katanya.

Ia menambahkan, “Pancasila perlu terus kita promosikan, hormati, dan penuhi layaknya prinsip hak asasi manusia tanpa paksaan indoktrinasi. Kelima silanya pun harus dipahami sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi secara setara demi mewujudkan keadilan dan menjaga persatuan.”

Dari Mengawang ke Membumi

Jika literasi dan semangat gerakan itu tumbuh, Willy berharap Pancasila menjadi diskursus umum di kalangan anak bangsa. Pada titik itu, Pancasila tidak lagi menjadi pemikiran yang mengawang-awang karena terlalu abstrak, atau terlalu berjarak dengan realitas kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebaliknya, ia diharapkan menjadi pemikiran yang bisa dibumikan sekaligus falsafah yang bisa dioperasionalisasikan.

Dari ruang diskusi di Padang itu, tampak arah yang hendak dituju, bahwa bukan Pancasila yang makin dihafal, melainkan Pancasila yang terus dinarasikan, oleh banyak suara dari bawah, yakni kita semua, bangsa Indonesia.

Tags: Bedah BukuBuku Pancasila

Berita Lainnya

Puncak Perayaan Dies Natalis, Unand Luncurkan Buku Karya 49 Profesor

Selasa, 23 Sep 2025 | 20:00 WIB

Launching Buku Baru, Guru Besar Unand Prof.Firwan Tan Minta Pemerintah Fokus Pemberdayaan Masyarakat

Selasa, 8 Agu 2023 | 18:15 WIB

Meriahkan HUT Korpri ke-51, Pemko Padang Gelar Beda Buku dan Launching ASN Pemko Padang Menulis

Minggu, 20 Nov 2022 | 17:41 WIB
Direktur PNP SUrfa Yondri (dua dari kiri) menyerahkan sertifikat panelis kepada CEO Ero Tour Ian Hanafiah usai bedah buku yang digelar PNP daram rangka Dies Natalis ke 34. Penyerahan sertifikat tersebut turut disaksikan oleh dua orang penulis buku Perencanaan Perjalanan Wisata.

PNP Bedah Buku \”Perencanaan Perjalanan Wisata\”, Panelis: Buku Ini Bermanfaat untuk Industri Pariwisata

Kamis, 7 Okt 2021 | 16:57 WIB
Selanjutnya
Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Perempuan Bangsa Sumatera Barat (Sumbar), Cempaka Tanjung

Perempuan Bangsa Sumbar Soroti PPN Pembalut, Cempaka Tanjung: Bukan Barang Mewah

Tinggalkan komentar

Informasi

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Kategori

  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara

Networks

  • 🌎 KlikPositif
  • 🌎 KataSumbar
  • 🌎 Classy FM
  • 🌎 Classy Production
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

© 2022 Klikpositif - Media Generasi Positif by Classy Corp.

Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara