KLIKPOSITIF – Sekolah Dasar Negeri (SDN) O4 Baringin, Koto Tengah, Kota Padang, Sumatera Barat, termasuk yang masuk dalam rehabilitasi karena terdampak bencana pada akhir 2025. Tidak saja membangun dan memperbaiki fisik, tapi pembangunan diarahkan pada sekolah yang layak, aman dan nyaman.
Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Tito Karnavian, dalam keterangannya bersama Mendikdasmen Abdul Mu’ti di Jakarta, mengatakan bahwa pemerintah menargetkan 4.922 sekolah terdampak bencana di ketiga wilayah (Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat), untuk direhabilitasi.
“Beliau (Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti) menggunakan anggaran dan reguler ditambah dengan dari Kementerian Keuangan tambahan, yang totalnya lebih kurang Rp5 triliun. Dan itu digunakan untuk melakukan rehab dan rekon 4.922 sekolah di tiga provinsi,” jelas Tito.
Sementara itu, Kepala dinas Pendidikan Kota Padang, Yopi Krislova mengatakan, rehabilitasi SDN 04 Baringin,Koto Tangah, Kota Padang merupakan dukungan anggaran rehabilitasi dari kementerian pendidikan dasar dan menengah dengan besaran Rp1.3 miliar.
“Rehabilitasi dilakukan mencakup pembangunan enam ruang kelas, dua ruang administrasi, penataan lingkungan sekolah serta pengadaan mebel. Rehabilitasi ini merupakan bentuk dukungan penuh pemerintah pada sekolah terdampak bencana di Kota padang,” katanya saat ditemui di Padang, Rabu (21/10/2026).
Ia mengatakan, rehabilitasi bukan hanya sekedar memperbaiki bangunan yang rusak tetapi juga memastikan siswa kembali memperoleh ruang belajar yang layak, aman dan nyaman.
“Rehabilitasi bangunan sekolah ini tidak hanya mengembalikan kondisi sekolah seperti semula tetapi juga meningkatkan kesiapan fasilitas pendidikan menghadapi resiko bencana,” paparnya.
Menurutnya, cukup banyak sekolah yang terdampak bencana, sehingga pihaknya berharap bantuan pemerintah pusat dapat segera diselesaikan sehingga proses belajar mengajar bisa berjalan efektif.
SDN 04 Baringin saat ini masih penuh plester semen.Warna bangunan yang dominan merah dan putih menjadi samar karena proses revitalisasi yang masih berlangsung.
Di pintu gerbang yang tertutup, terpasang imbauan “Dilarang masuk Pekarangan tanpa izin” serta papan pengumuman yang memperlihatkan adanya proses perbaikan di bangunan sekolah. Beranjak ke bagian dalam, terlihat sejumlah kendaraan roda dua terparkir, tumpukan pasir, bata, kaleng cat, serta perkakas seperti sekop dan cangkul berserak di pekarangan.
Kursi dan meja murid sudah tersusun di atas lantai keramik yang tampak masih bersih dan baru terpasang.Begitu pula di ruang guru, sofa hitam masih terbungkus plastik. Perlengkapan mengajar seperti penghapus papan tulis, spidol, dan sebagainya tersusun di lemari inventaris yang juga masih baru.
Proses belajar-mengajar sudah lama tidak berlangsung di lokasi ini. Selain karena adanya Pembelajaran Jarak Jauh, sejak beberapa bulan terakhir (Januari 2026), para siswa belajar di SDN 30 Air Dingin. Jaraknya sekitar lima kilometer dari sekolah asal. Para siswa belajar pada siang hari, tepatnya sehabis siswa SDN 30 Air Dingin menyelesaikan kegiatan belajar.
Sejak bencana November 2025, kondisi sekolah memang makin memprihatinkan. Posisi sekolah yang berada lebih rendah dari ruas jalan membuat bangunan tersebut rawan bencana banjir. Meski baru pertama kali terdampak banjir bandang, sebelumnya banjir genangan sudah rutin mengendap di sekolah tersebut, bahkan para siswa kerap berenang di pekarangan sekolah jika terjadi hujan lebat.
Sewaktu banjir bandang menerjang, kondisi sekolah makin parah. Seluruh ruang kelas dan ruang fungsional terendam banjir. Sejumlah sarana dan prasarana juga mengalami kerusakan.
Proses pengerjaan pembangunan berlangsung dengan meninggikan gedung sekolah tanpa melakukan pembongkaran secara menyeluruh, yaitu setinggi 70 sentimeter atau lebih tinggi dari ruas jalan. Untuk menyesuaikan tinggi bangunan, ruang kelas dibuat lebih tinggi dan struktur tiang diperkokoh supaya bisa menopang tinggi bangunan baru.
Akibat pemindahan tempat belajar ini, para wali murid menjadi kewalahan untuk mengantarkan anaknya sekolah karena jarak sekolah tempat siswa menumpang belajar cukup jauh. Para siswa yang kebanyakan tinggal di dekat bangunan sekolah asal akibat sistem zonasi harus berjalan kaki lebih jauh, atau orang tua terpaksa mengeluarkan ongkos transportasi yang lebih besar.
Sejalan Renduk PRRP Sumatera
Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatera 2026–2028, menempatkan pemulihan sarana pendidikan sebagai bagian penting dari upaya mengembalikan pelayanan dasar masyarakat setelah bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pemulihan diarahkan pada fasilitas pendidikan yang rusak.Termasuk memastikan bahwa kegiatan belajar mengajar kembali berjalan baik.
Fokus pemulihan sekolah tidak saja perbaikan fisik banguannya. Tapi keberlanjutan layanan pendidikan bagi siswa terdampak. Sekolah yang mengalami kerusakan berat dan tidak memungkinkan digunakan memerlukan penanganan lebih lanjut, termasuk pembangunan kembali atau relokasi apabila lokasi sebelumnya tidak aman. (*)







