KLIKPOSITIF- Bencana galodo yang kembali terjadi di Arosuka, Kabupaten Solok, pada Senin (20/9/2026) malam, menjadi pengingat pentingnya penguatan mitigasi bencana banjir bandang di Sumatera Barat.
Salah satu langkah yang dinilai penting adalah melakukan susur sungai dari wilayah hilir menuju hulu untuk mengetahui kondisi aliran sungai serta potensi hambatan yang dapat memicu gangguan aliran air.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sumatera Barat, Helmi Heriyanto, menjelaskan bahwa susur sungai dapat dilakukan sebagai bagian dari upaya mitigasi untuk mengenali kondisi aliran sungai dan kawasan hulu.
“Banjir bandang terjadi disebabkan terlepasnya genangan aliran sungai yang terhalang atau tersumbat secara tiba-tiba. Terjadi ketika curah hujan yang tinggi di daerah hulu,” ungkapnya kepada Katasumbar, Jumat (25/9/2026).
Menurutnya, susur sungai dilakukan dengan menyusuri aliran dari daerah hilir yang berpotensi terdampak menuju kawasan hulu. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk melihat apakah aliran sungai berjalan lancar atau terdapat material yang menghambat maupun menyumbat aliran.
Banjir bandang atau galodo dapat datang secara tiba-tiba dengan debit air yang meningkat dalam waktu singkat. Aliran tersebut juga dapat membawa material seperti kayu, tanah, lumpur dan batu.
Kondisi di kawasan hulu menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan, terutama ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Material yang terbawa aliran maupun hambatan pada badan sungai dapat meningkatkan potensi gangguan terhadap aliran air.
“Dalam konteks mitigasi potensi banjir bandang, susur sungai merupakan kegiatan menyusuri sungai dari hilir (daerah potensi terdampak banjir) menuju hulu,” katanya.
Sumatera Barat sebelumnya juga beberapa kali dilanda bencana hidrometeorologi. Diantaranya pada 7 dan 8 Maret 2024, dampak cukup parah terjadi di Kabupaten Pesisir Selatan dan Kabupaten Padang Pariaman.
Selain itu, banjir lahar dingin pascaerupsi Gunung Marapi juga berdampak terhadap sejumlah wilayah di Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Agam.
Seiring itu, menurutnya, hal yang serupa juga terulang di Arosuka, Kabupaten Solok, korban materi hingga jiwa terjadi akibat Galodo yang terjadi.
Karena itu, lanjutnya, pemantauan sungai perlu dilakukan secara berkala, khususnya pada daerah yang memiliki riwayat banjir bandang maupun berada di kawasan dengan potensi ancaman hidrometeorologi.
Perkembangan teknologi juga memungkinkan kegiatan pemantauan dilakukan menggunakan drone. Teknologi tersebut dapat membantu melihat kondisi sungai dan kawasan hulu dari udara sehingga pemantauan dapat dilakukan lebih luas dan efisien.
“Susur sungai sangat penting dan strategis sebagai upaya mitigasi potensi bencana banjir bandang (air bah/galodo). Jika susur sungai dilakukan bencana banjir bandang seperti di Kab. Pessel dan Kab. Padang Pariaman serta banjir lahar dingin erupsi Gn. Marapi tentu dapat dimitigasi. Dengan teknologi drone saat ini susur sungai sangat mungkin dilakukan tanpa harus memobilisasi komunitas,” terangnya.
Susur sungai bukan berarti dapat menghilangkan sepenuhnya risiko terjadinya banjir bandang. Namun, kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari sistem mitigasi untuk mendeteksi lebih awal potensi hambatan maupun perubahan kondisi di sepanjang aliran sungai.
Dengan pemantauan dari hilir hingga hulu, informasi mengenai kondisi sungai dapat menjadi dasar untuk menentukan langkah pencegahan sebelum potensi bahaya berkembang menjadi bencana yang berdampak terhadap masyarakat.













