Sabtu, 07 Nov 2026 - 10:14 WIB
Klikpositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Home News

Radical Break !

Oleh : Tommy TRD

Muhammad Haikal
Sabtu, 7 Feb 2026 | 16:15 WIB
Share on FacebookShare on Twitter

KLIKPOSITIF — Jika berkaca dari beberapa sejarah perjalanan panjang dan perubahan nasib bangsa-bangsa di dunia, maka bisa ditemukan satu persamaan yang sering terjadi sebelum perubahan besar.

Rocky Gerung mempopulerkannya dengan istilah radical break. Yaitu sebuah perubahan mendasar baik itu dalam aspek kebijakan, kelembagaan, personil, dan pemutusan pengaruh masa lalu dalam mayoritas aspek.

Dalam bentuk yang lebih soft, radical break sering disamakan dengan thinking out of the box. Namun radical break lebih kepada aksi perubahan mendasar, executable, 180 derajat, dan dalam waktu singkat.

Kembali ke sejarah perjalanan bangsa-bangsa di dunia. Radical break selalu terjadi sebelum perubahan nasib sebuah bangsa. Yang paling fenomenal tentu Cina. Bagaimana sebuah negara miskin, berpenduduk padat, pertanian lemah, terjebak dengan candu, menjadi negara maju, powerful, dengan ekonomi kuat, dan memiliki pengaruh geopolitik luas. Apa yang menyebabkan perubahan itu ?

Merdeka pada tahun 1949 di bawah kepemimpinan Mao Zedong yang “sangat komunis”, dan serba tersentral, radical break Cina terjadi pada tahun 1978 di era kepemimpinan Deng Xiaoping, dengan open door policy pada sektor investasi, Zona Ekonomi Khusus, Segmentasi Liberalisasi Ekonomi, dan Household Responsibility System pada sektor pertanian.

Salah satu yang paling menarik dari kepemimpinan Deng Xiaoping dalam melakukan radical break ini adalah keberhasilannya melakukan separasi atau pembatasan antara ideologi dan ekonomi negara.

Baca Juga

Menjaga Lentera Pendidikan di Tengah Puing Bencana: Urgensi Sekolah Darurat dan Kesiapsiagaan Pascabanjir Bandang

Senin, 28 Sep 2026 | 09:00 WIB

Kabut Asap dan Tantangan Belajar Anak: Perspektif Psikologi Pendidikan

Minggu, 27 Sep 2026 | 16:46 WIB

Negara komunis yang sebelumnya dikenal dengan serba terpusat, tersentral dan garis komando yang kaku dari pusat hingga desa, dalam semua aspek bernegara, berubah menjadi lebih “fleksibel” di tangan Deng Xiaoping.

Cina dengan ideologi komunis yang begitu dekat dengan ekonomi sosialis, berubah menjadi hybrid. Dengan ideologi yang tetap komunis namun dengan ekonomi yang liberalis.

“Tidak masalah kucing hitam atau putih, selama bisa menangkap tikus itu kucing yang baik” ucap Deng Xiaoping menjelaskan pragmatisme kepemimpinan dan kebijakannya.

Menandakan keberhasilan radical break Deng Xiaoping, melebihi angka-angka di atas kertas, bahwa dasar kebijakannya telah menjadi blue print dan dilanjutkan berdekade sesudahnya oleh penggantinya, dari Jiang Zemin, Hu Jintao hingga Xi Jinping.

Dari Radical Break Deng Xiaoping di Cina, kita bisa melihat bahwa kemajuan suatu bangsa membutuhkan titik balik yang dianalisa dengan baik, pemimpin yang kompeten, kebijakan yang proporsional namun efektif, serta berorientasi jauh ke depan. Semua faktor itu menggaransi pertumbuhan yang terukur dan signifikan.

Konon Napoleon Bonaparte pernah mengatakan kepada salah seorang diplomat Inggris, “ketika Cina terbangun dunia akan bergetar”. Sayang sekali Napoleon tidak sempat membuktikan bagaimana perkataannya ratusan tahun yang lalu itu begitu tepat.

Tags: Opini

Berita Lainnya

Menjaga Lentera Pendidikan di Tengah Puing Bencana: Urgensi Sekolah Darurat dan Kesiapsiagaan Pascabanjir Bandang

Senin, 28 Sep 2026 | 09:00 WIB

Kabut Asap dan Tantangan Belajar Anak: Perspektif Psikologi Pendidikan

Minggu, 27 Sep 2026 | 16:46 WIB

PKM-MUB Unand Ubah Perca Songket Silungkang Jadi Produk Fesyen, Tembus Pasar Nasional

Sabtu, 26 Sep 2026 | 17:14 WIB

Pencegahan Kekerasan Remaja: Mengapa Sekolah Dasar Membutuhkan Guru BK?

Jumat, 25 Sep 2026 | 10:56 WIB
Selanjutnya
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D.

Kepala BPOM RI Sebut Resistensi Antimikroba Ancaman Nyata, Perlu Aksi Nyata dan Penguatan Diagnosis

Tinggalkan komentar

Informasi

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Kategori

  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara

Networks

  • 🌎 KlikPositif
  • 🌎 KataSumbar
  • 🌎 Classy FM
  • 🌎 Classy Production
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

© 2022 Klikpositif - Media Generasi Positif by Classy Corp.

Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara