Sabtu, 07 Nov 2026 - 13:54 WIB
Klikpositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Home Life Health

Studi Ungkap Penyebab Ultra Proses Picu Obesitas Bukan Sekadar Porsi Makan

Fitria Marlina
Selasa, 3 Feb 2026 | 10:55 WIB
Share on FacebookShare on Twitter

KLIKPOSITIF – Selama ini, makanan ultra-proses kerap dikaitkan dengan meningkatnya risiko obesitas. Namun, pertanyaan besarnya masih menggantung: apakah masalahnya karena makanan tersebut diproduksi secara industri, atau karena orang cenderung mengonsumsinya secara berlebihan? Sebuah studi terbaru memberi jawaban yang cukup mengejutkan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cell Metabolism edisi Oktober 2025 menunjukkan, masalah utama terletak pada sifat makanan ultra-proses itu sendiri, bukan semata-mata karena jumlah kalori yang dikonsumsi.

Dalam studi tersebut, para peneliti membandingkan dampak kesehatan dari pola makan berbasis makanan alami (tidak diproses) dengan makanan ultra-proses pada 43 pria berusia 20 hingga 35 tahun. Menariknya, kedua jenis diet ini dirancang memiliki jumlah kalori, protein, karbohidrat, dan lemak yang sama. Bahkan, peneliti juga menambahkan versi diet dengan tambahan 500 kalori per hari untuk melihat apakah kelebihan asupan energi memengaruhi hasil.

Dilansir dari laman Harvard Medical School, makanan ultra proses dalam penelitian ini didefinisikan sebagai produk yang melalui proses industri kompleks dan mengandung bahan yang sangat dimodifikasi atau disintesis, seperti lemak jenuh dan karbohidrat olahan komponen yang selama ini dikaitkan dengan dampak buruk bagi kesehatan.

Para peserta dibagi secara acak ke dalam dua kelompok. Selama tiga minggu, satu kelompok mengonsumsi diet makanan alami atau ultra-proses, sementara kelompok lainnya menjalani diet serupa namun dengan tambahan kalori. Setelah jeda tiga bulan, para peserta menukar pola makan mereka dan mengulangi percobaan yang sama.

Hasilnya cukup konsisten. Para peserta mengalami peningkatan lemak tubuh rata-rata sekitar satu kilogram (2,2 pon) saat mengonsumsi makanan ultra proses, dibandingkan dengan saat mereka menjalani diet makanan alami. Yang mengejutkan, peningkatan lemak ini terjadi terlepas dari ada atau tidaknya tambahan kalori.

Baca Juga

Ingin Kulit Sehat dan Terawat? Ini Panduan Rutinitas Skincare Sesuai Jenis Kulit

Sabtu, 24 Okt 2026 | 08:49 WIB

5 Rekomendasi Minyak Alami untuk Menjaga Kesehatan Kulit dan Rambut

Sabtu, 24 Okt 2026 | 08:18 WIB

Temuan ini memperkuat dugaan bahwa proses pengolahan makanan, bukan sekadar jumlah yang dimakan memegang peranan besar dalam kenaikan berat badan. Menurut para peneliti, cara tubuh merespons makanan ultra-proses tampaknya berbeda, meski nilai gizinya di atas kertas terlihat serupa dengan makanan alami.

Studi ini menambah bukti bahwa memilih makanan yang lebih alami dan minim proses bukan hanya soal mengurangi kalori, tetapi juga tentang bagaimana makanan tersebut memengaruhi metabolisme tubuh. Pesannya jelas: tidak semua kalori diciptakan sama.

Tags: HealthObesitas

Berita Lainnya

Ingin Kulit Sehat dan Terawat? Ini Panduan Rutinitas Skincare Sesuai Jenis Kulit

Sabtu, 24 Okt 2026 | 08:49 WIB

5 Rekomendasi Minyak Alami untuk Menjaga Kesehatan Kulit dan Rambut

Sabtu, 24 Okt 2026 | 08:18 WIB

Selalu Merasa Lapar Meski Sudah Makan? Kenali 6 Kemungkinan Penyebabnya

Sabtu, 24 Okt 2026 | 07:11 WIB

Kebiasaan Sarapan yang Keliru Bisa Picu Masalah Kesehatan

Sabtu, 24 Okt 2026 | 06:37 WIB
Selanjutnya

Sumbar Alami Inflasi 3,92 Persen pada Januari 2026, Tekanan Harga Masih Terkendali

Tinggalkan komentar

Informasi

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Kategori

  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara

Networks

  • 🌎 KlikPositif
  • 🌎 KataSumbar
  • 🌎 Classy FM
  • 🌎 Classy Production
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

© 2022 Klikpositif - Media Generasi Positif by Classy Corp.

Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara