KLIKPOSITIF – Perkembangan harga barang dan jasa di Provinsi Sumatera Barat pada Januari 2026 menunjukkan dinamika yang relatif terkendali. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 3,92 persen, sementara secara bulanan (month-to-month/m-to-m) dan tahun kalender (year-to-date/y-to-d) justru terjadi deflasi sebesar 1,15 persen.
Kondisi ini menandakan, meskipun secara tahunan harga-harga mengalami kenaikan, tekanan harga pada awal tahun masih dapat dikendalikan. Deflasi bulanan menunjukkan adanya penurunan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran dibandingkan Desember 2025.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan tertinggi terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mencatat inflasi sebesar 1,52 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mengalami inflasi sebesar 0,77 persen, disusul kelompok pendidikan sebesar 0,27 persen dan perawatan pribadi serta jasa lainnya sebesar 0,90 persen.
Di sisi lain, beberapa kelompok pengeluaran tercatat relatif stabil bahkan mengalami penurunan harga, seperti kelompok transportasi yang mengalami deflasi sebesar 0,01 persen, serta kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya yang juga mencatat deflasi tipis.
Dilansir dari laman BPS, secara tren, inflasi tahunan Sumatera Barat menunjukkan pergerakan yang fluktuatif sepanjang Januari 2025 hingga Januari 2026. Inflasi sempat mencapai puncaknya pada Desember 2025 sebesar 5,15 persen, sebelum kembali melandai menjadi 3,92 persen pada Januari 2026.
Sementara itu, secara spasial, tingkat inflasi tertinggi di Sumatera Barat pada Januari 2026 terjadi di Kabupaten Pasaman Barat dengan inflasi 4,29 persen dan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 133,05. Sebaliknya, inflasi terendah tercatat di Kabupaten Kepulauan Mentawai sebesar 3,35 persen dengan IHK 116,88.
Untuk wilayah kota, Kota Bukittinggi mencatat inflasi tertinggi sebesar 4,04 persen, disusul Kota Padang dengan inflasi 3,88 persen. Meski demikian, perbedaan inflasi antardaerah masih berada dalam rentang yang wajar.
BPS Sumatera Barat menilai perkembangan ini mencerminkan kondisi ekonomi daerah yang relatif stabil, meskipun tetap memerlukan kewaspadaan terhadap potensi kenaikan harga, khususnya pada kelompok kebutuhan dasar masyarakat.






