KLIKPOSITIF – Rasa lapar merupakan respons alami tubuh ketika membutuhkan energi. Namun, jika rasa lapar terus muncul meskipun sudah makan, kondisi tersebut perlu diperhatikan. Selain berkaitan dengan pola makan, rasa lapar berlebihan juga dapat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan, kualitas tidur, stres, hingga efek samping obat-obatan.
Dalam istilah medis, rasa lapar berlebihan dikenal sebagai polifagia atau polyphagia. Kondisi ini dapat menjadi salah satu gejala gangguan kesehatan tertentu, terutama jika disertai keluhan lain, seperti penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, rasa haus berlebihan, atau sering buang air kecil.
Berikut enam faktor yang dapat menyebabkan seseorang merasa lapar terus-menerus.
1. Diabetes
Diabetes merupakan salah satu kondisi yang dapat menyebabkan peningkatan rasa lapar. Pada penderita diabetes, gangguan produksi atau kerja hormon insulin membuat glukosa dalam darah sulit masuk ke sel tubuh secara optimal untuk digunakan sebagai energi.
Akibatnya, tubuh dapat mengalami kekurangan energi pada tingkat sel meskipun kadar gula darah tinggi. Kondisi tersebut dapat memicu rasa lapar yang berlebihan.
Pada diabetes tipe 1, peningkatan nafsu makan bahkan dapat disertai penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan.
Gejala lain yang perlu diwaspadai meliputi rasa haus berlebihan, sering buang air kecil, pandangan kabur, mudah lelah, luka yang sulit sembuh, serta kesemutan atau nyeri pada tangan dan kaki.
Jika rasa lapar berlebihan disertai gejala tersebut, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat gangguan kadar gula darah.
2. Kadar Gula Darah Terlalu Rendah
Kondisi ketika kadar gula darah turun di bawah batas normal disebut hipoglikemia. Keadaan ini sering menjadi perhatian pada penderita diabetes yang menggunakan insulin atau obat penurun gula darah tertentu. Namun, hipoglikemia juga dapat terjadi akibat kondisi medis lainnya.
Ketika kadar glukosa menurun, tubuh dapat memberikan sinyal berupa rasa lapar, gemetar, berkeringat, kulit pucat, kecemasan, serta jantung berdebar.
Pada kondisi yang berat, hipoglikemia dapat mengganggu fungsi otak sehingga seseorang mengalami kebingungan, kesulitan berbicara, gangguan koordinasi, hingga kehilangan kesadaran.
Hipoglikemia berat memerlukan penanganan segera. Jika seseorang mengalami penurunan kesadaran, jangan memberikan makanan atau minuman melalui mulut karena berisiko menyebabkan tersedak.
3. Kurang Tidur
Kualitas dan durasi tidur turut memengaruhi mekanisme tubuh dalam mengatur rasa lapar dan kenyang.
Kurang tidur dapat mengganggu regulasi hormon yang berkaitan dengan nafsu makan serta meningkatkan keinginan untuk mengonsumsi makanan tinggi kalori, gula, dan lemak.
Akibatnya, seseorang yang kurang tidur mungkin merasa lebih lapar pada siang hari dan lebih sulit mengendalikan keinginan makan.
Karena itu, menjaga jadwal tidur yang teratur dan mencukupi kebutuhan istirahat menjadi bagian penting dalam mendukung pola makan sehat.
4. Stres Berkepanjangan
Stres dan kecemasan juga dapat memengaruhi kebiasaan makan. Ketika mengalami tekanan psikologis, tubuh melepaskan hormon, termasuk kortisol, yang berperan dalam respons terhadap stres.
Pada sebagian orang, kondisi tersebut dapat meningkatkan nafsu makan dan mendorong keinginan mengonsumsi makanan manis atau berlemak. Kebiasaan ini sering disebut sebagai emotional eating, yaitu makan sebagai respons terhadap emosi, bukan semata-mata karena kebutuhan energi.
Stres berkepanjangan juga dapat disertai kelelahan, sakit kepala, gangguan tidur, masalah pencernaan, dan perubahan suasana hati.
Mengelola stres melalui aktivitas fisik, istirahat cukup, relaksasi, serta dukungan sosial dapat membantu menjaga keseimbangan kesehatan fisik dan mental.
5. Pola Makan Kurang Seimbang
Jenis makanan yang dikonsumsi turut menentukan berapa lama rasa kenyang dapat bertahan setelah makan.
Makanan yang mengandung protein, serat, dan lemak tak jenuh dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama. Sumber protein antara lain ikan, telur, daging tanpa lemak, dan produk susu. Sementara itu, serat dapat diperoleh dari buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, serta biji-bijian utuh.
Sebaliknya, makanan yang didominasi tepung olahan dan gula tambahan, seperti roti putih, kue manis, serta sejumlah makanan cepat saji, dapat membuat seseorang lebih cepat lapar kembali, terutama jika dikonsumsi tanpa kombinasi nutrisi yang memadai.
Selain memperhatikan komposisi makanan, kebiasaan makan terburu-buru juga perlu dihindari. Makan secara perlahan dan memperhatikan makanan yang dikonsumsi dapat membantu seseorang mengenali sinyal kenyang dengan lebih baik.
6. Efek Samping Obat-obatan
Rasa lapar yang meningkat juga dapat menjadi efek samping dari obat tertentu. Beberapa jenis obat yang berpotensi memengaruhi nafsu makan meliputi antihistamin tertentu, antidepresan golongan SSRI, kortikosteroid, obat diabetes tertentu, dan obat antipsikotik.
Efeknya dapat berbeda pada setiap orang, bergantung pada jenis obat, dosis, dan kondisi kesehatan masing-masing.
Jika nafsu makan meningkat atau berat badan bertambah setelah mulai mengonsumsi obat, konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter. Dokter dapat mengevaluasi kemungkinan efek samping dan mempertimbangkan alternatif pengobatan yang sesuai.
Pasien tidak dianjurkan menghentikan atau mengubah dosis obat tanpa arahan tenaga medis.
Kapan Harus Memeriksakan Diri?
Rasa lapar yang muncul beberapa jam setelah makan umumnya merupakan hal yang normal. Namun, rasa lapar berlebihan yang berlangsung terus-menerus, tidak membaik meskipun pola makan sudah diperbaiki, atau disertai perubahan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebaiknya diperiksakan ke dokter.
Perhatian khusus diperlukan jika keluhan disertai rasa haus berlebihan, sering buang air kecil, tubuh sangat lemas, atau gejala lain yang mengarah pada gangguan gula darah.
Pada dasarnya, rasa lapar tidak selalu menandakan adanya penyakit. Akan tetapi, mengenali perubahan pola makan dan memahami gejala yang menyertainya dapat membantu seseorang mengambil langkah yang tepat untuk menjaga kesehatan.







