PADANG,KLIKPOSITIF – Aziar (53) pemilik usaha camilan dan kuliner Zet dan Chici merintis usahanya dari jenjang paling bawah. Saat menjadi mahasiswi perantauan di Universitas Ekasakti (UNES) pada 1991, Aziar indekos di sebuah rumah di Jalan Veteran, Purus Kota Padang. Untuk menambah uang saku, dia membantu usaha pemilik rumah yang berjualan camilan.
“Saya ikut membantu ibu kost membuat dan menjual peyek kacang. Kadang dibawa ke kampus dan dititip di warung-warung. Dari situlah bisa dapat uang saku tambahan,” katanya Jumat, 8/5.
Aziar terus membuat dan berjualan peyek kacang hingga studinya di jurusan Pendidikan Dunia Usaha rampung. Setelah menamatkan pendidikan, Aziar memutuskan pulang ke kampung halamannya. Dia kemudian menjadi guru SMA di Sungai Geringging di Kabupaten Padang Pariaman. Selang beberapa waktu kemudian Aziar menikah. Pekerjaan suami membuatnya harus pindah kembali merantau ke Kota Padang.
“Saya ikut suami bekerja di Padang. Setelah anak pertama kami lahir saya memutuskan untuk memulai usaha. Pengalaman di masa kuliah itulah yang membuat saya yakin usaha kue dan camilan bisa menjadi pilihan,” tutur Aziar mengenang masa lalu.
Pada 1997 Aziar menjadi nasabah BRI. Dia kemudian mengajukan pinjaman modal usaha senilai Rp10 juta. Dengan modal itu, dia mengembangkan usaha, menambah ragam pilihan camilan dan kue kering. Kacang Tojin menjadi primadona yang melambungkan usaha Aziar. Seiring berjalan waktu dia terus menambah pilihan camilan produksinya tanpa kehilangan kualitas dan ciri khas rasa.
“Kita juga membuat kacang telur, kacang telur bakarak, arai pinang ori, arai pinang balado, keripik pisang, keripik maco, rakik kacang, rakik maco, stik kentang, stik ubi ungu dan beberapa jenis kue lainnya. Tapi yang memang dicari pelanggan memang kacang tojin,” katanya.
Aziar mengatakan hari ini omzet usahanya berkisar Rp 10 juta per hari. Dia dibantu oleh 6 orang pekerja yang berasal dari lingkungan di sekitar rumahnya. Saat Ramadan lalu, produksi kacang tojinnya mencapai 4 ton. Ketika ada bazar atau festival kuliner omzetnya bisa mencapai Rp 25 juta per harinya. Ia menjelaskan jika usaha yang berkembang hari ini bisa dicapai berkat bantuan banyak pihak.
“Kalau tidak ada bantuan kita tidak bisa berkembang. Pasti sulit. Modal usaha saya dibantu BRI, dari awal merintis hingga hari ini. Awalnya pinjaman Rp 10 juta kini diberikan pinjaman modal Rp 100 juta. Karena itu semua saya bisa beli rumah, membeli tanah dan membiaya kuliah anak-anak.” kata Aziar.
Aziar kini terus mengembangkan usaha camilan dan kue yang diberi nama Zet dan Chici. Toko dan dapur produksinya berada di rumah tempat Aziar dulu menjadi mahasiswi indekost. Rumah yang kini ia tempati bersama keluarga besarnya.
Branch Manager BRI Khatib Sulaiman Anang Sigit Harwanto mengatakan Ibu Aziar menjadi bukti bagaiman usaha UMKM bisa bertumbuh dan naik kelas dengan adanya kekuatan modal. Dia mengatakan BRI memang hadir untuk mendukung permodalan nasabah. Anang menyebut BRI sangat selektif dalam menentukan siapa yang membutuhkan pembiayaan modal usaha dan yang dinilai mampu untuk dikembangkan usahanya.
“Hampir seluruh nasabah Kredit Usaha Rakyat (KUR) kami pembayarannya lancar. Salah satunya ibu Zet ini. Beliau tidak pernah ada tunggakan. Itu menjadi harapan bagi masyarakat dan pelaku UMKM untuk membangun usaha mereka dengan adanya penambahan modal,” katanya.
Anang menjelaskan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI ini benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat. Terhitung hingga 7 Mei 2026, BRI cabang Khatib Sulaiman telah menyalurkan Rp 982 miliar pinjaman KUR kepada hampir 3 ribu lebih nasabah. Jumlah itu, kata dia, telah melampaui target KUR tahun 2026 senilai Rp 970 miliar.
“Kita masih akan terus menyalurkan pinjaman KUR salurkan meski target sudah tercapai selama kuota masih tersedia. Soalnya masyarakat yang datang kepada kami itu pasti menanyakan KUR. Karena memang itu yang diharapkan masyarakat. Terlebih lagi untuk pinjaman di bawah 100 juta diberikan tanpa agunan,” ujar Anang.












