KLIKPOSITIF – Normalisasi Sungai Batang Kuranji Padang yang dilakukan pemerintah di kawasan Batu Busuk Kecamatan Pauh Padang, membuat masyarakat lega. Warga selalu khawatir pascabanjir bandang pada November 2025 lalu. Setidaknya sekarang mereka bisa tenang karena normalisasi sudah dilakukan.
Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan bahwa langkah pemulihan merupakan tanggung jawab semua pihak, baik pusat maupun daerah. Sehingga penting bagi daerah untuk mengoptimalkan upaya pemulihan agar sektor-sektor terdampak bencana dapat kembali normal seutuhnya.
“Ini sudah tinggal waktu yang pendek, Oktober, November, Desember. Tidak hanya mengandalkan pemerintah pusat, daerah juga bergerak, membantu masyarakat di bidang-bidang yang terdampak,” tegasnya.
Dalam hal anggaran, pemerintah juga sudah memberikan tambahan transfer ke daerah (TKD) untuk penguatan fiskal daerah. Sehingga bisa cepat melakukan pembangunan dan pemulihan pascabencana. Total Rp10,6 triliun yang dianggarkan untuk ketiga provinsi (Sumut, Sumbar dan Aceh) untuk pemulihan wilayah yang terdampak bencana atau untuk mendukung penanganan kebutuhan mendesak lainnya.
“Jangan sampai enggak dimanfaatkan. Tujuan-tujuan kita adalah kami memperjuangkan tambahan TKD tersebut dua kali di bulan Februari dan di bulan Agustus, tujuannya adalah memperkuat kemampuan keuangan daerah sehingga daerah juga bisa bergerak paralel,” ujar Tito.
Jafrial (46), warga Batu Busuak Padang, mengatakan bahwa alur sungai pascabencana November 2025 sangat mengkhawatirkan. Selain banyak rumah warga yang juga terdampak.
“Kalau kondisi cukup memprihatinkan, rumah banyak rusak, aliran sungai ini bercabang tiga (padahal awalnya satu aliran). Di sepanjang sungai kayu besar dan batu sudah berserakan. Tidak terbayangkan, sangat parah,” ujar Jafrial, Rabu 14 Oktober 2026.
Pemerintah kemudian bergerak cepat melakukan rehabilitasi dan normalisasi sungai, serta membuat tanggul di pinggir sungai. Jafrial mengaku melihat ada belasan alat berat yang bekerja di sepanjang sungai. Alat berat memulai dari permukiman hingga ke jembatan dan bergeser ke hulu. Setelah normalisasi sungai itu, Jafrial mengaku sudah merasa aman.
“Jauh perubahannya, dulu aliran sungai ini tidak ada lagi pembatas dengan pemukiman, alirannya juga banyak cabang. Sekarang sudah kembali normal. Agak amanlah sedikit,” ujarnya.
Juniarti (48), adalah penyintas bencana di kawasan Batu Busuak Padang. Dia mengaku, setelah normalisasi ini kondisi di perkampungan menjadi lebih baik.
“Kalau untuk sementara jauh lebih baik, tapi informasinya akan ada perbaikan lanjutan ini masih tahap awal. Semoga saja sungainya kembali seperti sedia kala,” harapnya.
Sementara itu, Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Penyelenggaraan Jaringan Sumber Air Wilayah Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang, Dr. Arlendenovega Satria Negara, S.T., M.Eng mengatakan BWS Sumatera V Padang, Kementerian Pekerjaan Umum, sejak bencana November 2025 sudah melakukan banyak hal.
Menurutnya, di fase tanggap darurat sudah melakukan normalisasi sungai utama, batang Kuranji dan Air Dingin serta anak sungainya, termasuk di Guo Kuranji, anak sungai Batang Kuranji.
“Kami sedang menuju transisi Rehab Rekon yang pekan ini dimulai, terutama di area terdampak banjir. Kami lakukan pekerjaan normalisasi, pengerukan sungai kemudian pembangunan cekdam termasuk di area Batang Guo dan di aliran sungai lain,” jelasnya.
Ia mengatakan, aliran sungai baru akan dipetakan, tapi akan dinormalisasi dan dikembalikan secara alamiah sesuai aliran. “Ini sempat jebol saat pengerjaan darurat. Saat ini dalam proses pengerjaan permanen, mohon waktunya,” ujar Arlendenovega.
Saat ini status pengerjaan di Guo sudah beralih dari darurat ke tahap pembangunan permanen. Untuk Batu Busuak Pada saat banjir November lalu juga sempat terjadi sedimentasi dan penyempitan sungai yang signifikan.
“Pekerjaan fisik di Batu Busuak secara umum telah selesai, dan selanjutnya akan dilanjutkan dengan rehabilitasi serta pembangunan cekdam di bagian hulunya,” tutup Arlendenovega.
Normalisasi sungai dan rehabilitasi ini membuktikan bahwa negara hadir untuk membantu masyarakat terdampak bencana.
Normalisasi sungai merupakan bagian dari pemulihan jangka panjang pascabencana, bukan sekadar pekerjaan pengerukan darurat. Itu ditegaskan dalam Rencana Induk atau Renduk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatera. Renduk PRRP adalah dokumen kebijakan nasional yang disahkan melalui Keputusan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Nomor 25 Tahun 2026. Dokumen ini berfungsi untuk memandu pemulihan wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di Sumatera.







