PADANG, KLIKPOSITIF- Universitas Andalas (UNAND) kembali menyelenggarakan The 5th International Conference on Disaster Management (ICDM) 2026 dengan tema “Integrating Technology and Local Wisdom for Sustainable Disaster Management”.
ICDM tahun 2026 ini fokus membahas urgensi integrasi kearifan lokal ke dalam sistem kebencanaan modern. Upaya ini dilakukan untuk mendekatkan masyarakat pada mitigasi bencana sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap kewaspadaan dini.
Menurut Sekretaris Utama (Sestama) BNPB Dr. Rustian, kearifan lokal menyimpan ingatan kolektif masyarakat dan pengalaman empiris yang diwariskan dari generasi ke generasi, yang seharusnya menjadi pondasi utama dalam penyusunan strategi mitigasi bencana.
Rustian juga mendukung para akademisi agar riset ilmiah dan pengembangan teknologi diselaraskan dengan kearifan lokal, sehingga sistem kebencanaan nasional dapat memberikan manfaat nyata yang langsung dirasakan oleh masyarakat luas.
Ia juga mendorong agar dilakukannya penguatan serius pada aspek pengurangan risiko bencana di fase pra-bencana, bukan sekadar berfokus pada penanganan pasca-bencana, mengingat ancaman bencana alam kerap kali terjadi secara berulang.
Rektor UNAND Dr. Efa Yonnedi, S.E., MPPM., Akt., menyampaikan bahwa persoalan kebencanaan merupakan tantangan bersama yang membutuhkan pengetahuan dan kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, pengalaman bencana yang terjadi di Sumatera Barat, termasuk gempa bumi 2009, menjadi pembelajaran penting dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat.
Ia menuturkan bahwa perkembangan teknologi telah memberikan berbagai instrumen untuk memahami risiko bencana, mulai dari sistem peringatan dini, pemodelan kebencanaan hingga teknologi komunikasi untuk mendukung pengambilan keputusan.
“Namun, kita tidak bisa hanya mengandalkan teknologi. Disinilah proses mengintegrasikan teknologi dan kearifan lokal untuk manajemen bencana yang berkelanjutan menjadi penting. Kita perlu mempertemukan teknologi modern dengan local wisdom,” ujar rektor.
Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat yang diwakili Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Ir. Yozawardi Usama Putra, S.Hut., M.Si., IPU., menekankan pentingnya membangun kesiapsiagaan masyarakat berdasarkan ilmu pengetahuan.
“Potensi bukanlah prediksi. Kita mengetahui adanya potensi ancaman, tetapi kita tidak mengetahui secara pasti kapan suatu gempa besar akan terjadi. Karena itu, yang harus kita bangun bukanlah ketakutan, tetapi kesiapsiagaan,” ujarnya.





