KLIKPOSITIF – Sumatera Barat terkenal sebagai ladang penulis sejak zaman dahulu sampai sekarang. Karya-karya yang dihasilkan tak hanya berupa novel atau karya sastra, namun juga karya-karya soal agama atau ilmu pengetahuan.
Lalu siapa saja penulis asal Sumbar yang karyanya sudah mendunia hingga saat ini? Berikut lima nama penulis tersebut.
1. Hamka
Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah Datuk Indomo, populer dengan nama penanya Hamka (17 Februari 1908 – 24 Juli 1981) adalah seorang ulama, filsuf, dan sastrawan Indonesia.
Ia berkarier sebagai wartawan, penulis, dan pengajar. Ia sempat berkecimpung di politik melalui Masyumi sampai partai tersebut dibubarkan, menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dan aktif dalam Muhammadiyah hingga akhir hayatnya.
Universitas al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia menganugerahkannya gelar doktor kehormatan, sementara Universitas Moestopo mengukuhkan Hamka sebagai guru besar. Namanya disematkan untuk Universitas Hamka milik Muhammadiyah dan masuk dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia.
Karya Hamka dalam kepenulisan juga tak perlu diragukan lagi. Banyak karya Hamka yang mengalami cetak ulang berkali-kali dan banyak dikaji oleh peneliti Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Tulisannya telah menghiasi berbagai macam majalah dan surat kabar.
Yunan Nasution mencatat, dalam jarak waktu kurang lebih 57 tahun, Hamka melahirkan 84 judul buku. Minatnya akan bahasa banyak tertuang dalam karya-karyanya. Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dan Merantau ke Deli yang terbit di Medan melambungkan nama Hamka sebagai sastrawan. Ketiganya bermula dari cerita bersambung yang diterbitkan oleh majalah Pedoman Masyarakat. Selain itu, Hamka meninggalkan karya tulis yang menyangkut tentang sejarah, budaya, dan bidang-bidang kajian Islam.
2. Asrul Sani
Asrul Sani (10 Juni 1926 – 11 Januari 2004) adalah seorang penulis skenario, sastrawan, dan sutradara Indonesia. Asrul Sani merupakan anak bungsu dari tiga orang bersaudara. Ayahnya, Sultan Marah Sani Syair Alamsyah Yang Dipertuan Padang Nunang Rao Mapat Tunggul Mapat Cacang, merupakan kepala adat Minangkabau di daerahnya. Ibunya Nuraini binti Itam Nasution, adalah seorang keturunan Mandailing.
Di dalam dunia sastra, Asrul Sani dikenal sebagai seorang pelopor Angkatan ’45.[4] Kariernya sebagai sastrawan mulai menanjak ketika bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin menerbitkan buku kumpulan puisi yang berjudul Tiga Menguak Takdir.
Karya-karya Asrul Sani yang pernah ada yakni:
Tiga Menguak Takdir (kumpulan sajak bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin, 1950)
Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat (kumpulan cerpen, 1972)
Mantera (kumpulan sajak, 1975)
Mahkamah (drama, 1988)
Jenderal Nagabonar (skenario film, 1988)
Surat-Surat Kepercayaan (kumpulan esai, 1997)
3. Marah Roesli
Marah Roesli atau sering kali dieja Marah Rusli atau Mh. Rusli (7 Agustus 1889 – 17 Januari 1968) adalah sastrawan Indonesia angkatan Balai Pustaka. Ia dikenal melalui karyanya Siti Nurbaya (roman) yang diterbitkan pada tahun 1920 sangat banyak dibicarakan orang, bahkan sampai kini. Siti Nurbaya telah melegenda, wanita yang terpaksa kawin karena keadaan ekonomi orang tuanya, dengan lelaki yang tidak diinginkannya.
Dalam sejarah sastra Indonesia, Marah Rusli tercatat sebagai pengarang roman yang pertama dan diberi gelar oleh H.B. Jassin sebagai Bapak Roman Modern Indonesia. Sebelum muncul bentuk roman di Indonesia, bentuk prosa yang biasanya digunakan adalah hikayat.
Marah Rusli berpendidikan tinggi dan buku-buku bacaannya banyak yang berasal dari Barat yang menggambarkan kemajuan zaman. Ia kemudian melihat bahwa adat yang melingkupinya tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Hal itu melahirkan pemberontakan dalam hatinya yang dituangkannya ke dalam karyanya, Siti Nurbaya. Ia ingin melepaskan masyarakatnya dari belenggu adat yang tidak memberi kesempatan bagi yang muda untuk menyatakan pendapat atau keinginannya.
Karya-karya yang lahir dari tangan Marah Roesli yakni:
Sitti Nurbaya. Jakarta: Balai Pustaka. 1920 mendapat hadiah dari Pemerintah RI tahun 1969.
La Hami. Jakarta: Balai Pustaka. 1924.
Anak dan Kemenakan. Jakarta: Balai Pustaka. 1956.
Memang Jodoh (naskah roman dan otobiografis)
Tesna Zahera (naskah Roman)
Terjemahannya: Gadis yang Malang (novel Charles Dickens, 1922).







