KLIKPOSITIF – Pembahasan soal ekonomi akhir-akhir ini sering jadi perhatian warganet, terutama setelah Covid-19 mulai melandai. Ekonom mulai memberikan saran-saran yang baik soal keuangan, soal pertumbuhan ekonomi, dan lainnya.
Diantara ekonom yang sering memberikan saran-saran soal finansial, ada tiga ekonom asal Sumbar yang setiap postingannya soal ekonomi selalu jadi perhatian warganet. Lalu siapa saja mereka?
1. Emil Salim
Prof. H. Emil Salim, M.A., Ph.D. merupakan salah seorang ekonom asal Sumbar. Ia lahir di Langkat Sumsel, 8 Juni 1930 dari pasangan Baay Salim dan Siti Syahzinan dari Nagari Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumbar. Ia merupakan keponakan dari seorang Pahlawan Nasional Indonesia, Haji Agus Salim.
Emil merupakan salah seorang di antara sedikit tokoh Indonesia yang berperan internasional. Ia adalah tokoh lingkungan hidup internasional yang pernah menerima The Leader for the Living Planet Award dari World Wide Fund (WWF), suatu lembaga konservasi mandiri terbesar dan sangat berpengalaman di dunia.
Dalam perkembangan perekonomian Indonesia, Emil sering memberikan pandangannya. Ia juga tak segan mengkritik pemerintah jika itu dianggap merusak bangsa. Ia bahkan mengatakan bahwa selama ini ilmu bekonomi ikut merusak lingkungan, dan peranan itu harus segera diperbaiki.
Karir yang pernah dilalui Emil Salim diantaranya:
1. Guru Besar FEUI (1983)
2. Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN–1999)
3. Anggota Dewan Penasihat Pemerintah RI dan Kepala Dewan Ekonomi Nasional (2000–2004)
4. Anggota Bidang Pengembangan Ilmu Ekonomi, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia/ISEI (2006–2009)
5. Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (2007–2012)
6. Dewan Pertimbangan Presiden, Anggota Bidang Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan (2007–2010)
7. Ketua Dewan Pertimbangan Presiden, merangkap Anggota Bidang Ekonomi dan Lingkungan Hidup (2010–2014)
8. Anggota Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (2021–sekarang)
2. Rizal Ramli
Rizal Ramli lahir pada 10 Desember 1954 di Padang, Sumatra Barat. Ayahnya adalah seorang Asisten Wedana, sedangkan ibunya berprofesi sebagai guru. Ibunya meninggal dunia ketika ia masih berumur 7 tahun.
Rizal kemudian tinggal bersama neneknya di Bogor, Jawa Barat, dan menamatkan SD hingga SMA di kota hujan tersebut. Setamat SMA, ia diterima kuliah di ITB, namun karena tak punya biaya ia bekerja dulu di sebuah percetakan di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan selama 6 bulan.
Rizal juga memanfaatkan kemahirannya berbahasa Inggris untuk mencari uang dengan bekerja sebagai penerjemah buku-buku dan makalah berbahasa Inggris.
Tidak lama setelah diangkat sebagai Menko Kemaritiman dan Sumber Daya, Rizal Ramli mengeluarkan pernyataan yang mengundang kontroversi di kalangan pemerintahan dan masyarakat umum. Ia mengusulkan pembatalan rencana pembelian pesawat baru oleh Kementerian BUMN untuk maskapai penerbangan Garuda Indonesia.
Menurut Rizal pembelian pesawat baru tersebut adalah kebijakan yang tidak tepat dan memboroskan uang negara. Beberapa hari kemudian, Rizal juga mengkritik proyek pembangunan listrik 35.000 megawatt yang dianggap tidak realistis dan mengatakan bahwa rencana itu adalah proyek ambisius Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) yang tertunda.
Kritikan tersebut segera mengundang reaksi keras dari Jusuf Kalla dan beberapa pejabat negara lainnya. Kontroversi ini sempat membuat kegaduhan dalam kabinet pemerintahan Jokowi – JK.
Setelah tak lagi jadi bagian dari pemerintahan, Rizal Ramli masih sering mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro rakyat di media sosial Twitternya.
3. Muhammad Chatib Basri
Chatib Basri lahir dari pasangan perantau Minangkabau, Chairul Basri (ayah) dan Nurbaiti (ibu). Ayahnya berasal dari Rao, Pasaman, Sumatra Barat dan merupakan kakak dari sastrawan Asrul Sani. Oleh karenanya semasa kecil, Chatib lebih senang mempelajari politik, sastra, dan seni, dibandingkan ilmu ekonomi. Ia sempat beberapa kali ikut pementasan Teater Cradda di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Chatib Basri mengenyam pendidikan di Kolese Kanisius, dan menamatkan pendidikan sarjananya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1992). Setelah itu ia melanjutkan pendidikannya di Australia National University dan mendapatkan gelar Master of Economic Development pada tahun 1996. Lima tahun kemudian ia memperoleh gelar PhD Dalam bidang Ekonomi dari universitas yang sama.
Chatib Basri sering membagikan pendapatnya soal fenomena ekonomi di media sosial Instagramnya @chatibbasri. Ia menyampaikan dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti dan pahami. Selain itu, gaya penyampaiannya membuat pendengar merasa terhibur karena tulisan di baju kaus yang sangat nyentrik.






