PADANG,KLIKPOSITIF – Erick (40) pendiri Ajo Art Creative berhasil mengembangkan usaha pengolahan limbah plastik menjadi produk interior bernilai ekonomi tinggi. Lewat tangan kreatifnya sampah-sampah yang berserakan di kawasan pantai Padang, Sumatera Barat diubah menjadi berbagai benda bernilai seni. Produk olahan limbah ini telah berhasil dijual ke luar negeri.
“Pada awalnya saya memungut sampah-sampah plastik, kayu, dan berbagai benda yang berserakan di kawasan pantai. Dahulu pantai Padang itu kotor penuh sampah. Saya pungutlah, kemudian disisihkan mana yang bisa direproduksi menjadi karya seni bernilai,” katanya Jumat, 8 Mei saat ditemui di workshopnya di Khatib Sulaiman, Padang.
Erick menceritakan gagasan awal pengolahan sampah ini muncul setelah dia pulang dari rantau di Jakarta. Pria berdarah Pariaman ini, miris melihat sampah yang menggunung di pinggir pantai. Ide kreatif itu kemudian muncul dan dia mulai bergerak menyisir pantai setiap hari.
Limbah kayu, tempurung kelapa, dan batu-batu yang unik oleh Erik diolah, diukir dan dipoles untuk menjadi lampu hias dan berbagai macam aksesoris. “Saya mulai mengumpulkan limbah plastik sejak tahun 2013. Kemudian. Sekitar 2015 pantai udah bersih atas inisiatif pemerintah dan berbagai pihak. Sejak itu saya beralih ke limbah PVC paralon. Limbah jenis ini baru terurai setelah 500 tahun,” katanya.
Menurut Erick, para pengumpul sampah plastik biasa menjual limbah PVC paralon ini ke pengepul dengan harga Rp 700 per kilo. Karena nilai jual produknya yang lumayan memberikan kan untung, Erick kemudian membeli limbah PVC paralon dengan harga Rp 5.000 per kilo.
“Karena untungnya lumayan, kita juga ingin berbagi keuntungan tersebut. Harga itu juga lebih layak untuk para pengumpul dan saya jadi tidak kesulitan mendapatkan bahan baku,” tutrnya.
Erick mengkombinaskikan limbah paralon dengan limbah kaca, plastik dan material daur ulang lainnya untuk membuat lampu hias, aksesoris seperti tas, notebook dan benda menarik lainnya. Menurutnya produk ini sudah dipasarkan ke beberapa negara seperti Jepang, Singapura, Hong Kong hingga ke Brazil.
Dia mengaku telah didukung oleh banyak pihak seperti Dinas Perindustrian, Dinas Pariwisata dan juga Bank BRI. Pada 2017 usaha kreatif Erick mendapat suntikan modal KUR dari BRI senilai Rp 15 Juta. Dengan modal itu Erick bisa bergerak lebih leluasan untuk mengembangkan usahanya. Usaha Erick kian berkembang dan saat ini dia mempekerjakan 7 orang untuk mendukung produksi. Dukungan modal dari BRI masih terus berlanjut hingga hari ini.
Branch Manager BRI Khatib Sulaiman Anang Sigit Harwanto mengatakan jika BRI juga memberikan dukungan penuh untuk pelaku ekonomi kreatif. Menurutnya bisnis yang dibangun Erick merupakan suatu usaha yang unik dan autentik.
Untuk pelaku UMKM, terutama ekonomi kreatif menjadi salah satu fokus BRI mendampingi dan mendukung sepenuhnya. Bisnis usahanya yang berbeda menjadi perhatian bagi marketing kami untuk menentukan skema pinjaman modalnya akan seperti apa,” katanya.
Menurut Anang, upaya bisnis yang dibangun oleh Erick memiliki nilai keunikan yang tinggi. Selain membangun bisnis, usahanya untuk mengolah limbah juga memberi dampak yang positif bagi lingkungan di kawasan pantai. Dengan kreativitas yang dimilikinya, Erick bisa menambah nilai pada limbah-limbah yang mungkin hanya bisa dibuang atau dihargai sangat rendah di pasar.
“Kami di BRI terjun langsung untuk menemukan pelaku ekonomi kreatif dengan usaha yang memiliki potensi bisnis. Setelah ini bagaiman kami bisa membantu proses bisnisnya, termasuk membantu pada sisi permodalan. Kami juga membantu pada akses perbankan. Sehingga berdampak pada pertumbuhan ekonomi baik secara regional maupun nasional,” ujarnya.






