PADANG, KLIKPOSITIF – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang berlangsung tahun ini di Indonesia harus dilihat sebagai sebuah peluang besar bagi semua daerah, termasuk pemerintah daerah Sumatera Barat.
Pengamat Ekonomi Universitas Andalas (Unand), Prof.Dr. Syafruddin Karimi, SE,MA mengatakan, secara nasional dampak paling penting dari KTT G20 bagi Indonesia adalah pengakuan dunia untuk Indonesia bahwa kita bagian dari ekonomi besar dunia.
“Itu penting buat kita dalam mengembangkan kekuatan ekonomi melalui perdagangan dan investasi internasional. Meski dunia sedang dalam krisis akibat pandemi yang diperparah oleh perang Rusia-Ukraina, Indonesia tetap mampu melaksanakan amanah melaksanakan KTT G20 dengan integritas tinggi,” katanya melalui pesan singkat WhatsApp, Minggu pagi, 31 Juli 2022.
Ia mengatakan, Indonesia tetap mampu menjaga kepentingan nasional meski banyak negara – negara anggota ingin menarik Indonesia mendukung kepentingannya.
“Kita sudah buktikan bahwa kita mampu menjaga keutuhan G20 sebagai forum multilateral. Selanjutnya tinggal kita memperkuat ekonomi dalam negeri. Ekonomi domestik kita yang kuat makin membuka kesempatan buat kita menarik manfaatkan yang dibukakan oleh G20 pasca KTT,” jelasnya.
Jika melihat pasca KTT, tentunya ini memberi kesempatan juga kepada daerah di Indonesia mengambil peluang itu, termasuk Sumbar.
“Sumbar dengan skala ekonomi kecil yang hanya memiliki penduduk kurang dari 6 juta jiwa, mesti mampu memanfaatkan keterbukaan baik dalam perdagangan dan investasi. Kemampuan kita menikmati manfaat itu sangat tergantung bagaimana kita mengomunikasikan kebijakan ekonomi daerah kita dengan baik kepada dunia. Dunia di sini tidak berarti hanya dunia ekonomi internasional, tetapi daerah-daerah di Indonesia,” paparnya.
Syafruddin menjelaskan, Indonesia memiliki penduduk tidak kurang dari 275 juta jiwa, sementara Sumbar masih kurang dari 6 juta. Di dalam negeri sendiri, Sumbar memiliki peluang pasar yang sangat besar.
“Kita lebih paham bagaimana memenuhi selera dalam negeri antar daerah di Indonesia karena aktor-aktor ekonomi asal Sumbar juga tersebar di seluruh tanah air. Sumbar mesti mampu menghimpun kekuatan tersebut menjadi kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang dibukakan oleh kerjasama multilateral G20. Kita mesti bisa memanfaatkan kesempatan itu. Sekali lagi kebijakan untuk itu dari daerah kita mesti disusun,” terangnya.
Lalu apa celah yang bisa dimanfaatkan oleh Sumbar dalam ajang internasional ini?
Banyak peluang bisa dimanfaatkan. Sumbar produsen sawit, karet, dan kakao serta banyak komoditas lainnya yang masih dalam level primary products.
“Kita sadar kalau masih pada level primary products, nilai tambahnya masih rendah. Karena itu Sumbar mesti berupaya meningkatkan hilirisasi dari produk-produk tersebut. Ini perlu dikaitkan langsung dengan manfaat yang terbuka dari KTT G20,” jelasnya.
Menurutnya, kalau peluang yang ada dimanfaatkan untuk hilirasi produk-produk primer, manfaatnya akan terbuka untuk semua pihak.
“Investasi akan masuk, pertumbuhan ekonomi, permintaan input lokal yang akan meningkat tanpa kecuali tenaga kerja kita. Bagaimana manfaatnya ikut kita nikmati sangat tergantung pada ambisi kita yang dibuktikan dengan kebijakan yang kita lahirkan. Kalau kita tak ambisi memanfaatkannya, tentu tak akan bisa,” paparnya.
Syafruddin Karimi juga mengingatkan, hasil KTT tersebut jangan ditempatkan sebagai necessary condition buat meraih kemajuan.
“Itu hanya sebuah sufficient condition. Kita mesti menata ekonomi kita sesuai dengan kepentingan bangsa kita. Kini kita menyaksikan bahwa kedaulatan pangan dan energi benar benar menjadi kekuatan menghadapi negara lain dalam kondisi kritis. Siapa kira negara negara-negara Uni Eropa bakal kesulitan gas dan bakal kembali pakai batu bara di tengah agenda dunia tentang climate risk? Dunia pun mesti belajar bahwa sanksi- sanksi ekonomi yang dilancarkan negara-negara besar bersama sekutunya kini justru berbalik risikonya,” tuturnya.
Syafruddin berpendapat, sanksi ekonomi mungkin mudah diberlakukan untuk Iran, Irak, Libya, dan Afghanistan, tetapi tidak buat Russia.
“Kita belum bisa prediksi dampak lanjutnya terhadap stabilitas ekonomi global, terutama pada negara negara miskin yang butuh pangan dan energi impor. Harga-harga sudah naik. Banyak bank sentral negara-negara besar sudah menaikkan suku bunga kebijakan karena ketakutan dengan ancaman inflasi. Mereka lebih siap menerima resesi dan pengangguran tinggi daripada menerima ancaman inflasi. Kini bagaimana pengambil kebijakan ekonomi, kita mencermati semua itu agar dampak negatifnya tidak melumpuhkan ekonomi domestik kita,” pesannya.
Sumbar Harus Siapkan Kebijakan
Dengan kondisi yang terjadi hari ini di tengah rangkaian kegiatan KTT G20 di Indonesia, Sumbar juga harus menyiapkan kebijakan yang tepat.
“Siapkan kebijakan yang tepat untuk meningkatkan efisiensi ekonomi daerah agar menjadi daya tarik buat investasi baik dari dalam daerah sendiri maupun dari luar. Pemerintah daerah perlu selalu mengevaluasi kebijakannya agar selalu updated dan menarik buat perbaikan ekonomi,” jelasnya.
Ia berharap, dengan menjadi tuan rumah tahun ini, pelaksanaan KTT G20 di Indonesia berjalan lancar dan sukses meski di tengah risiko kegagalan. “Terbukti kebijakan luar negeri yang bebas aktif memberi kekuatan buat bangsa kita,” harapnya.






