PESSEL, KLIKPOSITIF– Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat, Asli Sa'an mengatakan, tagar pembubaran MUI merupakan gaya baru komunis memecah belah NKRI.
Menurut Asli Sa'an, pendapat pembubaran MUI merupakan tindakan yang berlebihan. Karena, jika oknumnya yang bersalah, meski oknumnya pula yang diadili. Bukan lembaganya.
“Itulah, komunis gaya baru yang sebenarnya. Komunis gaya baru yang ingin menghancurkan MUI. Kalau andaikata, ada oknum MUI, kira-kira yang salah seorang, jangan dihantam seluruhnya (lembaga MUI),” ungkap Asli Sa'an saat diwawancara KLIKPOSITIF, Selasa 23 November 2021.
Seperti diketahui, tagar 'Bubarkan MUI' ini muncul setelah Densus 88 menangkap salah seorang pengurus MUI, Zain An Najah, terkait dugaan terorisme. Ahmad Zain An Najah merupakan anggota Komisi Fatwa MUI yang kini telah dinonaktifkan.
Densus 88 Antiteror Polri menangkap,Ahmad Zain An Najah bersama dua terduga teroris lainnya di beberapa lokasi berbeda di Bekasi, Jawa Barat pada Selasa (16/11/2021) pagi.
Dua terduga lainnya adalah Ustaz Ahmad Farid Okbah yang merupakan Ketua Umum Partai Dakwah Rakyat Indonesia (PDRI) dan Ustaz Anung Al Hamat.
Menurutnya, seiring dengan penggiringan tagar 'Bubarkan MUI' semua umat harus waspada. Sebab, katanya, penggiringan pendapat itu bukan hanya memecah umat Islam saja, namun juga NKRI. “Dan saya yakin seyakin-yakinnya, kalau MUI Dibubarkan. Ada yang berani membubarkan. Ketua MUI Pessel, berkeyakinan. Indonesia bisa jadi bubar,” terangnya.
Lanjutnya, untuk memperkokoh persatuan umat Islam, pihaknya menyerukan umat untuk selalu waspada. Waspada terhadap pemahaman yang merusak dan memecah bela umat.
“Terus waspada dan berhati-hati. Karena sekarang ini, ajaran pluralisme agama, kemudian liberalisme agama dan pluralisme agama,”
“Dan ditambah phobia yang takut akan Islam. Harus diantisipasi, supaya generasi muda tidak termasuk Islamophobia,” tutupnya.







