PADANG, KLIKPOSITIF — Ada banyak tradisi Minangkabau yang masih dilestarikan hingga sekarang, salah satunya adalah salawat dulang. Salawat dulang atau biasa disebut salawat talam masuk ke dalam sastra lisan Minangkabau yang bertema Islam.
Salawat dulang berasal dari dua kata yaitu, salawat yang berarti doa untuk nabi Muhammad SAW dan dulang (talam) berupa piring besar dari loyang atau logam yang biasa digunakan untuk makan bersama. Dalam bahasa sehari-hari, sastra lisan ini hanya disebut ‘salawat’ ataupun ‘salawek’ saja.
Dosen Sastra Minangkabau Universitas Andalas, Eka Meigalia menjelaskan, salawat dulang bisa berisi cerita kehidupan nabi Muhammad, cerita yang memuji nabi atau cerita yang berhubungan dengan persoalan agama Islam dengan diiringi irama bunyi ketukan jari pada dulang.
Salawat dulang ini biasanya dipertunjukkan oleh minimal dua kelompok karena teksnya mengandung tanya jawab dan dilakukan dalam rangka memperingati hari-hari besar agama Islam dan ‘alek nagari’. “Biasa dilaksanakan di mesjid atau surau dan dimulai selepas shalat isya,” jelasnya pada KLIKPOSITIF saat ditemui di Minangkabau Corner.
Artinya, pertunjukan sastra lisan ini juga merupakan sebuah kompetisi. Penampilan satu teks disebut ‘salabuahan’ atau ‘satanggak’ ataupun ‘satunggak’ ini memakan waktu 40 menit sampai 1 jam. Sifat pertunjukan yang bertanya jawab, saling serang dan saling berusaha mempertahankan diri.
Dalam pertunjukannya, kedua kelompok salawat duduk bersisisian dan menabuh talam secara bersamaan. Keduanya berdendang secara bersamaan atau saling menyambung larik-larik yang berbentuk syair. Teks salabuahan terdiri dari pambukaan, batang dan panutuik.
Bagian batang berisi kaji, yaitu bagian inti yang berupa tafsiran dari ayat Al-quran atau pun Hadist. Bagian berikutnya adalah bagian penutup yang dimulai dengan pertanyaan, lalu menjawab pertanyaan. Bagian penutup ini juga dapat disisipi dengan pesan-pesan pemerintah, seperti keluarga berencana, bahkan pemilihan umum atau sekedar hiburan dengan syair populer.
“Saat ini fungsi tradisi lisan ini tidak hanya dakwah saja, namun juga sebagai sarana hiburan serta sarana menarik perhatian penonton untuk mengikuti suatu aktivitas, seperti penggalangan dana. Tradisi salawat dulang ini telah diusulkan sebagai warisan budaya tak benda,” katanya.
Menurut Eka, ada dua versi berkembangnya salawat dulang di Minangkabau. Versi pertama berawal dari banyaknya ahli agama Islam Minang yang belajar ke Aceh, diantaranya adalah Syeh Burhanuddin. Ia kemudian kembali ke Minangkabau dan menetap di Pariaman.
Saat berdakwah, beliau teringat pada kesenian Aceh yang fungsinya adalah menghibur sekaligus menyampaikan dakwah, yaitu tim rebana. Beliau kemudian mengambil talam atau dulang yang biasa digunakan untuk makan dan menabuhnya sambil mendendangkan syair-syair dakwah.
Sementara, versi yang kedua adalah salawat dulang berasal dari Tanah Datar oleh kelompok Tarekat Syatariah sebagai salah satu cara untuk mendiskusikan pelajaran yang mereka terima. Oleh karena itu, teks salawat dulang itu lebih cenderung berisi ajaran tasawuf.
Tradisi ini berkembang di hampir seluruh wilayah Minangkabau, seperti Luhak Agam, Tanah Datar, Lima Puluh Koto. Satu-satunya daerah yang tidak ada penutur salawat dulang adalah di Pasaman. “Masing-masing daerah mengklaim kalau tradisi ini adalah tradisi mereka,” katanya.
[Satria Putra]






