MENTAWAI,KLIKPOSITIF – Yuli Hartati (46) pemilik rumah makan Rifa Uncu di Tua Pejat Sipora, Kabupaten Kepulauan Mentawai mengatakan transaksi pembayaran menggunakan QRIS cukup membantu usahanya berkembang. Layanan pembayaran non tunai tersebut bagi pelanggan yang mengunjungi rumah makannya dianggap sebagai bentuk pelayanan juga. Menurut Yuli, pembayaran melalui QRIS menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung yang datang ke Mentawai.
“Untuk para turis dari luar daerah atau luar negeri, bisa membayar makanan mereka dengan cara QRIS akan sangat membantu. Tanpa perlu harus membawa uang tunai dalam jumlah banyak. Mereka jadi bisa menggunakan uang tunai untuk keperluan pembayaran yang lain,” kata Yuli, saat diwawancara Jumat 29/5.
Di atas meja kasir Yuli menyediakan barcode QRIS Bank BRI. Setelah selesai makan dan menghitung total tagihan, para pengunjung tinggal melakukan scan barcode lalu melakukan pembayara. Kemudahan seperti itu, menurut Yuli, tidak banyak bisa ditemukan di Tua Pejat. Artinya belum semua warung atau rumah makan menyediakan metode pembayaran non tunai.
“Pembayaran pakai QRIS juga sangat cepat. Laporannya uang masuknya juga bisa diperiksa. Pengunjung yang datang dari luar kota pasti bertanya apakah bisa pakai QRIS atau transfer. Apalagi jika pengunjung yang membawa keluarga besar. Mereka lebih senang jika bisa membayar lewat QRIS,” ujarnya.
Namun Yulis mengaku juga sempat merasa takut dengan maraknya kasus penipuan pembayaran dengan metode QRIS. Dia mengatakan kasus serupa pernah terjadi di Tua Pejat. Di mana pelanggan yang melakukan pembayaran memanipulasi bukti transfer QRIS sehingga seolah-olah sudah melakukan pembayaran.
“Penipuan seperti itu pernah terjadi juga di sini. Tapi pelakunya sudah ditahan oleh polisi. Sukurnya kita belum pernah kena, dan semoga saja tidak pernah kena penipuan seperti itu,” katanya.

Yuli mengaku bersyukur karena rumah makan Rifa Uncu selalu ramai pembeli. Pengunjung yang datang berasal dari berbagai latar belakang. Dia mengatakan omzet yang dihasilkan rata-rata mencapai Rp 3 juta lebih setiap harinya. Untuk membantu operasional setiap hari, dia memperkerjaakan emapat orang warga lokal yang sudah menerima gaji tetap bulanan. Yuli bahkan mengajukan pinjaman usaha Bank BRI untuk mengembangkan usahanya.
David (38) warga negara Amerika Serikat mengatakan warung-warung dengan pembayaran non tunai di Mentawai cukup membantu bagi pelancong. Dia mengaku tidak perlu repot membawa uang tunai untuk kebutuhan makanan harian. Menurutnya dengan adanya teknologi yang memudahkan bisa menjadi daya tarik bagi turis internasional.
“Makanannya enak dan ikan-ikan segar. Saya tadi makan rendang. Pengalaman yang menyenangkan. Dan pembayaran tanpa tunai itu membantu sekali,” ujarnya.






