PADANG PANJANG, KLIKPOSITIF – Seratus tahun telah berlalu sejak gempa bumi dahsyat mengguncang Padang Panjang pada 28 Juni 1926. Tragedi yang merenggut ratusan nyawa dan meluluhlantakkan ribuan bangunan itu kini dikenang bukan sekadar sebagai catatan sejarah, tetapi sebagai pengingat penting bahwa kesiapsiagaan adalah kunci menyelamatkan kehidupan.
Semangat tersebut menjadi ruh dalam Seminar Internasional Refleksi Satu Abad Gempa Padang Panjang 1926 bertema “Padang Panjang Kota Siaga Bencana”, yang menghadirkan berbagai pakar kebencanaan untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun budaya mitigasi bencana di Indonesia, khususnya di Sumatera Barat.
Dalam pemaparannya, Dr. Suaidi Ahadi, MT dari BMKG menegaskan bahwa Sumatera Barat merupakan salah satu wilayah dengan tingkat aktivitas kegempaan tertinggi di Indonesia. Kondisi ini disebabkan letaknya yang berada di antara dua sumber gempa utama, yaitu Zona Megathrust Mentawai di lepas pantai barat Sumatra dan Sesar Sumatra (Semangko) yang membentang dari utara hingga selatan Pulau Sumatra.
“Gempa bumi adalah bagian dari dinamika alam yang tidak bisa dihindari. Yang dapat kita lakukan adalah mempersiapkan diri agar dampaknya dapat diminimalkan,” jelasnya.
Ia mengingatkan, sejarah telah membuktikan bahwa setelah Gempa Padang Panjang 1926, Sumatera Barat kembali diguncang sejumlah gempa besar, di antaranya Gempa Padang Panjang 2007, Gempa Padang 2009, hingga Gempa Pasaman Barat 2022.
Menurut BMKG, salah satu perhatian utama saat ini adalah Segmen Megathrust Mentawai yang secara ilmiah memiliki potensi menghasilkan gempa hingga magnitudo 8,9. Namun demikian, BMKG menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara pasti kapan gempa akan terjadi.
Karena itu, masyarakat diimbau tidak mudah mempercayai isu, kabar bohong, maupun ramalan mengenai waktu terjadinya gempa bumi.
“Yang harus kita bangun bukan rasa takut, melainkan budaya kesiapsiagaan,” tegas Dr. Suaidi.
Ia menjelaskan, besarnya korban saat terjadi bencana tidak hanya dipengaruhi oleh kekuatan gempa, tetapi juga oleh tingkat kesiapan masyarakat. Bangunan yang tidak memenuhi standar tahan gempa, minimnya pemahaman mengenai jalur evakuasi, hingga rendahnya edukasi kebencanaan menjadi faktor yang memperbesar risiko korban jiwa.
Selain guncangan utama, gempa bumi juga berpotensi memicu berbagai bencana ikutan seperti tsunami, longsor, likuefaksi, runtuhan batu, hingga kebakaran. Oleh sebab itu, mitigasi harus dilakukan secara menyeluruh melalui penataan ruang yang tepat, pembangunan infrastruktur tahan bencana, sistem peringatan dini yang andal, serta peningkatan kapasitas masyarakat.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, BMKG terus memperkuat Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) dengan menambah jaringan seismograf, meningkatkan kecepatan analisis gempa, serta memperluas penyebaran informasi melalui aplikasi Info BMKG, Warning Receiver System (WRS), dan berbagai kanal media sosial resmi.
Seminar internasional ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa mitigasi bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga kebencanaan semata. Dunia pendidikan, perguruan tinggi, media massa, organisasi masyarakat, komunitas, hingga setiap keluarga memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.
Seabad setelah gempa besar mengguncang Padang Panjang, ancaman gempa memang masih tetap ada. Namun, ilmu pengetahuan, teknologi, dan pengalaman telah berkembang jauh lebih maju. Karena itu, warisan terbaik bagi generasi mendatang bukan sekadar mengenang tragedi masa lalu, melainkan menjadikan sejarah sebagai pijakan untuk membangun masa depan yang lebih aman.
Padang Panjang dinilai memiliki peluang besar menjadi contoh Kota Siaga Bencana yang mengedepankan ilmu pengetahuan, kesiapsiagaan, dan semangat gotong royong. Sebab, bencana memang tidak dapat dicegah, tetapi risikonya dapat ditekan apabila seluruh elemen masyarakat menjadikan mitigasi sebagai investasi keselamatan untuk masa depan.(Eko)






