PESSEL, KLIKPOSITIF – Selama tujuh bulan tahun 2022, Dinkes Kabupaten Pessel (Pesisir Selatan), Sumatera Barat mencatat jumlah warga terjangkit Demam Berdarah (DBD) terus terjadi.
Kepala Dinas Kesehatan Pessel, Syah rizal Antoni, mengatakan pihaknya bersama Tim Surveilans pada semua puskesmas yang ada pada daerah itu terus melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE).
PE guna mengidentifikasi lingkungan dan sanitasi akibat kasus DBD. Hingga Juli 2022, tercatat sebanyak 331 kasus dan sebanyak 1 orang meninggal dunia.
“Upaya terus kami lakukan dalam rangka mengantisipasi penularan penyakit DBD pada lingkungan masyarakat,” ungkapnya pada wartawan.
Ia mengatakan, PE identifikasi lingkungan dan sanitasi itu lakukan petugas sekitar rumah warga terkena DBD dengan jarak 100 meter samping kiri dan kanan, serta juga depan dan belakang.
“Namun yang pasti masyarakat kami minta untuk melakukan upaya 3M Plus, serta juga harus melakukan aksi bersih lingkungan sekitar rumah untuk memberantas sarang nyamuk,” terangnya.
Selain sosialisasi, petugas dari Dinas Kesehatan bersama Tim Surveilans, juga melakukan aksi bersih lingkungan bersama masyarakat pada nagari yang ada kasus DBD.
“Karena hingga saat ini sudah tercatat jumlah warga yang terkena kasus DBD sebanyak 331 orang, satu orang meninggal dunia,” jelasnya.
“Satu orang meninggal dunia ini, yakni warga Air Haji Kecamatan Linggo Sari Baganti pada bulan Mei lalu. Sebelum meninggal, pasien sempat mendapatkan perawatan di RSUD dr M Zein Painan,” ujarnya.
Sebaran Kasus DBD di Pessel
Ia menjelaskan, dari 20 Puskesmas yang tersebar di 15 kecamatan yang ada, jumlah kasus DBD tertinggi di wilayah Puskesmas Balai Selasa, yakni sebanyak 63 kasus.
Kemudian Puskesmas Air Haji, Kecamatan Linggo Sari Baganti sebanyak 52 kasus.ย
Posisi ketiganya adalah di Wilayah Puskesmas Salido, Kecamatan IV Jurai, yakni sebanyak 47 kasus.
Sedangkan Wilayah yang paling sedikit warganya terkena DBD adalah Puskesmas Asam Kumbang Kecamatan Bayang Utara, yakni hanya sebanyak 1 kasus.ย
Kemudian Puskesmas Surantih dan Puskesmas Koto Baru dengan masing-masing sebanyak 2 kasus, dan Puskesmas Barung Barung Belantai sebanyak 3 kasus pula.






