ALAHAN PANJANG,KLIKPOSITIF – Kawasan Alahan Panjang Sumatera Barat yang subur sejak lama terkenal dengan hasil pertanian yang melimpah. Tidak sedikit anak muda yang memutuskan menjadi petani meski tidak memiliki lahan sendiri untuk digarap. Husein Bartozi (28) merupakan salah satu petani muda yang mengandalkan pinjaman KUR UMKM BRI sebagai modal awal untuk memulai usahanya secara mandiri.
Husein mengatakan di tengah sempitnya lapangan pekerjaan, menjadi petani merupakan pilihan yang paling masuk akal. Namun untuk memulai usaha pertanian, membutuhkan modal yang tidak sedikit. Karena berasal dari keluarga petani, lulusan kampus UIN Imam Bonjol Padang ini mengaku yakin jika usaha tidak akan mengkhianati hasil. Dorongan ingin memulai usaha secara mandiri, membulatkan niatnya untuk mengajukan pinjaman KUR BRI.
“Pada pertengahan 2023 pengajuan pinjaman kredit modal saya disetujui sebesar Rp 30 juta. Saya gunakan untuk menyewa dua bidang sawah seluas 500 meter persegi selama tiga tahun. Saya beli bibit bawang merah. Selebihnya modal awal itu saya belikan pupuk, pestisida, dan untuk membayar pekerja,” katanya saat ditemui di ladangnya di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumbar, Minggu 14/8.
Husein mengatakan pada panen perdana di tahun pertama, harga bawang merah jatuh Rp 12.000/kilogram. Meski hasil panen melimpah hingga 600 sampai 800 kilogram namun harga yang terpuruk membuatnya cukup sulit untuk bertahan. Dalam satu tahun, kata dia, bawang bisa ditanam dan dipanen sebanyak empat kali. Pada tiga masa panen pertama ini, Husein mengaku belum bisa mengambil keuntungan. Harga bawang merah yang tak kunjung naik membuat hasil panen hanya cukup untuk menjaga biaya operasional.
“Hasil tiga kali panen pertama itu cukup untuk makan sehari-hari dan biaya-biaya pengolahan lahan. Setiap masa panen itu, selain untuk kebutuhan hidup harian, hasilnya juga saya siapkan untuk bayar angguran pinjaman KUR. Saya tidak mau ada tunggakan dan itu benar-benar saya jaga. Sepahit-pahitnya kondisi, jika ada terlambat bayar, itu hanya selisih satu atau dua hari saja dari batas waktu bayar angguran,” tuturnya.
Upaya dan keyakinan Husein menunjukkan hasil pada masa panen ketiga. Hasil panen bawangnya mencapai sekitar 1,5 ton. Harga jual bawang merah berkisar Rp 42.000 hingga Rp 45.000 per kilogram. Dengan harga itu, Husein berhasil mencatatkan untung yang cukup besar, sehingga modal awal yang dia kucurkan telah bisa dikembalikan.
“Modal awal saya habiskan sekitar Rp 35 juta berasal dari pinjaman KUR dan tabungan pribadi. Pada musim panen keempat itu saya sebenarnya sudah balik modal. Namun saya harus siapkan lagi untuk musim tanam berikutnya,” ujar Husein.
Tahun kedua menjadi musim yang pahit bagi Husein. Cuaca yang terus berubah drastis, harga pestisida dan pupuk yang melambung tinggi disambut dengan harga jual bawang yang kembali terpuruk membuat hasil pertanian semakin tak menentu. Menurut Husein sepanjang 2024 adalah cobaan terberat baginya bertahan menjadi petani. Dia mengatakan semua hasil panen hanya bisa digunakan untuk bertahan hidup sehari-hari dan merawat bawang untuk panen berikutnya.

Abdul (57) sang ayah, mengatakan sudah menawarkan untuk menjual sapi peliharaannya untuk dijadikan dana segar sebagai modal baru. Husein menolak keras gagasan itu. Hal itu menurutnya bertolak belakang dengan niat awalnya memulai usaha. Sang ayah menawarkan bantuan dengan bekerja sama mengolah lahan yang tersisa masa sewa satu tahun lagi itu.
Dia menjelaskan bersama Husein tanaman bawang diganti dengan tanaman yang lebih ramah cuaca dan bisa ditumpang sari. Mereka kemudian menanam cabe dengan harga jual yang cukup stabil yang digandeng dengan tanaman seledri atau daun bawang. Metode tumpang sari itu diterapkan sepanjang tahun dengan resiko gagal panen dan kerugian yang lebih kecil. Dengan cara itu, kata dia, hampir setiap dua bulan, ada saja hasil panen yang bisa dijual.
“Sapi yang tadinya mau dijual itu sekarang sudah jadi dua ekor,” katanya sambil tertawa.
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengungkapkan sektor pertanian menjadi penerima pembiayaan terbesar KUR UMKM. Dia mengatakan realisasi penyaluran KUR BRI sepanjang Januari hingga Mei 2026 telah mencapai Rp84,36 triliun atau setara 46,87% dari total alokasi KUR tahun 2026 sebesar Rp180 triliun.
“Dukungan pembiayaan kepada sektor pertanian penting untuk meningkatkan produktivitas petani sekaligus memperkuat fondasi ketahanan pangan nasional. Selain itu, penyaluran KUR BRI juga memiliki peran strategis dalam memperkuat ekonomi kerakyatan melalui peningkatan akses pembiayaan bagi pelaku usaha,” ujarnya dilansir dari CNN.
Dia menegaskan penyaluran KUR pada sektor-sektor produktif sejalan dengan upaya mendukung Asta Cita Pemerintah, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan, mendorong kewirausahaan, serta memperkuat pemerataan ekonomi melalui pemberdayaan UMKM. Penyaluran yang diarahkan ke sektor-sektor produktif, khususnya pertanian, diharapkan mampu meningkatkan produktivitas usaha masyarakat sekaligus memperkuat basis ekonomi daerah dan mendukung agenda ketahanan pangan nasional.







