KLIKPOSITIF — Selama ini karih atau keris barangkali lebih fasih dikenal sebagai senjata samping pembunuh bagi parewa (ahli beladiri) Minangkabau di masa lalu. Keberadaannya yang sangat sakral, membuat karih selalu digunakan dalam setiap pertempuran atau prosesi adat di Ranah Minang.
Namun sebagai senjata pamungkas, ternyata karih bukanlah jawaranya. Senjata samping yang sarat muatan mistis ini rupanya memiliki pesaing unik yang ternyata tidak begitu terkenal saat ini. Senjata itu bernama Kerambit atau menurut aksen Rang Pitalah, Kabupaten Tanah Datar , Sumatera Barat ia biasa disebut ‘Kurambiak’.
Namanya unik seunik bentuknya, namun tidak dengan daya dobrak dan perusaknya. Ya, senjata ini tercatat sebagai salah satu senjata paling berbahaya dan mematikan di dunia beladiri dan di dunia militer. Tersiar kabar, masing-masing personil US Marshal Amerika diwajibkan untuk membawa senjata rahasia ini.
Bentuknya yang berukuran kecil, serta melengkung seperti cakar harimau membuat senjata ini mampu merobek anggota tubuh lawan tanpa terdeteksi. Senjata ini memiliki lubang di tengah gagang sebagai penguat cengkraman, serta mata pisau bermata dua yang berfungsi ganda, baik sebagai pertahanan atau serangan. Senjata rahasia ini nyaris tak memiliki kelemahan untuk pertarungan jarak dekat.
Menurut Tambo Alam Minangkabau, senjata ini ‘konon’ adalah senjata asli Ranah Minang, senjata rahasia para Datuk dan para Raja. Tidak sembarangan orang boleh dan mampu memainkannya. Meskipun berukuran kecil dan mungil, ternyata dalam daftar senjata paling berbahaya, Kurambiak tercatat sebagai senjata genggam mematikan urutan kedua setelah pistol.
“Sabetan senjata Kurambiak bila mengenai tubuh lawan, dari luar memang tampak seperti luka sayatan kecil, namun pada bagian dalam tubuh bisa berakibat sangat fatal karena urat-urat putus. Jika mengenai perut, usus bisa terpotong bahkan berserakan ke luar,” terang Wisnafen (50) pembuat Kurambiak asal Jorong Sulayan Nagari Pitalah Tanah Datar .
“Keistimewaan bentuknya menyifati dan menyerupai kuku Harimau yang sewaktu-waktu bisa keluar dan mengoyak tubuh lawan, membuat Kurambiak menjadi andalan utama para Pandeka Silek Minangkabau,” sambung Wisnafen, sambil mengungkapkan filosofi Harimau sebagai perlambang ksatria atau Panglima Perang.
Wisnafen sendiri telah menggeluti usaha pembuatan Kurambiak ini sejak tahun 80an. Berawal dari ketertarikannya terhadap benda pusaka milik orang tuanya (kurambiak), ia tertarik membuat replika senjata itu sebagai kenangan. Namun ternyata dikemudian hari justru menjadi profesi.
“Ya, itulah hidup siapa yang bisa menerka,” ujarnya yang saat ini hanya membuat kurambiak sebagai pajangan atau alat peraga saja.
“Kurambiak itu, aslinya dulu kan sebagai alat pembunuh sarat nuansa mistik, sehingga sangat berbahaya dan tidak boleh dipakai sembarang orang,” lanjut Wisnafen sambil menjelaskan alasannya membuat senjata ini tidak lain sebagai bentuk upaya melestarikan budaya bahwa Minangkabau pernah jaya dahulu kala.
[Yansen]
Penulis: Iwan R






