BUKITTINGGI, KLIKPOSITIF — Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, bagi umat Islam, bulan ini dijadikan sebagai momentum untuk memperbaiki diri, dan bisa kembali fitri (bersih) di pengujungnya.
Bagi sebagian orang, Ramadan dijalani dengan berbagai macam cara. Bisa jadi tetap melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasanya, bisa pula hanya berdiam diri sambil berzikir di tempat ibadah.
Namun kali ini yang menjadi sorotan bukanlah bagaimana menjalani aktifitas sehari-hari sambil menahan lapar dan haus sejak terbit hingga terbenamnya matahari. Tapi, aktifitas yang jarang dilakukan oleh banyak orang, namun punya nilai keagamaan yang tinggi.
Tradisi Suluk. Tradisi ini bisa dijumpai di berbagai kawasan di Sumatera Barat. Suluk merupakan kegiatan mengasingkan diri dari kegiatan duniawi dan menggantinya dengan berzikir di tempat ibadah seperti Masjid dan Musala.
Suluk biasa dilakukan oleh umat Islam tarekat Naqsabandiyah. Secara bahasa, istilah Suluk sendiri sama dengan Itikaf-dalam bahasa Arab. Itikaf adalah kegiatan berdiam diri di tempat ibadah dan bisa dilakukan kapan saja.
Khusus Suluk, kegiatan ini biasa dilakukan di bulan Ramadan, meskipun sebenarnya bisa dilakukan di bulan-bulan lain.
Aktifitas Suluk dilakukan dalam kurun waktu mulai 10 hingga 40 hari. Seperti yang ditemui di Kota Bukittinggi. Aktifitas Suluk sendiri bisa ditemui di Surau Tarbiyah, Tangah Sawah.
Selama melakukan Suluk di Surau Tarbiyah ini, sebanyak 95 jamaah yang didominasi oleh perempuan tersebut berdiam diri di dalam sebuah kelambu-menyerupai kamar-berukuran 2×1 meter yang terkumpul dalam satu ruangan Masjid.
Saat berzikir, kepala jamaah akan ditutupi dengan penutup kepala yang menyerupai kain penutup kepala pria di tanah suci. “Zikir dilakukan sepanjang hari, mulai dari siang hingga malam,” kata pimpinan Tarekat Surau Tarbiyah Azwar Dt Bagindo.
Suluk, katanya, mulai dilakukan 10 hari jelang Ramadan, dan akan berhenti usai ibadah salat Idul Fitri nanti. Saat melakukan kegiatan tersebut, jamaah hanya akan berhenti berzikir ketika tidur saja.
“Amalan tetap kita lakukan, kita tak pulang dan hanya berhenti berzikir saat tertidur,” sebut Azwar.
Meskipun berkumpul dalam satu ruangan, sesama jamaah tampak kurang berinteraksi, bahkan untuk santap sahur dan berbuka, pengurus Masjid mengantarkannya langsung ke dalam kelambu jamaah yang sedang melakukan kegiatan Suluk tersebut.
“Makan atau minuman saat berbuka dan sahur diantarkan ke dalam kelambu tadi. Kelambu berfungsi untuk menambah kekhusukan jamaah,” imbuh Azwar.
Di Surau Tarbiyah ini, ditempatkan di bagian kanan-kiri serta belakang ruangan Masjid, sedangkan untuk bagian tengahnya dibiarkan kosong karena akan digunakan untuk salat beribadah.
Saat di lokasi, tidak tampak aktifitas berarti dari jemaah yang sedang melakukan Suluk. Ruangan lantai 3 Masjid yang digunakan untuk kegiatan tersebut seakan sepi tidak berpenghuni. Sebab zikir yang diucapkan para jemaah tersebut disampaikan melalui metode Qalbi atau diucapkan dalam hati.
Kendati demikian, kegiatan Suluk tentu menambah khasanah bulan Ramadan yang dikolaborasikan dengan unsur kebudayaan Minangkabau.
[Hatta Rizal]





