Rabu, 09 Sep 2026 - 07:44 WIB
Klikpositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Home News

Lonjakan Harga Gabah Jauh dari Harapan, HKTI Pessel Minta Pemkab Serius Cari Solusi

Kiki Julnasri
Kamis, 7 Sep 2023 | 22:35 WIB
pola tanam organik
Share on FacebookShare on Twitter

PESSEL, KLIKPOSITIF- Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Eri Nofriadi meminta Pemkab menyiapkan upaya dalam melindungi harga gabah.

Hal itu diungkap Eri Nofriadi menanggapi, lonjakan harga beras yang belum berdampak positif terhadap kesejahteraan petani, Kamis 7 September 2023.

“Harga pupuk subsidi misalnya yang jauh di atas HET. Sementara harga gabah di tingkat petani hanya naik tipis,” terangnya.

Ia menjelaskan, terkait hal ini Pemkab mesti menyiapkan upaya terpadu melindungi harga gabah, salah satunya dengan optimalisasi lumbung pangan masyarakat.

Ia mengatakan, alokasi Cadangan Beras Pemerintah hendaknya dipasok melalui gabah lokal yang dikelola dan disimpan pada lumbung pangan.

Sehingga, langkah tersebut bisa menjaga harga gabah petani, dan tidak anjlok saat panen raya.

“Panen raya justeru petaka bagi petani, karena tata kelola pangan sepenuhnya diserahkan pada mekanisme pasar. Jadi, jika panen melimpah, otomatis harga murah. Nah, lagi-lagi yang korban petani,” jelasnya.

Baca Juga

Pengusaha Dapur MBG di Pessel Laporkan Rekan Bisnis ke Polisi, Klaim Rugi Rp1 Miliar

Selasa, 23 Jun 2026 | 12:29 WIB
Bank Nagari

Dorong Digitalisasi Keuangan, Pemkab Pessel Gandeng Bank Nagari

Senin, 4 Mei 2026 | 00:47 WIB

Sementara rangkiang atau lumbung padi merupakan lambang daerah Kabupaten Pesisir Selatan yang merupakan simbol ketahanan dan kemandirian pangan. Namun kenyataannya lumbung tidak berisi.

Alokasi anggaran penyediaan CBP hingga kini belum menjadi prioritas pembahasan dalam penyusunan APBD. Padahal pangan adalah kunci ketahanan negara.

“Tapi menjadi sebuah ironi, karena sebagian besar masyarakat miskinnya justeru petani dan rentan dengan gejolak harga komoditi produksinya sendiri. Memang, di dunia ini ada sejumlah penemu yang mati akibat temuannya,” terangnya.

Ia optimis jika pemerintah kabupaten memperbaiki tata kelola dan tata niaga pangan gejolak harga dapat dikendalikan dengan baik, mengingat Pesisir Selatan penghasil beras kedua tertinggi di Sumbar.

“Jadi, bukan soal PAD yang lebih utama. Bukan soal apa yang didapat daerah, tapi tentang bagaimana APBD mampu menjadi instrumen pengungkit kesejahteraan rakyat menuju kemandirian daerah,” tegasnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat indeks Nilai Tukar Usaha Pertanian (NUTP) untuk sub-sektor tanaman pangan periode Agustus hanya 97,11 atau terendah dari sub-sektor lainnya.

Sementara untuk sub-sektor hortikultura mencapai 106,81. Sub-sektor peternakan 113,57, sub-sektor perikanan 100,00 dan yang tinggi adalah sub-sektor tanaman perkebunan 124,35, sub-sektor.

Di Pesisir Selatan harga beras terus naik sejak Juni. Untuk varietas PB 42, anak daro dan bujang marantau dari Rp12.000 per Kilogram, kini menjadi Rp14.500 per Kilogram, naik di atas 10 persen.

Begitu juga untuk varietas beras Solok dan Cisokan Kubang (beras preslmium) yang kini sudah menyentuh Rp16.500 per Kilogram dari yang awalnya hanya Rp14.500 per Kilogram, naik sekitar tujuh persen.

Terpisah Kepala Dinas Pertanian Pesisir Selatan, Madrianto mengaku terus menyuarakan persoalan harga pupuk subsidi yang tidak sesuai HET dalam berbagai kesempatan.

Persoalan tidak disampaikan pada Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida Provinsi semata, tapi pihaknya juga sudah pernah menyampaikannya pada pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian.

“Ini sebenarnya adalah persoalan klasik yang tak kunjung usai. Meski begitu, kami dari pemerintah kabupaten akan mencari solusi,” ujarnya.

Tags: Gabah Petani Tidak Sesuai HarapanHKTI PesselPertanian PesselPessel

Berita Lainnya

Pengusaha Dapur MBG di Pessel Laporkan Rekan Bisnis ke Polisi, Klaim Rugi Rp1 Miliar

Selasa, 23 Jun 2026 | 12:29 WIB
Bank Nagari

Dorong Digitalisasi Keuangan, Pemkab Pessel Gandeng Bank Nagari

Senin, 4 Mei 2026 | 00:47 WIB

Rakor di Pesisir Selatan, Sekdaprov Sumbar Dorong Hilirisasi Produk Unggulan Daerah

Senin, 16 Mar 2026 | 23:45 WIB

Gempa 4,2 Guncang Pesisir Selatan, Getarannya Terasa Hingga Padang

Kamis, 22 Jan 2026 | 09:48 WIB
Selanjutnya

Genius Umar Opening Speech Webinar Universitas Mohammad Natsir

Tinggalkan komentar
Classy FM

Informasi

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Kategori

  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara

Networks

  • 🌎 KlikPositif
  • 🌎 KataSumbar
  • 🌎 Classy FM
  • 🌎 Classy Production
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

© 2022 Klikpositif - Media Generasi Positif by Classy Corp.

Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara