KLIKPOSITIF— Koreografer muda Reza Maulidi Akhbar mengangkat seni tradisional masyarakat Nagari Sumani, Kabupaten Solok, dalam karya tari kontemporer berjudul Radat. Karya berdurasi 25 menit itu menjadi salah satu sajian dalam Festival Ganggam Tari Kontemporer #4 Tahun 2026 yang mengusung tema “Pulang ke Akar: Membaca Tradisi, Menulis Tubuh”.
Radat berangkat dari hasil riset Reza terhadap seni bailau atau ilau, tradisi masyarakat Sumani yang keberadaannya kini semakin terancam.
Reza mengatakan, ilau memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan sosial dan adat masyarakat Sumani. Dalam praktiknya, kesenian tersebut menjadi media untuk mengungkapkan perasaan, terutama kesedihan dan kerinduan orang tua ketika anak meninggalkan rumah untuk membangun kehidupan bersama keluarga barunya.
“Saya menciptakan karya tari Radat dengan sentuhan kontemporer berbasis hasil riset saya terhadap seni Ilau di Sumani, kampung saya,” ujar Reza.
Menurutnya, pengolahan tradisi tersebut ke dalam bahasa tari kontemporer menjadi upaya untuk membaca kembali akar budaya sekaligus menghadirkannya dalam bentuk yang dapat diterima penonton masa kini.
Dalam pementasannya, Reza juga memilih pendekatan tubuh sebagai medium utama penyampaian pesan. Lima penari tidak menggunakan dialog maupun kata-kata, tetapi mengandalkan gerak untuk membangun cerita dan menyampaikan emosi kepada penonton.
Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Festival Ganggam Tari Kontemporer #4 yang mendorong koreografer untuk menggali tradisi dan menerjemahkannya melalui bahasa tubuh.
Karya Radat juga diperkuat komposisi musik garapan Rofri Hendri. Musik tersebut memberikan aksentuasi emosional yang menyatu dengan alur koreografi. Sementara lima penari merepresentasikan gerak-gerak yang bersumber dari seni tradisi Minangkabau dalam komposisi tari kontemporer.
Secara etimologis, radat juga dikenal sebagai istilah yang berkaitan dengan pemimpin atau pemberi nada irama dalam bacaan selawat. Namun, dalam karya Reza, istilah tersebut ditempatkan dalam konteks pengolahan tradisi ilau masyarakat Sumani ke dalam bentuk koreografi kontemporer.
Karya tersebut sekaligus menunjukkan upaya koreografer muda untuk mempertemukan seni tradisi dengan perkembangan tari kontemporer. Meski demikian, penggalian terhadap latar sosial dan antropologis masyarakat pendukung bailau, khususnya masyarakat Nagari Sumani, masih menjadi ruang yang dapat dikembangkan lebih jauh dalam karya berikutnya.
Festival Ganggam Tari Kontemporer #4 sebelumnya resmi dibuka di Taman Budaya Sumatera Barat. Festival tahun ini menghadirkan sejumlah karya koreografer muda dengan pendekatan berbeda dalam membaca tradisi Minangkabau melalui bahasa tari kontemporer.
Melalui rangkaian pertunjukan tersebut, tradisi tidak hanya ditempatkan sebagai bentuk kesenian yang diwariskan, tetapi juga menjadi sumber gagasan untuk menciptakan karya baru dan membaca kembali perubahan kehidupan masyarakat pendukungnya.







