DHARMASRAYA, KLIKPOSITIF – Saat ini tercatat luas lahan perkebunan karet sekitar 21 ribu hektar, sebelumnya atau beberapa tahun yang lalu luas areal perkebunan karet tersebut sekitar 41 ribu hektar, namun dari tahun ke tahun terus mengalami pengurangan, sehingga luas areal perkebunan karet tersebut tinggal sekitar 21 ribu hektar, sementara jumlah petani karet sekitar 26 ribu Kepala Keluarga dengan produksi sekitar 25 ribu ton per tahun.
Salah satu penyebab terus berkurangnya lahan karet itu karena petani karet alih fungsi lahan je kelapa sawit. Hal itu di karenakan petani merasa kehidupan dari kelapa sawit lebih menjanjikan dibandingkan dengan hasil dari karet artinya harga sawit lebih tinggi ketimbang harga karet. Di samping itu untuk tenaga motong karet atau men deres karet itu juga payah mencarinya. Hal. Itu di karenakan upah menderes tanaman karet lebih rentan karet juga relatif murah. Sehingga para tenaga kerja lebih suka mencari pekerjaan lain seperti kerja bangunan atau yang lain.
Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pertanian Darisman. Kendala yang lain adalah Salah satu upaya yang di lakukan agar harga karet bisa tinggi adalah dengan meningkatkan kualitas karet itu sendiri. Jika kualitas bagus harga bisa saja berkisar Rp 20 ribu perkilogram. Cuma, ada saja petani karet yang nakal, pada saat menjual kepada agen, ada memasukan kayu, tanah atau bahkan besi yang di potong pendek-pendek ke dalam bongkahan karet tersebut dengan tujuan untuk biar lebih berat pada saat di timbang. Dan ketahuan ya pada saat pabrik mengolah karet itu.
Di samping itu kendala lain yang juga di rasakan. petani karet adalah dari sisi pemasaran, karena di Dharmasraya hanya ada satu pabrik karet, akibatnya penetapan harga karet juga tidak jelasLagian salah satu faktor yang menentukan argabkaret di pabrik adalah kualitas Beda dengan pabrik kelapa sawit (PKS) setidaknya di Dharmasraya ada delapan PKS.
“Untuk mengarahkan kembali petani karet tersebut kita memberi bantuan berupa bibit, alat sadap, pupuk, ada juga bantuan mesin sinsaw dan lainnya. Bantuan itu berasal dari Departemen. Di samping itu kita juga berkoordinasi dengan pabrik karet tersebut, agar lebih mengutamakan atau memprioritaskan pembelian karet dari petani Dharmasraya dan harga juga lebih tinggi dari petani karet luar Dharmasraya, “tegasnya.
Untuk di ketahui ucap Darisman, karet Dharmasraya termasuk karet yang berlisensi karena merupakan hasil dari Proyek Pengembangan Perkebunan kelapa sawit Rakyat Sumatera Barat (P3RSB) dan TCSDP yang merupakan bantuan dari bank dunia,tegas Darisman.
Penulis: Ivan







