Senin, 08 Jun 2026 - 02:08 WIB
Klikpositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • ๐Ÿ 
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
  • ๐Ÿ 
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • ๐Ÿ 
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Home Cerpen Kato

Kunang-Kunang Siang

Oleh: Rizqi Turama

Andika
Minggu, 7 Jun 2026 | 06:46 WIB
Ilustrasi: de passo

Ilustrasi: de passo

Share on FacebookShare on Twitter

Gagah akan selalu ingat momen pertama kali ia melihat kunang-kunang siang. Pagi menjelang siang di dangau, setelah ikut nenek membersihkan gulma di sawah, tiba-tiba ada hewan terbang mendatanginya satu per satu hingga Gagah tidak bisa menghitung jumlahnya. Gagah, anehnya, tidak merasa takut walau setiap hewan itu bertambah jumlahnya, langit pun bertambah gelap untuk kemudian benar-benar menghitam. Saat langit telah kelam, perut hewan-hewan terbang itu berpendaran dan mengertilah Gagah bahwa yang terbang mengelilinginya dan nenek adalah kunang-kunang.

Gagah tertawa senang. Terbit keinginannya untuk menangkap kunang-kunang itu, tetapi Nenek mencegah.

โ€œMereka hanya ingin berterima kasih,โ€ suara Nenek lirih seperti biasa.

โ€œUntuk apa?โ€

Nenek tidak menjawab. Gagah yang masih bocah tak ambil hirau. Begitu melihat Ayah melangkah ke arah dangau, Gagah segera berteriak-teriak girang memanggil. Namun, semakin dekat Ayah pada dangau, kunang-kunang tersebut berkurang satu demi satu hingga akhirnya menghilang sama sekali. Langit kembali terang dengan terik garang.

โ€œAda apa sampai kau berteriak seperti itu?โ€ ucap lelaki bertubuh tegap itu sambil mengambil gelas berisi air minum.

Gagah bercerita dengan berapi-api, tetapi Ayah hanya tersenyum. Respons Ayah tak seperti yang ia harapkan. Ia menoleh pada Nenek. Akan tetapi, Nenek malah menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah mata. Gagah pun paham bahwa kejadian barusan adalah rahasia antara ia dan Nenek.

Di hari berikutnya, Gagah jadi lebih semangat ikut ke sawah. Namun, sampai waktu mereka pulang dari bekerja di sawah, tak ada kunang-kunang datang. Gagah kecil bertanya dan mendapatkan jawaban dari Nenek, โ€œSepertinya kunang-kunang tahu kau terlalu semangat sampai tak ingat untuk bersenang-senang saat bekerja.โ€

Gagah mengangguk ragu. Saat itu ia belum bisa mengerti sepenuhnya ucapan Nenek, apalagi untuk melaksanakannya. Ia terus berharap dan harapannya selalu berujung pada kecewa. Seminggu penuh ia membantu Nenek, seminggu penuh pula kunang-kunang tidak berkunjung. Di hari kedelapan ia tidak mau berharap lagi. Ia sibuk bermain cabut rumput bersama Nenek. Lumpur lekat ke hampir seluruh tubuh dan ia tertawa-tawa karenanya. Suara kecipak tangannya yang membentur lumpur terdengar ritmis. Gagah makin senang. Saat ia menunduk untuk kembali mencabuti rumput kecil di sela-sela padi, ia mendapati seekor kunang-kunang terbang menghampiri.

Segera saja ia menoleh pada Nenek yang membalas dengan tersenyum. Kaki Gagah cepat melangkah ke arah dangau. Kunang-kunang semakin banyak beterbangan dan langit semakin menghitam. Kunang-kunang berkeliling dan mata gagah berbinar tak kalah terang. Kedatangan kunang-kunang siang jadi lebih sering setelah itu.

Akan tetapi, ada satu momen yang tidak ia pahami. Seminggu lebih setelah neneknya meninggal, Gagah kembali ke sawah bersama ayah. Ia disuruh duduk di dangau sembari menunggu Ayah selesai bekerja. Saat itu, ia tidak bersenang-senang sama sekali. Ada sesuatu yang menyesaki dadanya dan ia belum tahu bahwa sesak tersebut dinamakan rindu, pada Nenek. Tanpa aba-aba, seekor kunang-kunang datang satu per satu hingga langit di atas dangau diselimuti kegelapan. Di tengah kedipan cahaya kunang-kunang, Gagah melihat bayang wajah Nenek sedang tersenyum. Air mata bocah kecil itu mengalir sederas air irigasi di musim hujan. Anehnya ia merasa ada rasa lega yang ikut meluncur.

Baca Juga

Suatu Hari Murti Ingin Berfotosintesis

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:32 WIB
Ilustrasi/de passo

MENCARI KUCING

Minggu, 10 Mei 2026 | 08:56 WIB

Kunang-kunang pergi saat ayahnya usai bekerja. Gagah bersegera menghapus air mata. Ayah memeluk gagah sebagaimana ia kecil dulu dan berujar, โ€œKau sudah jadi laki-laki besar. Jangan menangis lagi cuma karena ditinggal sendirian di dangau.โ€

Saat itu ia ingin menjelaskan bahwa ia menangis bukan karena takut, tetapi tak sempat. Ayahlah telah lebih dulu melanjutkan, โ€œNanti kau harus sekolah biar jadi pintar, lalu punya banyak uang. Anakmu nanti tak perlu susah. Dan tentu kau tak perlu kerja di sawah seperti Ayah.โ€

Gagah tak begitu fokus pada ucapan lelaki berkulit sewarna tanah pematang tersebut sebab bocah itu lebih fokus menghapus sisa tangis. Sialnya, ternyata ucapan Ayah yang tidak terlalu diperhatikan Gagah adalah ucapan yang benar-benar serius. Ayah ingin Gagah menjadi sukses dan baginya sukses adalah tidak perlu berpeluh-peluh di tengah sawah dengan pendapatan yang sering kali entah. Hal tersebut disampaikan pada Gagah berkali-kali. Tentu ayah berharap pandangan itu akan tertanam, meski dengan setengah terpaksa, ke benak Gagah kecil.

Gagah diam dan menurut, dengan terus belajar, hanya agar ayah diam dan tak mengulang kalimat yang sama sebagai ceramah. Di dalam hatinya, Gagah tak mengerti mengapa ia tak boleh jadi petani padahal ayah sendiri adalah petani dan ia tak berkeberatan menjadi seperti Ayah, atau Nenek. Satu hal yang Gagah mengerti adalah bahwa pikirannya itu tidak boleh disampaikan sekarang, saat ia masih kecil, sebab nanti ia akan disirami dengan kalimat, โ€œKamu nanti akan mengerti ketika sudah dewasa.โ€

Jadilah Gagah tumbuh dengan menyemai tanya. Ia mengikuti semua instruksi Ayah tentang belajar hingga perguruan tinggi. Ayah senang melihat Gagah begitu penurut, tetapi tak tahu bahwa sang anak sedang menyimpan gelisah yang membuatnya resah. Ayah tetap menganggap Gagah adalah bocah yang akan terus berkata โ€˜iyaโ€™ pada setiap perintah, sementara Gagah tumbuh menjadi lelaki yang makin tak mengerti pada dunia. Semua ketidakmengertian itu hanya ia pendam hingga akhirnya tibalah saat untuk menyatakan perlawanan.

Momen itu muncul setelah Gagah lulus kuliah dan Ayah bersabda, โ€œKau carilah kerja di kota.โ€ Di momen itulah untuk pertama kalinya Gagah menggelengkan kepala.

Ayah terdiam sejenak mendapatkan penolakan dari anak semata wayangnya.

โ€œKenapa?โ€ ucap Ayah pada akhirnya dengan suara serak.

โ€œAku ingin bertani.โ€

Lelaki berusia lima puluh tujuh itu menarik napas panjang sebelum berujar pelan, tetap dengan suara serak, โ€œAyah menyekolahkanmu tinggi-tinggi supaya kau tidak usah jadi petani.โ€

โ€œApa salahnya jadi petani?โ€

โ€œApa gunanya kau jadi sarjana?โ€

Hening.

โ€œBeri aku kesempatan.โ€

Setelah tiga kali menarik napas panjang, Ayah berucap datar, โ€œTerserah kau saja.โ€

Gagah tahu bahwa ayahnya kesal, mungkin kecewa, tetapi kali itu Gagah menganggapnya sebagai sebuah kesempatan yang tak boleh berlalu tanpa dimanfaatkan.

Hal pertama yang ia lakukan setelah mendapat kesempatan adalah mencari lahan. Ia baru tahu bahwa sepetak demi sepetak sawah ayah telah dijual untuk membiayai kuliahnya. Ada rasa bersalah merambat ke sepenjuru dadanya, tetapi ia pangkas cepat-cepat. Ia harus fokus pada tujuan. Setelah lebih tiga hari, ia menemukan lahan yang sempurna, bukan hanya karena luasnya yang pas, melainkan juga karena itu adalah lahan tempatnya dan nenek sering bermain di masa kecil dulu.

Dengan tubuh dan tangan yang tak terbiasa, ia membutuhkan waktu lebih lama daripada yang diperkirakan untuk membersihkan lahan dan penggemburan. Selama proses itu berlangsung, ia tahu bahwa lahan-lahan di sekitar banyak yang telah ditinggal dan tak lagi digarap para pemiliknya. Sebagian pemilik lahan tersebut telah meninggal, sementara mereka tak punya anak yang juga mau jadi petani. Hampir semua petani tak ingin anaknya jadi petani: persis Ayah. Cuma segelintir orang yang tidak berpikir demikian.

Berikutnya, selama tiga bulan dua minggu Gagah benar-benar fokus pada usahanya. Ia memilih bibit, menyemai, menanam, membersihkan gulma, dan menjaga padi-padinya dengan harapan penuh. Akan tetapi, saat masa panen tiba, padinya kosong. Siang itu di dangau ia hanya termangu. Ia merenungi semua yang telah ia lakukan dan merasa tak ada yang salah. Seharusnya padi-padinya berisi.

Gagah tak sanggup membayangkan ekspresi Ayah. Mungkin kali ini Ayah akan pecah dalam murka. Gagah meringkuk di dangaunya. Pikirannya kosong. Tatapannya kosong. Padinya kosong. Masa depannya bolong. Gagah yang tampak tak gagah itu hanya duduk, mengentak-entakkan kaki ke tanah sembari menutup mata.

Lelaki berambut ikal itu benar-benar tersesat dalam pikirannya sendiri hingga ia tak menyadari bahwa matahari semakin meninggi dan Ayah telah berdiri di hadapannya. Di tangan Ayah ada beberapa bulir padi kosong dari lahan garapan Gagah. Gagah tergeragap. Ayah telah tahu. Mulutnya setengah mangap, hendak berbicara, tetapi tak ada kata yang mampir di kepala untuk kemudian dikeluarkan. Matanya nanar. Gagah menarik napas panjang dan membayangkan segala bentuk kemurkaan Ayah.

Akan tetapi, Ayah justru memeluknya. Pelukan yang Gagah ingat sering diberikan ayah ketika ia ketakutan sewaktu kecil. Ayah menepuk-nepuk punggung Gagah pelan, lalu mengeratkan lagi pelukannya. Ia membalas pelukan Ayah dan mencari rasa aman di sana. Tangisnya tumpah sebagaimana ia kecil dulu.

โ€œAku belum cukup belajar,โ€ ucap Gagah kemudian.

Ayah mengangguk, โ€œBesok akan Ayah beri tahu cara bertani yang kudapatkan dari ibuku.โ€

Hari-hari berikutnya dilewati Gagah dengan mengikuti ayahnya ke lahan garapan. Ia diberi tahu tentang karakter tanah, karakter bibit, karakter pupuk, dan cuaca, dan angin, dan lumpur, dan air, dan semua yang bisa diingat oleh ayahnya. Semua penjelasan ayahnya membuat Gagah teringat pada masa kecil dan sering kali ia menggumam kecil, โ€œIya. Dulu Nenek juga seperti ini.โ€

Ketika tiba masa tanam berikutnya, Ayah bertanya, โ€œApa kau masih mau mencoba bertani?โ€

โ€œApa tak masalah seorang sarjana jadi petani?โ€

โ€œTerserah kau saja.โ€

Gagah tahu itu kalimat yang sama, tetapi ia merasa ada yang lain kali ini.

โ€œTerima kasih, Yah.โ€

โ€œUntuk apa?โ€

Gagah belum sempat menjawab saat tiba-tiba ayahnya melihat seekor hewan terbang. Ayah sempat panik karena mengira itu lebah, tetapi saat lelaki paruh baya itu menoleh ke arah Gagah, dilihatnya sang anak sedang bermain-main dengan hewan-hewan terbang lainnya yang jumlahnya semakin banyak. Ekor-ekor itu kemudian berpendar dan dangau terasa semakin gelap.

 

Rizqi Turama adalah dosen di Universitas Sriwijaya yang saat ini sedang belajar di Universitas Gadjah Mada untuk mendalami ilmu sastra. Cerpennya dimuat di sejumlah media seperti Kompas, Jawa Pos, dan Media Indonesia. Ia aktif di Sanggar EKS dan Komunitas Kota Kata Palembang.

 

Tags: cerpencerpen kato

Berita Lainnya

Suatu Hari Murti Ingin Berfotosintesis

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:32 WIB
Ilustrasi/de passo

MENCARI KUCING

Minggu, 10 Mei 2026 | 08:56 WIB

Misteri Matinya Tentara Pusat dan Si Dukun Kampung

Minggu, 26 Apr 2026 | 08:13 WIB

Pahlawan Reich dan Manusia dari Jerman

Minggu, 12 Apr 2026 | 08:52 WIB
Selanjutnya
Jam Gadang

Meluruskan Kesalahan Fatal Jam Gadang

Tinggalkan komentar
Classy FM

Informasi

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Kategori

  • ๐Ÿ 
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara

Networks

  • ๐ŸŒŽ KlikPositif
  • ๐ŸŒŽ KataSumbar
  • ๐ŸŒŽ Classy FM
  • ๐ŸŒŽ Classy Production
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

ยฉ 2022 Klikpositif - Media Generasi Positif by Classy Corp.

Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • ๐Ÿ 
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara