AGAM,KLIKPOSITIF – Komunitas Seni Sarueh kembali akan menggelar Matakain Kultural Ekspo pada tahun 2026. Gelaran kedua ini dipusatkan di Nagari Balai Gurah, Kabupaten Agam, dan menjadi kelanjutan dari kegiatan serupa yang pertama kali diadakan pada 2024.
Ketua Panitia Matakain Kultural Ekspo II, Fandi Pratama, mengatakan kegiatan ini sengaja dirancang sebagai program berkelanjutan. “Ini merupakan kegiatan lanjutan yang kita rancang untuk bisa terus menghidupkan wawasan tentang sulaman di Balai Gurah. Ini bisa dikembangkan,” ujar Fandi, Jumat (20/2/2026).
Dia menjelaskan Matakain Kultural Ekspo II akan diisi dengan rangkaian kegiatan, yaitu lokakarya menyulam, pembuatan katalog sulaman, serta pentas seni yang melibatkan berbagai komunitas. Kegiatan ini mendapat dukungan pemerintah melalui program Dana Indonesiana.
Bagi masyarakat Minangkabau, sulaman bukan sekadar hiasan pada kain. Ia adalah bentuk pengetahuan yang tumbuh dan diwariskan di ruang-ruang perempuan, dari ibu kepada anak perempuannya, dari mamak rumah kepada kemenakan, dan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Keterampilan memilih benang, menghitung jarak tusukan, hingga menyusun motif dipelajari lewat kebiasaan sehari-hari di rumah gadang, bukan dari buku.
Dalam masyarakat yang menganut sistem kekerabatan matrilineal, perempuan memegang peran penting sebagai penjaga keberlanjutan kaum. Sulaman menjadi salah satu wujud peran itu. Kain bersulam hadir dalam pakaian adat, perlengkapan upacara, hingga barang bawaan dalam prosesi adat. Motif-motifnya banyak diambil dari alam sekitar, sejalan dengan falsafah alam takambang jadi guru, sehingga setiap helai sulaman sesungguhnya menyimpan cara pandang perempuan Minangkabau terhadap lingkungan dan kehidupannya.
Namun, pengetahuan yang diwariskan secara lisan dan melalui praktik ini rentan terputus ketika generasi muda tidak lagi bersentuhan dengannya. Karena itu, ekspo tahun ini lebih menyasar generasi muda, khususnya anak-anak Gen Z. Panitia melihat banyak anak muda di Balai Gurah yang kemungkinan belum mengetahui bahwa lingkungan tempat mereka tumbuh menyimpan pengetahuan dan tradisi sulaman.
Melalui lokakarya menyulam, peserta muda diajak tidak hanya mengenal sulaman, tetapi juga mencoba langsung prosesnya, sebagaimana dulu keterampilan ini dipelajari dengan tangan dan kebiasaan. Sementara itu, pentas seni lintas komunitas diharapkan menjadi ruang pertemuan antara tradisi sulaman dan ekspresi seni lainnya.
Rangkaian Matakain Kultural Ekspo II akan berjalan dalam tiga program utama. Program pertama adalah riset dan pembuatan katalog sulaman. Tim Komunitas Seni Sarueh akan turun langsung menemui para penyulam di Balai Gurah untuk mendata jenis-jenis sulaman, ragam motif beserta makna dan penamaannya, teknik pengerjaan, hingga bahan dan alat yang digunakan. Kisah para perajin tentang bagaimana mereka belajar menyulam dan kepada siapa keterampilan itu diwariskan juga akan direkam. Hasil riset ini kemudian disusun menjadi katalog sulaman, sebuah dokumentasi tertulis atas pengetahuan yang selama ini hidup di tangan para perempuan Balai Gurah dan nyaris tidak pernah dicatat.
Program kedua adalah lokakarya menyulam bagi anak sekolah. Kegiatan ini dirancang sebagai wadah transfer pengetahuan dari generasi lama kepada generasi baru. Para penyulam senior akan hadir sebagai pengajar, membimbing pelajar mulai dari mengenal alat dan bahan, mempraktikkan tusukan dasar, hingga menyelesaikan motif sederhana. Tidak hanya keterampilan tangan, peserta juga akan diperkenalkan pada cerita dan filosofi di balik motif yang mereka kerjakan, sehingga sulaman dipahami sebagai pengetahuan budaya, bukan sekadar kerajinan.
“Program ketiga sekaligus menjadi acara puncak adalah festival. Festival ini akan menjadi ruang perayaan seluruh rangkaian kegiatan, dengan menampilkan hasil karya peserta lokakarya, memperkenalkan katalog sulaman kepada publik, serta menghadirkan pentas seni yang melibatkan berbagai komunitas,” ujar Fandi.
Festival diharapkan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga momentum bagi masyarakat Balai Gurah untuk kembali melihat sulaman sebagai kekayaan yang patut dibanggakan dan dirawat bersama. Melalui ketiga program tersebut, Komunitas Seni Sarueh berharap pengetahuan sulaman di Balai Gurah tidak berhenti pada generasi para penyulam hari ini, tetapi terus hidup dan berkembang di tangan generasi muda.







