KLIKPOSITIF – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat mencatat inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 5,15 persen pada Desember 2025. Angka ini menunjukkan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 106,90 pada Desember 2024 menjadi 112,41 pada Desember 2025.
“Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Pasaman Barat yang mencapai 7,09 persen dengan IHK sebesar 115,17. Sementara itu, inflasi terendah tercatat di Kota Padang sebesar 4,66 persen dengan IHK 111,66. Dua daerah lain, Kabupaten Dharmasraya dan Kota Bukittinggi, masing-masing mengalami inflasi 4,77 persen dan 4,99 persen,” kata Kepala BPS Provinsi Sumatera Barat saat, Sugeng Arianto, Senin (5/1).
Ia mengatakan, inflasi tahunan dipicu oleh kenaikan harga pada 10 dari 11 kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi 9,79 persen dan andil 3,23 persen. Lonjakan harga sejumlah komoditas pangan seperti cabai merah, bawang merah, beras, dan daging ayam ras menjadi faktor dominan.
Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi di antara seluruh kelompok, yakni 16,20 persen, didorong kenaikan harga emas perhiasan serta produk perawatan pribadi. Kelompok transportasi juga mengalami inflasi cukup signifikan sebesar 3,94 persen, seiring kenaikan tarif angkutan dan harga kendaraan.
“Satu-satunya kelompok yang mengalami deflasi tahunan adalah informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,21 persen, terutama akibat penurunan harga telepon seluler,” jelasnya.
Secara bulanan (month-to-month), Sumatera Barat mengalami inflasi 1,48 persen pada Desember 2025. Komoditas yang memberi andil terbesar antara lain bawang merah, cabai rawit, beras, dan daging ayam ras. Hingga akhir tahun, inflasi year-to-date Sumatera Barat tercatat sama dengan inflasi tahunan, yakni 5,15 persen.
“Perkembangan inflasi ini perlu menjadi perhatian pemerintah daerah, terutama dalam menjaga stabilitas harga pangan dan daya beli masyarakat menjelang awal tahun 2026,” jelasnya.






